Opini

Maulid: Momentum Meneladan Metode Perjuangan Nabi saw.

Bagikan di media sosialmu

Oleh: Della Damayanti

Wacana-edukasi.com, OPINI--Peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ kembali digelar secara semarak di berbagai penjuru negeri. Di Jakarta (23/8), Kementerian Agama RI, yang diwakili Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama Muchlis M. Hanafi, mengajak umat Islam untuk memanjatkan selawat secara serentak demi keselamatan dan keberkahan bangsa.

Menurut Muchlis, shalawat adalah sebagai wujud cinta terhadap Nabi ihamad saw. Ia pun berpesan agar umat meneladani akhlak Nabi saw., seperti dalam kasih sayang, persaudaraan, kepedulian, dan kecintaan kepada tanah air (sindonews.com, 23/8/2026).

Rangkaian tabligh akbar, pembacaan kitab maulid, hingga pawai obor menghiasi perayaan Maulid Nabi dari tahun ke tahun dan di setiap tempat. Akan tetapi, jika dicermati lebih dalam, sudahkan umat meneladani Nabi Muhammad saw.?

Pendangkalan Makna Ittiba’

Pembahasan mengenai ittiba’ atau meneladani Nabi ﷺ pada momentum maulid masih sangat dibatasi pada dimensi akhlak individu dan ibadah ritual saja. Narasi yang dibangun belum sampai pada kesadaran untuk merobohkan sistem jahiliah modern menuju penegakan hukum Allah Swt.

Kondisi ini membuat maulid tereduksi menjadi ekspresi kecintaan secara seremonial semata, tetapi kehilangan konsekuensi ideologis. Padahal, Islam bukan sekadar agama tetapi sebuah ideologi.

Oleh karena itu, hakikat cinta kepada Rasulullah mewajibkan setiap Muslim untuk terikat penuh pada risalah politik dan metode perjuangan yang beliau wariskan. Yang utama adalah bagaimana berjuang agar syariat Islam ditegakkan dalam seluruh aspek kehidupan, baik dalam individu, bermasyarakat, maupun dalam berbangsa dan bernegara.

Akibat dari pendangkalan makna ittiba’ atau meneladani Rasulullah saw, maka umat kehilangan kewaspadaan. Padahal ideologi yang ada saat ini sedangenggiring umat muslim pada penghambaan selain Allah Swt., dan itu berlangsung secara sistemis. Kehidupan bermasyarakat dan bernegara dipaksa tunduk pada sistem demokrasi, kapitalisme, dan liberalisme yang menuhankan hawa nafsu manusia.

Di sisi lain, tuntutan perubahan dan perbaikan dari umat sebenarnya telah bermunculan di mana-mana. Namun, sayangnya arah dan metode perubahan yang ditempuh sering kali menyimpang dari garis perjuangan yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ.

Perangkap Sistemis Kapitalisme

Tingginya antusiasme pada ibadah ritual tanpa kedalaman ideologis ini merupakan dampak dari penerapan tata kehidupan sekuler-kapitalisme. Sistem batil ini secara sengaja mengarahkan potensi kebangkitan umat agar sebatas menjadi kegiatan karitatif dan seremonial yang tidak membahayakan status quo.

Demi mempertahankan eksistensinya, oligarki kapitalisme akan terus berusaha menghalangi lahirnya kesadaran politik Islam di tengah masyarakat. Setiap seruan yang menuntut perubahan sistemis selalu dituduh radikal, atau mengancam stabilitas.

Cara pandang sekuler ini memisahkan antara kecintaan kepada Nabi ﷺ dengan kewajiban menerapkan syariat Islam secara kafah. Padahal, Rasulullah ﷺ diutus bukan hanya untuk memperbaiki moral individu, melainkan untuk memimpin sebuah peradaban yang menerapkan hukum Allah Swt.

Selama maulid hanya dimaknai sebagai peringatan ulang tahun tanpa mengambil spirit perjuangan politik Nabi saw., maka krisis peradaban dan penindasan atas umat Islam tidak akan pernah mampu diselesaikan. Oleh karena itu, mengembalikan ruh perjuangan yang sistemis, tidak akan pernah selesai jika hanya dengan solusi parsial yang bersifat tambal sulam.

Islam Memandang

Meneladani Rasulullah ﷺ secara hakiki menuntut kita untuk mengadopsi metode dakwah (thariqah) yang beliau tempuh dalam menegakkan Islam kafah di bawah naungan Khilafah. Allah SWT secara tegas mengingatkan kewajiban mengikuti Rasulullah ﷺ sebagaimana firman-Nya,

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Artinya: “Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 31)

Adapun penerapan metode perjuangan Rasulullah ﷺ untuk mengembalikan kehidupan Islam, berdiri di atas tiga pilar marhalah (tahapan) utama yaitu,

Pertama, tatsqif (pembinaan). Pada tahap ini, dakwah difokuskan untuk membina individu-individu Muslim dengan akidah dan pemikiran Islam yang lurus, guna membentuk kepribadian Islam yang kuat serta tangguh dalam mengemban risalah.

Kedua, tafa’ul ma’al ummah (interaksi dengan masyarakat). Pada tahap ini, pembina dakwah melebur ke tengah masyarakat untuk membongkar kebobrokan sistem jahiliah, membina pemikiran umum (ra’yu ‘am), serta membangun kesadaran politik Islam hingga umat siap memperjuangkan syariat.

Ketiga, istilamul hukmi (penerimaan kekuasaan). Tahap ini ditempuh melalui jalur pencarian dukungan kekuasaan (nushrah) dari pemilik kekuatan fisik, guna menyerahkan kepemimpinan secara damai untuk menerapkan syariat Islam kafah.

Melalui integrasi metode perjuangan Nabi ﷺ ini, maulid tidak lagi sekadar menjadi seremoni tahunan yang sepi makna, melainkan menjadi momentum kebangkitan nyata untuk mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Yang demikian itu sebagaimana tercantum dalam Alquran surat Al-Anbiya [21]: 107, “Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.”

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 3

Comment here