Opini

Miris, Remaja dalam Kapitalisme

Bagikan di media sosialmu

Oleh: Novitasari

Wacana-edukasi.com, OPINI“Jadilah yang terbaik di mata Allah,
Jadilah yang terburuk di mata sendiri,
Jadilah sederhana di mata manusia”

(Ali Bin Abi Thalib)

Sungguh indah perkataan dari Ali Bin Abi Thalib di atas yang mencerminkan bahwa sejatinya setiap manusia haruslah saling berlomba di dalam kebaikan. Faktanya, saat ini mengapa manusia seolah berlomba di dalam keburukan? Setiap hari kasus-kasus kejahatan terjadi bahkan bertambah. Mirisnya hal itu terjadi tidak hanya pada kalangan dewasa, melainkan juga pada kalangan remaja. Berikut fakta-fakta di lapangan.

Maraknya Aksi Bullying

Akibat bullying, remaja santri di Aceh bakar asrama Pesantren Babul, di Kecamatan Kuto Baro, Aceh Besar, terbakar pada jum’at 31 Oktober 2025. Api melahap bangunan pesantren yang didominasi kayu dan triplek, hingga terus menjalar ke kantin beserta satu rumah milik pembina yayasan. Diduga, kerugian mencapai Rp 2 miliyar. Kebakaran ini bukan yang pertama kali terjadi, melainkan yang ketiga kalinya.

Menurut barang bukti yang ada di lapangan, pelaku masih merupakan salah satu santri di pesantren tersebut. Polisi memaparkan bahwa hal ini terjadi akibat rasa kesal si pelaku yang sering mendapatkan perlakuan buruk dari teman-temannya. Kini anak tersebut telah diamankan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Banda Aceh
(www.kumparannews, 07/11/2025).

Pada wilayah lain, Polisi sedang melakukan pendalaman pada pelaku kasus ledakan di SMA 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara. Insiden ledakan di SMA 72 di jalan prihatin no 87, Kelapa Gading, Jakarta Utara terjadi pada jum’at siang. Pelaku diduga merupakan salah satu siswa dari SMA tersebut. Menurut temannya, pelaku yang duduk di kelas 12 ini dikenal sering menyendiri dan suka menggambar hal-hal yang bernuansa ekstrem. Kini polisi sedang terus mendalami tentang identitas pelaku. Termasuk siapa orangtua dan bagaimana lingkungan tempat ia tinggal. Saat ini, pelaku sedang menjalani operasi akibat luka yang terjadi dalam insiden tersebut
(www.cnnindonesia.com, 08/11/2025).

Menyingkap Akar Permasalahan

Bullying yang terjadi pada sebagian besar anak remaja Indonesia, menjadi bukti permasalahan yang sistemik dalam dunia pendidikan. Terjadi peningkatan yang cukup signifikan dalam kasus kekerasan pada anak dan perempuan termasuk bullying sebanyak 31% sejak tahun 2024. Pengaruh sosial media malah membuat pelaku aksi bullying semakin parah, bahkan bullying menjadi bahan candaan yang sudah biasa terjadi di kalangan remaja. Ini bukti bahwa remaja kita mengalami krisis adab dan telah kaburnya fungsi pendidikan.

Sungguh miris, sosial media juga dijadikan sebagai bahan rujukan para korban bullying untuk melakukan aksi berbahaya dan berisiko guna melampiaskan kemarahan atau dendamnya. Ini juga menjadi bukti bahwa remaja kita tidak bisa bijak dalam bersosial media. Hal ini didukung pula dengan tidak adanya kontrol pemerintah dalam hal pembatasan konten-konten terkait kekerasan dan pornografi.

Lengkaplah sudah faktor-faktor penyebab rusaknya remaja-remaja kita. Bukti nyata bahwa pendidikan berbasis sekuler kapitalistik yang berfokus pada materi telah gagal total dalam menciptakan generasi unggul. Apalagi jika yang diharapkan remaja berkepribadian Islam, sungguh sangat sedikit jumlahnya.

Kembali pada Islam

Islam mengatur segala aspek kehidupan, termasuk aspek pendidikan di dalamnya. Salah satu tujuan utama pendidikan dalam Islam adalah membentuk kepribadian Islam. Proses pendidikan dilakukan dengan cara pembinaan intensif, yakni membentuk pola pikir dan pola sikap islami. Pendidikan Islam tidak hanya berfokus pada nilai materi, namun juga memperhatikan nilai maknawi dan nilai ruhiyah.

Para siswa akan sangat mendapatkan perhatian khusus yang tulus dari para pendidik. Begitu pula dari pemerintah nantinya, sehingga mereka tidak akan merasa terabaikan perasaannya.

Kurikulum pembelajaran wajib berbasis akidah Islam. Inilah yang nantinya menjadi cikal bakal tumbuhnya adab yang baik sebagai dasar sebuah pendidikan. Negara (Khilafah) wajib menjadi penjamin utama dalam hal pendidikan, pembinaan moral umat, dan perlindungan generasi dari kezaliman sosial.

Masyarakat dalam sistem Islam, terutama remaja akan terselamatkan dari segala bentuk hal yang dikhawatirkan akan merusak akidah dan fitrah mereka. Salah satunya sistem sekuler yang menjauhkan diri mereka dari akidah. Sebaliknya Islam akan memupuk akidah setiap generasi dengan kuat.

Khalifah akan membuat sinergi antara tiga pilar yakni keluarga, masyarakat, dan negara. Hal ini guna menciptakan masyarakat Islam hidup di bawah naungan Islam dengan penuh kedamaian. Setiap individu dalam keluarga akan diarahkan sesuai peran masing-masing, sehingga tidak ada pihak yang dirugikan terutama anak.

Lingkungan masyarakat juga akan kondusif karena terdiri atas keluarga yang sejahtera. Selanjutnya ada pemerintah yang mengeluarkan berbagai kebijakan yang tegas terkait aspek digital. Sehingga menjadikan masyarakat terutama para remaja terkontrol dalam bersosial media.

Betapa malang nasib umat Islam dalam cengkraman kapitalis ini, sungguh umat rindu akan tegaknya Daulah Islamiyah. Kini saatnya kita berjuang untuk kebangkitan Islam, agar kita kembali hidup di dalam kejayaan dan keadilan Islam. Semoga kita semua termasuk ke dalam golongan orang-orang yang berpegang teguh dan istikamah dalam hal memperjuangkan kebangkitan ini.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 29

Comment here