Oleh: Nurhy Niha
Wacana-edukasi.com, OPINI–Ambisi buta untuk mendirikan tanah impian “Israel Raya” telah membutakan mata dan hati entitas zionis. Mereka terus membombardir Gaza tanpa memedulikan seruan gencatan senjata, seolah nyawa manusia tidak lebih dari angka statistik. Di sisi lain, mereka sibuk membantu sekutu utamanya, Amerika Serikat, yang tengah terlibat eskalasi perang dengan Iran. Sikap kejam ini membuktikan watak mereka yang bagaikan anjing dilepaskan terjepit, setelah lepas malah menggigit. Tidak tahu berterima kasih atas kesempatan hidup yang dahulu pernah diberikan oleh penduduk Palestina, kini mereka justru bertindak beringas mencabik-cabik dan menikam pemilik tanah tersebut tanpa belas kasihan.
Dilansir data dari metrotvnews.com (05-06-2026), Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, berencana memperluas kendali militer hingga mencapai 70% wilayah Jalur Gaza. Langkah ini memicu kekhawatiran luar biasa karena militer Israel saat ini telah mencengkeram sekitar 60% wilayah dan terus menggeser batas kendali yang dikenal sebagai “garis kuning”. Sehingga ratusan ribu pengungsi terkurung di area yang sangat sempit dan padat di tengah krisis pangan, air bersih, serta layanan kesehatan yang parah. Sementara kelompok Hamas mendesak tindakan tegas dari Dewan Perdamaian atas penyusutan ruang hidup ini, data riil menunjukkan bahwa agresi yang berlangsung sejak Oktober 2023 tersebut telah merenggut hampir 73.000 nyawa warga Palestina. Tragedi ini diperparah dengan provokasi pengibaran bendera Israel di Masjid Al-Aqsa, sebuah simbol penghinaan yang menyayat hati umat Islam sedunia.
Krisis Kemanusiaan dan Geopolitik
Demi mewujudkan ambisi hegemoni tersebut, entitas zionis melakukan segala cara: menghancurkan Gaza, memperluas permukiman ilegal di Tepi Barat, hingga melakukan genosida sistematis. Karakter penjajah ini tampak jelas, seperti air di daun talas dalam hukum internasional mereka tidak pernah bisa dipegang komitmen perdamaiannya. Sejak tahun 1948 hingga 2026, perluasan wilayah ilegal zionis kian masif. Di Tepi Barat, luas wilayah yang awalnya merupakan milik otoritas dan warga Palestina kini telah terampas hingga menyisakan kurang dari 40% area yang terfragmentasi, akibat pembangunan lebih dari 150 permukiman ilegal zionis yang kini dihuni oleh sekitar 700.000 pemukim Yahudi.
Apa yang dipertontonkan hari ini adalah puncak kebiadaban, kekejaman, dan kejahatan kemanusiaan terbesar di muka bumi pada abad ini. Agresi zionis telah menghancurkan lebih dari 70% infrastruktur sipil di Gaza, termasuk rumah sakit, sekolah, dan instalasi air bersih, yang memaksa 1,9 juta warga Palestina (sekitar 85% dari total populasi Gaza) kehilangan tempat tinggal dan hidup dalam pengungsian yang tidak layak. Menghancurkan fasilitas publik dan membantai warga sipil bukanlah taktik perang, melainkan kerusakan moral yang nyata.
Amerika Serikat pun berdiri kokoh di belakang layar, menyokong penuh pendanaan dan persenjataan zionis. AS tercatat telah menggelontorkan bantuan militer tambahan sebesar puluhan miliaran dolar pasca-2023 untuk memastikan keunggulan persenjataan Israel. Ironisnya, di panggung diplomasi global, AS justru merangkul penguasa negeri-negeri muslim untuk bersekongkol menyetujui ” two state solution” atau solusi dua negara, sebuah diplomasi semu yang sebenarnya melanggengkan penjajahan di atas tanah yang tersisa.
Penderitaan di Palestina yang tanpa jeda ini sebenarnya menjadi tamparan keras bagi dunia Islam. Jika diperhatikan, aksi pembelaan yang ada sekarang terasa kurang optimal. Salah satu pemicu utamanya adalah sikap sebagian penguasa Muslim yang dinilai lebih fokus mengamankan kursi kekuasaan dan menjaga stabilitas ekonomi mereka sendiri, daripada memberikan bantuan nyata untuk menolong saudara seakidah.Hal ini diperparah oleh hilangnya persatuan umat Islam yang hari ini terkotak-kotak di bawah sekat nasionalisme sekuler.
Solusi Hakiki bagi Palestina
Keserakahan entitas zionis tidak bisa musnah hanya dengan kecaman di atas kertas atau resolusi PBB yang tak bertaring. Ambisi Israel Raya harus dilawan dengan kekuatan nyata yang sepadan, dan hal ini menuntut adanya institusi politik global yang menyatukan umat Islam di seluruh dunia, yakni Khilafah Islamiah.
Tegaknya kembali sistem Khilafah bukan sekadar pengulangan sejarah, tetapi janji Allah yang merupakan prioritas perjuangan yang wajib diupayakan. Khilafah adalah wujud persatuan hakiki yang diperintahkan oleh Allah Swt., sebagaimana firman-Nya:
“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai…” ( Ali ‘Imran : 103)
Nasionalisme terbukti mandul dan mematikan empati. Setiap negara muslim seolah dicocok hifungnya dan tak berdaya menghadapi zionis Israel dan sekutunya. Hanya Khilafah yang mampu untuk meruntuhkan tembok ego sektoral antarnegeri muslim dan mencabut akar pengkhianatan para penguasa yang tunduk pada Barat. Allah dengan tegas melarang umat Islam menjadikan kaum kafir harbi yang nyata-nyata memerangi agama sebagai teman setia, sebagaimana firman-Nya:
”Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan mereka sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu dalam urusan agama dan mengusir kamu dari kampung halamanmu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, mereka itulah orang-orang yang zalim.” (Al-Mumtahanah: 9)
Khilafah akan mempersatukan seluruh negeri-negeri muslim dalam saru naungan negara islam dan menghapus sekat-sekat nasionalisme yang selama ini memenjarakan tentara-tentara muslim di barak mereka saat saudara mereka dibantai. Khilafah akan mengakhiri kompromi dan pengkhianatan para penguasa yang tunduk pada kepentingan Barat.
Melalui kekuatan politik tunggal ini, umat Islam tidak akan lagi membiarkan saudaranya berjuang sendirian. Khilafah memegang kewajiban syar’i untuk menyatukan militer seluruh negeri muslim guna menghentikan agresi secara konkret.
Hanyalah Khalifah sebagai pemimpin tertinggi umat Islam akan menjalankan tanggung jawab syar’inya memobilisasi pasukan militer lintas negara untuk membebaskan tanah Palestina secara total, mengembalikan kesucian Masjid Al-Aqsa, dan menghentikan kezaliman entitas zionis untuk selama-lamanya.
Views: 5


Comment here