Opini

Bullying: Merusak Generasi, Membahayakan Negeri

Bagikan di media sosialmu

Oleh Khusnul Khotimah, S.P. (Pemerhati Masalah Umat)

Wacana-edukasi.com, OPINI– Duar! Dentuman keras memekakkan telinga melukai banyak siswa yang tengah khusyuk mendengarkan khutbah Jumat di Masjid SMAN 72 Jakarta Utara. Kejadian mengerikan ini langsung menghebohkan dunia pendidikan khususnya dan masyarakat pada umumnya.

Puluhan korban berjatuhan, sejumlah siswa dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif.
Spekulasipun berkembang mengemukakan faktor pemicu kejadian ledakan. Setelah pihak kepolisian melakukan penyelidikan ternyata pelakunya adalah siswa SMA Negeri 72 sendiri yang diduga menjadi korban bullying sehingga dia melampiaskan dendamnya dengan merakit bom untuk diledakkan di sekolah.

Dugaan-dugaan lain terus bermunculan seiring berjalannya proses penyelidikan, Selain dugaan korban bullying, siswa tersebut ternyata berasal dari keluarga broken home yang di duga menjadikan ketidak stabilan mental serta terpapar game online yang menyajikan tayangan kekerasan, sehingga menginspirasi untuk berbuat kejahatan.

Sementara dalam waktu yang hampir bersamaan, Beritasatu.com (8/11/2025) juga mengabarkan bahwa seorang santri di Aceh Besar ditetapkan sebagai tersangka karena membakar asrama pesantren yang menyebabkan hangusnya asrama dan diperkirakan kerugian mencapai milyaran rupiah. Aksi nekat santri ini dipicu adanya tindakan bullying yang dialaminya, sehingga menyulut dendam dan amarah.

Kasus-kasus bullying seolah tiada henti menghiasi laman berita setiap hari. Semakin hari semakin beragam jenisnya dan berdampak mengerikan serta membahayakan bagi keselamatan jiwa dirinya maupun orang lain. Maraknya bunuh diri, perusakan dan pembakaran yang dipicu bullying menjadi masalah yang perlu diperhatikan secara serius.

Gagalnya Sistem Pendidikan Kapitalisme Sekuler

Rusaknya perilaku remaja saat ini menggambarkan hasil penerapan sistem pendidikan yang rusak. Sistem pendidikan baik ditingkat keluarga (orang tua) di sekolah maupun dilingkungan masyarakat semakin jauh dari nilai-nilai agama. Kondisi ini pada akhirnya mencetak pribadi-pribadi yang individualis, lemah mental dan menyanjung kebebasan berperilaku tanpa memperhatikan norma-norma yang ada, terutama nilai agama.

Rapuhnya ketahanan keluarga menyebabkan anak-anak menjadi korban. Kurangnya perhatian dan didikan yang baik dari orang tua, menjadikan anak berbuat sekehendak hatinya. Anak-anak lebih banyak berinteraksi dengan media sosial tanpa ada kendali. Tayangan-tayangan yang berbahaya bagi mental dengan mudah diakses oleh anak yang pada akhirnya menjadi panutan.

Aksi-aksi bullying dan kekerasan pada akhirmya menjadi aktivitas yang mudah dilakukan tanpa merasa bahwa hal itu bisa berdampak besar dan berbahaya bagi korbannya maupun lingkungannya. Tidak hanya dampak pribadi, namun juga dampak sosial, seperti halnya kasus-kasus yang telah banyak terjadi.

Penerapan sistem kapitalis sekular di dunia pendidikan menyebabkan siswa lebih difokuskan untuk memiliki bekal ketika masuk ke dunia kerja. Sementara pembinaan nilai-nilai agama yang akan menyehatkan mental siswa tidak mendapatkan perhatian yang serius. Bahkan mata pelajaran agama mendapatkan porsi yang sangat sedikit dari total jam pelajaran di sekolah.

Wajar jika pada akhirnya lahirlah generasi yang berkepribadian cacat, jauh dari karakter dan perilaku yang baik, yang seharusnya dimiliki oleh manusia yang berakal dan beragama.

Di sisi lain, pemerintah juga belum bertindak tegas dalam membatasi konten-konten media sosial yang membahayakan mental anak. Tayangan kekerasan, pornografi, pornoaksi, game online, judi online dan tayangan-tayangan buruk lainnya masih bebas merajalela dan sangat mudah diakses oleh semua kalangan dari berbagai tingkat usia. Hal ini tentu menambah parah kondisi yang menjadi pemicu keburukan ditengah-tengah masyarakat.

Pada akhirnya, generasi yang lahir adalah generasi yang jauh dari harapan untuk kebaikan umat manusia. Generasi semakin hancur dan menambah beban berat bagi umat manusia, serta akan menciptakan permasalahan-permasalahan ditengah-tengah umat.

Solusi Islam, Solusi Sempurna

Islam datang membawa sekumpulan aturan yang akan menjadi arahan bagi kehidupan manusia. Agama Islam mengatur seluruh aspek kehidupan, tidak hanya masalah ibadah saja, namun meliputi seluruh bidang, baik aqidah dan ibadah, pendidikan, sosial, hukum dan peradilan, kesehatan, dll.

Dalam bidang pendidikan, Islam mengatur bahwa aqidah Islam harus dijadikan landasan pendidikan, baik di tingkat keluarga (orang tua), dilingkungan sekolah maupun masyarakat. Islam menerapkan sistem pendidikan yang bertujuan untuk membentuk kepribadian Islam. Kepribadian Islam adalah terbentuknya pola pikir dan pola sikap Islami pada setiap individu. Dengan sistem pendidikan Islam maka akan fokus untuk mencetak generasi yang berkepribadian Islam, unggul dalam ilmu dan teknologi serta mampu beraktivitas untuk membangun kemajuan peradaban Islam.

Untuk mewujudkan generasi Islami maka perlu memperhatikan faktor-faktor berikut ini :

Pertama, Peran orang tua (keluarga).
Orang tua adalah pihak yang bertanggung jawab untuk menanamkan nilai-nilai agama yang pertama kepada anak-anaknya. Orang tua harus punya bekal ilmu yang akan digunakan untuk mendidik anak-anaknya dengan mengenalkan aqidah Islam dan ibadah kepada Allah SWT. Anak-anak harus mendapatkan hak pengasuhan yang layak dan pendidikan yang baik ditengah-tengah keluarganya. Anak-anak akan menjadi pribadi muslim yang baik, yang senantiasa mengaitkan perbuatannya dengan aturan Allah.

Kedua, Pihak sekolah/lingkungan masyarakat.
Setelah anak menginjak masa sekolah maka anak akan lebih banyak berinteraksi dengan lingkungannya, baik di sekolah maupun di masyarakat. Sistem pendidikan di sekolah juga harus sejalan dengan pendidikan di rumah yaitu menerapkan sistem yang berlandaskan aqidah Islam. Anak-anak didiik agar menjadi insan yang bertaqwa kepada Allah SWT dan menjadi pribadi-pribadi yang unggul dan berakhlak mulia. Mereka juga harus didukung dengan lingkungan masyarakat yang sehat yang juga sangat memperhatikan nilai-nilai kebaikan.

Ketiga, Peran Negara.
Dalam Islam, negara (Daulah Khilafah Islamiyyah) mempunyai peran sangat besar dalam pembentukan generasi. Negara bertanggung jawab untuk menerapkan sistem pendidikan Islam di semua jenjang pendidikan, dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi.

Negara juga harus menciptakan lingkungan yang mendukung bagi segala bentuk kebaikan dan melarang segala hal yang dapat merusak akal manusia. Negara akan bertindak tegas untuk mengatur media sosial maupun sarana-sarana lain yang tidak membawa kebaikan.

Selain itu pembinaan individu- individu juga harus dilakukan oleh negara di tengah-tengah masyarakat. Pembinaan intensif agar masyarakat memiliki bekal ilmu dan pemahaman terhadap aturan-aturan Islam, sehingga keluarga-keluarga memiliki benteng aqidah yang kuat untuk menghadapi pengaruh-pengaruh buruk yang ada disekitarnya.

Pembinaan-pembinaan intensif ini akan melahirkan manusia-manusia yang berkepribadian Islami. Pada akhirnya akan menjauh masyarakat dari segala keburukan perilaku yang dapat membahayakan jiwa manusia. Selanjutnya kehidupan manusia akan berada dalam keberkahan dan kemuliaan sebagaimana firman Allah SWT :
وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰۤى اٰمَنُوْا وَا تَّقَوْا لَـفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَا لْاَ رْضِ وَلٰـكِنْ كَذَّبُوْا فَاَ خَذْنٰهُمْ بِمَا كَا نُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.
(QS. Al–A’raf 7: Ayat 96)

Wallahu a’lam bi showaab

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 19

Comment here