Oleh: Yusma Indah Jayadi
Wacana-edukasi.com, OPINI–Seorang mahasiswi Teknik Arsitektur Universitas Hasanuddin (Unhas) angkatan 2024 berinisial PJT (19) ditemukan meninggal dunia setelah diduga melompat dari lantai gedung Fakultas Teknik di Kabupaten Gowa, Senin (18/05/2026) malam. Sebelum insiden, korban sempat mengirimkan pesan suara dan video perpisahan yang menegaskan keputusan tersebut atas keinginannya sendiri. Adapun pihak kepolisian kini telah mengamankan barang bukti di TKP dan mengevakuasi korban ke RS Bhayangkara Makassar. Merespons peristiwa ini, pihak keluarga telah menerima kejadian sebagai musibah dan mencabut laporan kepolisian. Sementara itu, pimpinan Unhas berkomitmen meningkatkan mitigasi kesehatan mental serta psikolog mengimbau publik untuk tidak menyebarkan rekaman terakhir korban (Detik, 18/05/2026).
Kembali mencuatnya kasus serupa, menimbulkan banyak pertanyaan. Bagaimana kasus bunuh diri di Indonesia? Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Badan Reserse Kriminal Kepolisian RI (Bareskrim Polri) menunjukkan, angka kasus bunuh diri terus meningkat setiap tahun. Bahkan bertambah hingga 60% dalam lima tahun terakhir (Goodstat, 2024).
Lantas mengapa angka bunuh diri terus meningkat? Bahkan WHO, 2025 mencatat secara global bunuh diri adalah penyebab kematian ketiga terbesar di kalangan usia 15–29 tahun. Apakah semakin banyak anak muda merasa hidup terlalu berat dijalani?
Penyebab yang paling mencuat adalah kesehatan mental. Kesehatan mental bukan sekadar masalah individu, misalnya karena lemah iman, kurang bersyukur, ataupun kurang healing. Akan tetapi penyebab yang lebih mendalam adalah tekanan akademik, tekanan ekonomi, keluarga, relasi, hingga lingkungan sosial.
Mahasiswa hidup dalam tekanan multidimensi. Tekanan akademik meliputi; tuntutan IPK, masa depan, takut gagal. Ditambah dengan masalah ekonomi seperti biaya hidup semakin tinggi, lapangan kerja sempit dan ketidakpastian masa depan. Diperparah pula dengan adanya media sosial yang diwarnai budaya perbandingan. Semua orang terlihat sukses, takut tertinggal, terjebak dalam hiburan instan, melarikan diri dengan aktivitas yang melenakan dalam bersosial media hingga tekanan relasi dimana hubungan jadi tempat pelarian, validasi diri bergantung pasangan bahkan kehilangan pasangan seperti terasa menghancurkan identitas diri lebih dari sekadar putus cinta.
Ternyata persoalan yang tampak permukaan itu, jauh lebih dalam diwarnai oleh persoalan yang sangat kompleks dan kita tidak bisa mengabaikan problem sistemik ini. Sistem kapitalisme sekuler dengan subsistemnya ekonomi kapitalis, pendidikan materialistik, sosial hedonisme lalu menjadikan agama hanya mengatur persoalan ibadah, tidak mengatur bagaimana manusia hidup. Manusia di sistem ini sejak awal dibentuk menjadi sumber produktivitas ekonomi, nilai prestasi, produktivitas, penghasilan, pencapaian dan daya saing. Akhirnya mahasiswa menilai bahwa mereka berharga ketika berhasil. Takut gagal sebagai manusia hanya karena tidak mencapai target. Sistem ini berhasil mengeksploitasi fisik dan harga diri manusia.
Sosial hedonistik menjadikan bahagia diukur dari validasi dan kenikmatan. Masyarakat terus mendorong pencitraan, konsumtif, eksistensi digital dan kesenangan instan. Bahkan media sosial memperparah hal tersebut dengan budaya perbandingan, fear of missing out, kebutuhan validasi, dan standar hidup semu. Akhirnya pemuda-pemudi hidup dalam tekanan untuk terlihat bahagia, terlihat sukses, dan terlihat dicintai. Padahal di saat yang sama mereka kosong secara emosional. Relasi pun menjadi rapuh, cinta semu menjadi pelarian, pasangan jadi sumber validasi, dan hubungan dibangun di atas kebutuhan emosional yang tidak stabil. Maka ketika relasi runtuh, putus cinta seakan-akan dunia juga harus ikut diputus. Hedonisme membuat manusia terus ingin mengejar rasa senang tapi gagal membangun ketenangan.
Kampus di sistem pendidikan materialistik mencetak mesin kompetisi. Pendidikan hari ini lebih fokus mencetak tenaga kerja, memenangkan pasar untuk sekadar memenuhi industri, dan mengejar ranking dan statistik. Mahasiswa dijejali target, tugas, IPK, publikasi, dan administrasi namun sangat miskin pembinaan, ketahanan emosional, spritualitas dan kemampuan menghadapi kegagalan, pribadi yang jauh dari penerang umat dan penggerak kemaslahatan di dunia.
Lalu bagaimana dengan negara? Mereka selalu hadir setelah tragedi. Politik oportunistik hari ini sering reaktif, pencitraan, administratif dan jangka pendek. Kesehatan mental sering dibahas setelah viral, korban berjatuhan dan publik gaduh. Penyelesaian serius dari akar yaitu keluarga, pendidikan, ekonomi dan budaya sosial masih pada tahap edukatif, penyediaan layanan konseling dan lain-lain. Maka tidak heran jika solusinya masih berbau kosmetik seperti seminar, slogan, hotline dan kampanye sesaat. Bunuh diri hanyalah salah satu gejala paling tragis dari keretakan itu.
Selama kehidupan dibangun di atas asas materi, kompetisi, dan kepentingan, manusia akan terus kehilangan ketenangan yang tidak mungkin dibeli oleh prestasi maupun validasi sosial. Disinilah peran Islam sebagai ideologi, bukan hanya agama ritual yang mengisi ruang spiritualitas tetapi mengembalikan nilai manusia. Jika kapitalisme menilai manusia berdasarkan produktivitas, prestasi, materi dan pencapaian, Islam hadir memandang manusia sebagai hamba Allah dan makhluk mulia yang dianugerahi akal. Memiliki nilai intrinsik dan tidak ditentukan oleh status dunia. Islam mendorong produktif. Hal tersebut merupakan roda ekonomi. Namun status manusia tidak dinilai dari hasil produktifnya, melainkan dari prosesnya. Tentunya proses tersebut harus sesuai syariat Allah, yang terisi penuh justru ruang spiritualitas yang menghasilkan ketenangan. Bila menemukan kesulitan tidak langsung dimaknai sebagai tanda kegagalan, tetapi memaknainya satu kesulitan terdapat dua kemudahan nilai manusia tidak berhenti pada dunia.
Islam tidak menyerahkan manusia sendirian menghadapi hidup. Islam membangun fondasi keluarga yang tidak hanya mengejar duniawi atau materi hingga melalaikan perannya sebagai ibu atau ayah. Tidak dibelit dengan persoalan ekonomi yang melilit, sehingga terpaksa fokus utama adalah mencari penghidupan saja. Tidak diwarnai oleh standar kesuksesan adalah bila kaya, punya kerjaan mentereng, barang branded, rumah mewah dan kendaraan canggih. Standar kesuksesan yang berlandaskan materi justru merendahkan manusia ke posisi yang paling hina dalam Islam. Sebaliknya standar kesuksesan dalam Islam adalah ketika manusia mendapatkan ridho Allah karena ketaatannya pada syariah. Masyarakat yang tersistemkan peduli dengan kewajiban saling menjaga, tidak mengisolasi diri, dan budaya saling mengingatkan dalam kebaikan dan mencegah dalam kemungkaran, tidak hidup individualistik, sikap individualistik membuat individu menderita sendirian.
Kehidupan Islam menata relasi laki-laki dan perempuan secara protektif melalui aturannya yang komprehensif. Islam menjauhkan individu dari mendekati zina yang intens tanpa kepastian, dekat dengan nafsu syahwat membara, dan emosional tanpa kesiapan. Pendidikan dalam Islam membentuk manusia utuh, membentuk akal, ruhiyah, akhlakiyah, ketahanan jiwa dan pemahaman hidup. Lebih dari itu, memahamkan bahwa agama bukan sekadar formalitas. Ilmu tidak dipisahkan dari iman dan makna kehidupan. Lalu hadirlah negara dalam Islam yang menjadi pengurus umat, bukan sekadar regulator pasar, pengelola administrasi, melepaskan dan membebaskan masyarakat sebebas-bebasnya, negara justru mengurus rakyat dan bertanggung jawab atas setiap individu pada pendidikan, keamanan sosial, kesehatan, perlindungan keluarga, dan lingkungan kehidupan yang sehat.
Views: 3


Comment here