Oleh : Ummu Atika
Wacana-edukasi.com, OPINI–Amerika Serikat (AS) dan Israel melakukan penyerangan udara ke Iran pada tanggal 28 Februari 2026. Pemimpin Iran Ayatollah Ali Khamenei terbunuh beserta ratusan siswi sekolah dasar. Presiden AS, Donald Trump, sesumbar bahwa Iran akan dapat ditaklukan dengan cepat. Perang ini hanya akan berlangsung singkat sebab militer AS kuat (Kompas TV, 11/3/2026).
Namun ternyata AS salah perhitungan. Iran membalas serangan itu dengan meluluhlantakan kota-kota di Israel, menghancurkan pangkalan militer AS di wilayah Teluk dan puncaknya, menutup Selat Hormuz. AS dan Israel mendapat lawan yang tangguh, tidak mudah mengalahkan Republik Islam Iran. Sampai hari ini perang telah berlangsung lebih dari 30 hari, ketangguhan Iran melebihi prediksi AS.
Mengutip dari Detiknews.com (8/4/2026), Iran mengklaim bahwa Iran telah menang melawan AS dan Israel, setelah Presiden Donald Trump mengatakan akan menangguhkan serangan ke Iran selama 2 minggu. Iran juga mengklaim akan memaksa AS untuk menerima persyaratan yang diajukan Iran bila diadakan gencatan senjata.
Proposal 10 poin Iran untuk gencatan senjata dengan AS menitikberatkan pada penghapusan sanksi, pengakuan hak nuklir Iran, dan penarikan militer AS dari kawasan. Semua ini bertujuan untuk mengamankan posisi Iran di Selat Hormuz dan mengakhiri resolusi PBB/IAEA yang memberatkan. Sayangnya tidak ada satu pun klausul pembelaan Iran untuk tetangga yang terjajah Zionis Israel, yaitu Palestina. Dengan demikian, serangan Iran kepada AS dan Israel semata-mata untuk kepentingan Iran sendiri bukan untuk membela sesama muslim.
Tak ada Kawan Sejati dalam Kebatilan
AS meminta bantuan kepada sekutunya di Eropa dan NATO, bahkan ke Cina, Australia dan Jepang untuk mengamankan jalur laut Selat Hormuz, dan memerangi Iran. Namun, tak satu pun negara-negara itu turun membantu. Mereka melihat serangan AS-Israel ke Iran hanya untuk mendapatkan hegemoni AS atas Iran. Serangan AS dan Israel juga sudah di luar batas kemanusiaan dengan menargetkan anak-anak. Hal ini menunjukkan bahwa dalam masalah Iran, AS sudah ditinggalkan para sekutunya.
Mirisnya ada beberapa penguasa muslim yang bersekutu dengan AS, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Qatar dan lain-lain. Mereka mengijinkan wilayahnya jadi pangkalan militer AS, bekerja sama dalam mata-mata militer dan menampung para tentara AS di negaranya. Namun, dalam konflik AS dengan Iran, mereka memilih posisi netral demi keamanan negara mereka sendiri.
Balasan dari Iran telah menggetarkan musuh dan sekutunya. Buktinya, sekutu Eropa dan NATO tidak mau membantu AS. Mereka tidak mau terlibat karena melihat bagaimana kuatnya Iran. Termasuk negara – negara muslim di kawasan Teluk. Mereka bersekutu dengan AS karena berharap mendapat pengamanan saat negaranya diserang musuh. Namun, nyatanya AS membiarkan saat Iran menyerang negara mereka. Hal ini membuktikan bahwa di dunia dengan sistem batil, yaitu kapitalisme sekuler, tidak ada negara yang bersekutu secara permanen, tak ada kawan sejati. Persekutuan terjadi karena ada kepentingan di dalamnya.
Pelajaran bagi Kaum Muslim
Konflik antara AS-Israel dengan Iran memberi pelajaran kepada kita bahwa AS tidak sekuat yang diberitakan. Israel yang katanya dilindungi iron dome, dibuat babak belur oleh gelombang serangan drone dan rudal Iran. Iran yang selama ini dipandang sepele oleh AS dan sekutunya, ternyata mampu memberi perlawanan yang menggetarkan musuh. Ini bukti bahwa satu negara muslim saja bila benar-benar mengerahkan kekuatan militernya, akan mampu mengalahkan AS, apalagi Israel.
Kaum muslim harus menyadari bahwa tidak ada untungnya bersekutu dengan kaum kafir. Kaum kafir pada akhirnya hanya melindungi kepentingan mereka sendiri. Yang ada, negeri-negeri muslim ini telah berkhianat terhadap sesama muslim, khususnya terhadap Palestina. Para penguasa negeri muslim sudah teracuni pemikiran kapitalisme sehingga segala persekutuan hanya berlandaskan materi dan manfaat. Pengkhianatan para penguasa muslim ini telah melemahkan kesatuan umat.
Padahal potensi negeri-negeri muslim bisa menjadi kekuatan global baru. Dari jumlah, kaum muslim mencapai seperempat penduduk dunia, letak geografis, sangat strategis karena berada di jalur lalu lintas ekonomi dunia. Sumber daya alamnya pun melimpah, baik hutan dengan kekayaan hayatinya, laut dengan aneka biotanya juga barang tambang yang tersebar di seluruh wilayahnya. Penghalangnya hanya satu, yaitu meninggalkan aturan Islam yang sahih dan ikut dalam aturan Kufur yang batil.
Maka satu-satunya cara agar kaum muslim menjadi kekuatan global adalah kaum muslim sedunia bersatu dalam naungan institusi politik global Khilafah Islamiyah. Syekh Taqiyuddin an Nabhani menyatakan bahwa Khilafah adalah kepemimpinan umum atas seluruh umat Islam di dunia untuk menerapkan syariat dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Islam menetapkan bahwa seorang pemimpin atau penguasa berkewajiban melindungi dan mengurus rakyatnya dan kelak dimintai pertanggung jawaban atas pengurusannya itu.
Bila Khilafah tegak, pasti tidak akan ada lagi yang berani berbuat dzalim pada kaum muslim di manapun mereka berada. Tidak akan ada lagi eksploitasi manusia dan sumber daya alam karena penerapan syariat Islam menebarkan rahmat ke seluruh alam semesta.
Wallahu a’lam bisshawab.
Views: 2


Comment here