Opini

Ruang Kelas yang Kosong, Alarm bagi Masa Depan Generasi

Bagikan di media sosialmu

Oleh: Pri Afifah (co.founder literasiyun.id)

wacana-edukasi.com, OPINI–Ada satu pertanyaan yang diam-diam sedang dijawab oleh banyak orang tua hari ini. “Di mana tempat paling aman untuk menitipkan anak-anak kami?” Jawabannya ternyata tidak selalu sekolah yang gedungnya megah. Tidak selalu yang memiliki halaman luas atau laboratorium lengkap. Bahkan, tidak selalu sekolah negeri yang dulu menjadi kebanggaan masyarakat.

Buktinya, di berbagai daerah, sejumlah SD negeri sepi peminat. Ada yang hanya memperoleh beberapa murid baru. Ada pula yang sama sekali tidak mendapatkan siswa. Ruang-ruang kelas yang dulu riuh oleh suara anak-anak dan antrian para orang tua yang mengantar kini perlahan menjadi sepi (Kompas.com 17/07/2026).

Pemerintah mencoba mencari jalan keluar. Sekolah-sekolah yang kekurangan murid ini melalui kebijakan regrouping atau penggabungan sekolah untuk efisiensi anggaran, langkah tersebut mungkin dapat dipahami. Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu. Anak-anak harus menempuh perjalanan lebih jauh. Orang tua harus mengeluarkan tenaga dan biaya lebih banyak.

Tetapi, benarkah persoalannya hanya soal jumlah murid? Barangkali tidak. Ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang terjadi di tengah masyarakat. Hari ini, banyak orang tua rela mengeluarkan biaya lebih mahal agar anaknya bisa belajar di sekolah yang mengajarkan Al-Qur’an, membiasakan shalat berjamaah, menjaga adab, dan membentuk akhlak. Mereka tidak sedang mengejar gengsi. Mereka sedang mencari arah pendidikan yang lebih baik.

Sebab setiap hari para orang tua menyaksikan berita yang membuat hati ciut. Tentang anak-anak yang menjadi pelaku perundungan. Tentang pelajar yang membawa senjata tajam. Tentang narkoba yang menyusup ke usia sekolah. Tentang kekerasan seksual, tawuran, hingga berbagai bentuk penyimpangan yang dahulu terasa begitu jauh dari dunia anak-anak.

Maka, yang ditakutkan orang tua hari ini bukan lagi sekadar nilai matematika yang rendah atau nilai Bahasa Indonesia yang kecil. Yang mereka takutkan adalah kehilangan jatidirinya sebagai seorang muslim, yang itu bjauh lebih menyakitkan.

Namun, jika kita jujur, persoalan ini tidak akan selesai hanya dengan memindahkan anak dari satu sekolah ke sekolah lain. Karena kerusakan itu tidak lahir dari satu gedung sekolah. Ia lahir dari sebuah sistem yang membentuk cara manusia memandang hidup. Asas apa yang dipakai untuk menyelesaikan persoalan mendasar manusia.

Islam menjelaskan bahwa rusaknya masyarakat bukanlah sekadar akibat perilaku individu saja, melainkan buah dari aturan yang diterapkan. Saat ini sekularisme dijadikan asas kehidupan, agama dipinggirkan dari ruang publik. Pendidikan pun kehilangan ruhnya. Sekolah diarahkan untuk mencetak manusia yang pandai bekerja, tetapi tidak sungguh-sungguh dipersiapkan menjadi hamba Allah yang taat.

Akibatnya, kita sibuk mengejar kecerdasan, tetapi lupa membangun kepribadian. Kita bangga dengan angka kelulusan, tetapi tidak bertanya mengapa akhlak generasi terus menurun. Kita terus mengganti kurikulum seolah-olah semua persoalan akan selesai hanya dengan buku baru, istilah baru, atau metode baru. Padahal akar masalahnya tetap sama. Selama asas pendidikannya tidak berubah, hasilnya tidak akan jauh berbeda. Ibarat sebuah pohon yang terus mengering, kita hanya sibuk mengecat batangnya agar tampak indah. Padahal yang sakit adalah akarnya.

Islam memandang pendidikan dengan cara yang sangat berbeda. Pendidikan bukan sekadar jalan untuk mencari pekerjaan. Ia adalah proses kehidupan dan jalan membentuk manusia. Membentuk cara berpikirnya. Membentuk cara memandang kehidupan. Membentuk hubungan seorang hamba dengan Rabb-Nya.

Karena itulah, dalam Islam negara berkewajiban menyelenggarakan pendidikan yang dibangun di atas akidah Islam. Dengan kurikulum yang berasaskan akidah islam dipastikan seluruh proses pendidikan melahirkan generasi yang memiliki syakhshiyah Islamiyah (kepribadian Islam) sekaligus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Sains tidak dipisahkan dari iman. Teknologi tidak dipisahkan dari takwa. Kecerdasan tidak dipisahkan dari akhlak. Semuanya berjalan beriringan.

Mungkin itulah yang sesungguhnya sedang dirindukan para orang tua. Mereka tidak hanya ingin anaknya pintar, tetapi lebih dari itu, mereka ingin anaknya selamat. Selamat dunia, selamat akhirat. Karena bagi seorang ibu, ijazah terbaik bukanlah selembar kertas yang dibingkai di dinding. Melainkan anak yang tetap menjaga shalatnya ketika jauh dari rumah. Anak yang takut berbuat zalim meski tidak ada yang melihat. Anak yang menjadikan Allah sebagai tujuan hidupnya.

Fenomena sepinya murid di sekolah negeri semestinya menjadi alarm bagi semua pihak. Bukan sekadar untuk mengevaluasi tata kelola pendidikan, tetapi juga untuk bertanya lebih dalam, ke mana arah pendidikan kita sebenarnya?

Sudah saatnya kesadaran masyarakat naik satu tingkat. Bukan hanya mencari sekolah yang dianggap lebih aman bagi anaknya, tetapi memahami bahwa kerusakan generasi hari ini adalah persoalan sistemik. Selama sistem sekuler liberal tetap menjadi landasan kehidupan, selama itu pula kerusakan akan terus menemukan jalannya. Karena itu, dakwah politik Islam menjadi sangat penting. Dakwah bukan sekadar mengajak manusia menjadi pribadi yang saleh, tetapi juga mengajak umat menyadari bahwa syariat Islam harus menjadi rujukan dalam mengatur kehidupan. Sebab hanya dengan sistem Islamlah pendidikan akan kembali kepada tujuan hakikinya, yaitu melahirkan manusia yang beriman, berilmu, dan beradab.

Kelak ketika hari itu tiba, ruang-ruang kelas tidak hanya kembali penuh oleh anak-anak. Tetapi juga penuh oleh harapan. Harapan lahirnya generasi yang bukan sekadar cerdas, melainkan juga mampu menjaga agama, memuliakan manusia, dan membangun peradaban yang diridhai Allah Swt. yaitu peradaban Islam.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 0

Comment here