Opini

Muharram, Saatnya Memperjuangkan Islam Kafah

Bagikan di media sosialmu

Oleh: Teti Ummu Alif (Pemerhati Masalah Umat) 

wacana-edukasi.com, OPINI–Muharram datang tanpa pesta dan kembang api. Tidak seperti 1 Januari yang ramai ucapan dan resolusi duniawi. Bulan pertama kalender Hijriyah ini justru datang dengan tenang, seakan mengajak kita berhenti sejenak lalu bertanya, selama ini kita sudah jadi Muslim seperti apa? Jawabannya tidak bisa ditunda lagi. Muharram adalah momentum terbaik untuk kembali memperjuangkan Islam kafah, masuk Islam secara total, bukan sepotong-sepotong sesuai selera.

Penanggalan Hijriyah dimulai dari peristiwa Hijrah, bukan dari kelahiran Nabi, bukan dari wafatnya. Para sahabat sengaja memilih itu karena mereka paham titik balik umat ini bukan pada sosok, tapi pada keputusan besar untuk pindah dari sistem batil menuju sistem Allah. Hijrah dari Mekah ke Madinah bukan sekadar pindah tempat tinggal. Itu deklarasi keberanian. Kami tinggalkan hukum jahiliyah, kami pilih hukum wahyu.

Di Madinah, Islam langsung hidup secara utuh. Shalat ditegakkan, zakat dikumpulkan, pasar diatur, sanksi ditegakkan, hubungan luar negeri dijalin atas nama Islam. Itulah Islam kaffah yang Allah perintahkan dalam QS Al-Baqarah ayat 208: “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan”. Kata kaffah artinya bulat, total, tanpa sisa. Allah tidak bilang masuklah sebagian sesuai yang nyaman saja.

Lalu datang tanggal 10 Muharram, Asyura. Peristiwa Karbala mengajari kita pelajaran paling mahal tentang keberpihakan. Imam Husain tahu pasukannya jauh lebih sedikit dari tentara Yazid. Tahu ujungnya adalah syahid. Tapi beliau tetap maju. Karena diam di hadapan kezaliman sama artinya dengan membenarkan. Itu bukan Islam kaffah. Islam kaffah menuntut kita berani mengambil sikap walau sendirian, walau tidak populer, walau harus kehilangan sesuatu.

Hari ini bentuk Yazid mungkin sudah berganti nama dan wajah. Bisa jadi riba yang dilegalkan lewat bank, pornografi yang dinormalisasi lewat gawai, korupsi yang dianggap lumrah karena “semua orang juga begitu”, atau aturan yang memisahkan agama dari urusan negara dengan alasan modernitas. Belum lagi sistem pendidikan yang menjauhkan anak dari Al-Quran tapi mengejar kurikulum sekuler, media yang tiap hari menormalkan gaya hidup hedon dan pacaran, serta hukum yang tajam ke bawah tumpul ke atas. Islam kaffah menuntut kita bersikap seperti Husain di Karbala: berani bilang tidak kepada kebatilan.

Sayangnya kata Islam kafah sering disempitkan jadi jargon politik atau dicap milik kelompok tertentu. Padahal maknanya menyentuh hidup harian kita semua. Kaffah dalam ibadah artinya shalat lima waktu tepat waktu, bukan hanya shalat Jumat saja. Zakat dihitung sesuai nishab dan haul, bukan seikhlasnya. Puasa sunnah Muharram dikerjakan, bukan cuma jadi bahan status. Kaffah dalam ekonomi artinya berani tinggalkan riba walau gaji terasa lebih kecil di awal. Pilih jual beli yang halal walau pesaing curang. Yakin rezeki Allah sudah diatur dan tidak akan tertukar karena kita jujur.

Kafah dalam keluarga artinya rumah jadi madrasah pertama. Ibu mengajarkan tauhid sejak anak bisa bicara, ayah jadi imam dan pelindung, bukan sekadar pencari nafkah. Quran dibaca tiap hari, bukan hanya saat Ramadan. Kaffah dalam bermasyarakat artinya amar ma’ruf nahi munkar jalan terus. Tegur teman yang ghibah, ingatkan tetangga yang buang sampah sembarangan, bantu orang dizalimi walau itu bukan urusan pribadi kita. Kaffah dalam bernegara artinya mendorong agar hukum, pendidikan, politik, pertahanan, semuanya merujuk pada Al-Quran dan Sunnah.

Sejarah sudah membuktikan saat syariat diterapkan secara utuh, keadilan terasa, keamanan terjaga, dan ilmu pengetahuan justru berkembang pesat. Peradaban Islam dulu jadi pusat ilmu dunia karena Islam tidak dipisahkan dari urusan negara.

Tantangan terbesar menuju kaffah biasanya datang dari pola pikir kita sendiri. Banyak yang bilang tunggu sistem berubah dulu baru saya akan kaffah. Padahal Madinah tidak jadi negara Islam karena sistemnya sudah sempurna dari awal. Madinah jadi negara Islam karena orang-orangnya mau berubah dulu, satu per satu. Muharram memaksa kita jujur pada diri sendiri. Sudah kaffah di bagian mana kita tahun ini, dan masih bocor di bagian mana. Mungkin shalat kita rajin tapi lisan masih suka menyakiti orang. Mungkin jilbab sudah syar’i tapi transaksi masih kena riba. Mungkin rajin sedekah tapi giliran melihat kemungkaran di depan mata kita memilih diam.

Islam kaffah itu proses, bukan status yang langsung sempurna. Tidak ada manusia yang berubah total dalam semalam. Tapi tidak ada juga alasan untuk tidak mulai sejak 1 Muharram ini. Tanggal ini adalah undangan Allah untuk buka lembaran baru, kali ini dengan komitmen yang lebih bulat.

Bayangkan kalau 10 tahun dari sekarang kita masih merayakan Muharram dengan cara yang sama. Puasa Asyura, dengar ceramah, lalu selesai. Sementara masalah umat tetap jalan di tempat. Kemiskinan struktural tidak selesai, kerusakan moral makin parah, penjajahan pemikiran makin halus. Rugi sekali. Karena Muharram sejatinya adalah alarm tahunan dari Allah. Alarm untuk cek arah kompas kita. Sudah lurus menghadap Allah dan Rasul-Nya, atau masih miring ke hawa nafsu dan tren dunia. Islam kaffah bukan proyek mustahil yang hanya bisa dikerjakan para ulama besar. Ia dimulai dari keputusan kecil hari ini.

Mulai disiplin wudhu sebelum adzan. Mulai tutup rekening riba dan pindah ke bank syariah. Mulai berani menolak ajakan maksiat walau dicap kaku. Mulai luangkan waktu untuk menuntut ilmu walau sibuk kerja. Lalu ajak pasangan, ajak anak, ajak teman ngaji. Dari rumah ke rumah, dari kampung ke kampung, sampai akhirnya lahir lagi Madinah-Madinah baru di zaman ini.

Muharram adalah awal. Setiap awal butuh keberanian untuk langkah pertama. Tahun Hijriyah baru ini jangan biarkan hanya jadi ganti angka di kalender. Jadikan ia ganti arah hidup. Dari Islam KTP menuju Islam kaffah. Dari Muslim musiman menuju Muslim konsisten. Karena hanya dengan Islam yang utuh, umat ini akan kembali mulia seperti di masa keemasan dulu.

Masa ketika satu kata “Allahu Akbar” dari para Khalifah bisa mengguncang singgasana para tiran. Masa itu tidak akan kembali dengan sendirinya. Ia butuh orang-orang yang mau memperjuangkannya, dimulai sejak Muharram tahun ini.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 39

Comment here