Opini

Mimpi yang Pupus di Gerbang Kampus

Bagikan di media sosialmu

Oleh: Poppy Kamelia P. B.A(Psych), S.Sos, CBPNLP, CCHS, CCLS, CTRS. (Pelatih Parenting Islam, Konselor dan Terapis Kesehatan Mental, Penulis, Pegiat Dakwah)

Wacana-edukasi.com, OPINI--Kuliah seharusnya menjadi jalan lahirnya harapan. Dari ruang-ruang kelas kampus, banyak anak muda bermimpi mengubah hidup keluarganya, mengangkat derajat orang tua, dan mengabdi untuk masyarakat. Namun hari ini, mimpi itu perlahan terasa semakin mahal untuk dijangkau. Subsidi pendidikan tinggi yang terus menyusut membuat biaya kuliah semakin tinggi. Banyak mahasiswa akhirnya terpaksa menunda mimpi, bahkan berhenti kuliah karena tak lagi sanggup membayar biaya pendidikan (Kompas.id, 25/5/2026)

Persoalan ini bukan sekadar tentang angka uang kuliah tunggal atau biaya semester yang naik setiap tahun. Di baliknya, ada ribuan mahasiswa yang diam-diam menanggung tekanan hidup. Ada orang tua yang bekerja lebih keras demi membayar UKT anaknya. Ada mahasiswa yang harus membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan agar tetap bisa bertahan di bangku pendidikan. Bahkan tidak sedikit yang akhirnya menyerah karena biaya hidup dan pendidikan semakin tidak terjangkau.

Data Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menunjukkan sekitar 289 ribu mahasiswa Indonesia putus kuliah hingga tahun 2025, dengan angka terbesar berasal dari perguruan tinggi swasta. (Detik.com, 25/5/2026) Angka ini bukan sekadar statistik pendidikan, tetapi gambaran tentang banyaknya mimpi anak muda yang terhenti di tengah jalan. Di saat sebagian orang dapat melanjutkan pendidikan tanpa hambatan, banyak mahasiswa lain harus mengubur cita-cita hanya karena lahir dari keluarga biasa.

Keadaan ini semakin berat bagi mahasiswa perguruan tinggi swasta yang pembiayaannya sangat bergantung pada uang kuliah mahasiswa. Ketika subsidi negara minim, kampus dipaksa membiayai dirinya sendiri. Akibatnya, UKT menjadi sumber pemasukan utama. Pendidikan akhirnya berjalan dengan logika bisnis. Kampus tidak lagi dipandang sebagai pusat lahirnya peradaban dan ilmu pengetahuan, tetapi perlahan berubah menjadi institusi yang harus mencari keuntungan agar tetap bertahan.

Inilah dampak liberalisasi pendidikan dalam sistem kapitalisme. Negara tidak lagi hadir sebagai penanggung jawab utama pendidikan rakyat, melainkan hanya bertindak sebagai regulator. Pendidikan diserahkan pada mekanisme pasar. Kampus dituntut mandiri secara finansial, sementara rakyat dipaksa menanggung biaya pendidikan yang semakin tinggi. Akibatnya, akses pendidikan tidak lagi benar-benar terbuka bagi semua orang.

Kapitalisme memandang pendidikan sebagai komoditas yang dapat diperjualbelikan. Selama seseorang memiliki biaya, maka ia bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Sebaliknya, mereka yang berasal dari keluarga miskin harus berjuang lebih keras hanya untuk bertahan di bangku kuliah. Padahal pendidikan bukan sekadar kebutuhan pribadi, tetapi kebutuhan penting bagi masa depan umat dan bangsa.

Akibat mahalnya biaya pendidikan, banyak mahasiswa hidup dalam tekanan mental yang berat. Mereka tidak hanya memikirkan tugas kuliah dan masa depan, tetapi juga bagaimana membayar semester berikutnya. Sebagian harus bekerja hingga larut malam, sebagian lainnya memilih cuti, dan tidak sedikit yang akhirnya benar-benar meninggalkan kampus. Di balik toga yang seharusnya menjadi simbol harapan, ada air mata orang tua dan perjuangan panjang yang sering tidak terlihat.

Persoalan pendidikan juga tidak bisa dipisahkan dari kondisi ekonomi masyarakat secara umum. Di tengah sulitnya lapangan pekerjaan, naiknya kebutuhan hidup, dan tekanan ekonomi yang terus menghimpit, biaya kuliah menjadi beban yang sangat berat bagi banyak keluarga. Tidak sedikit mahasiswa yang akhirnya memilih berhenti kuliah demi membantu ekonomi orang tua atau bekerja penuh waktu agar keluarganya tetap bisa bertahan hidup.

Padahal pendidikan tinggi memiliki peran besar dalam membangun peradaban. Dari kampus lahir tenaga ahli, ilmuwan, dokter, guru, dan berbagai profesi penting yang dibutuhkan masyarakat. Ketika akses pendidikan dipersempit oleh mahalnya biaya, maka sesungguhnya masa depan masyarakat sedang dipertaruhkan. Sebab bangsa yang kehilangan akses pendidikan akan semakin mudah tertinggal dan terjebak dalam lingkaran kemiskinan.

Islam memiliki cara pandang yang sangat berbeda terhadap pendidikan. Dalam Islam, pendidikan adalah kebutuhan dasar rakyat yang wajib dijamin negara. Pendidikan bukan barang dagangan yang boleh diperjualbelikan demi keuntungan ekonomi. Negara bertanggung jawab memastikan setiap warga negara mendapatkan pendidikan terbaik tanpa terhalang biaya.

Islam memandang pendidikan tinggi sebagai sarana membentuk generasi yang saleh sekaligus memiliki kepakaran di bidangnya. Karena itu, negara wajib memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada rakyat untuk melanjutkan pendidikan hingga tingkat tinggi secara cuma-cuma. Negara tidak boleh membiarkan rakyat putus kuliah hanya karena masalah biaya.

Dalam sistem Khilafah, pembiayaan pendidikan berasal dari baitulmal yang memiliki banyak sumber pemasukan. Negara akan membangun fasilitas pendidikan terbaik dan menjamin operasional kampus tanpa membebani mahasiswa. Dengan sistem seperti ini, pendidikan tidak bergantung pada mahalnya UKT atau pungutan yang memberatkan rakyat.

Sekolah dan kampus swasta juga tetap ada dalam sistem Islam, tetapi tidak dijalankan dengan orientasi bisnis. Pembiayaannya berasal dari wakaf sehingga masyarakat tetap dapat mengakses pendidikan secara gratis. Kurikulum pendidikan pun disusun berdasarkan aqidah Islam agar lahir generasi yang memiliki ilmu, akhlak, dan kepribadian Islam yang kuat.

Karena itu, persoalan mahalnya biaya kuliah hari ini bukan sekadar masalah teknis anggaran pendidikan. Akar masalahnya terletak pada sistem kapitalisme yang menjadikan pendidikan sebagai komoditas dan melepaskan tanggung jawab negara terhadap rakyat. Selama sistem ini tetap dipertahankan, maka pendidikan akan terus menjadi beban berat bagi masyarakat kecil.

Ketika ribuan mahasiswa harus berhenti kuliah karena biaya, sesungguhnya yang sedang dipatahkan bukan hanya mimpi pribadi mereka, tetapi juga masa depan umat. Sebab bangsa yang besar tidak lahir dari pendidikan yang mahal dan sulit dijangkau, melainkan dari sistem yang memuliakan ilmu dan membuka jalan belajar bagi seluruh rakyat tanpa memandang kaya atau miskin.

 

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 11

Comment here