Opini

Refleksi Muharram: Mewujudkan Kebangkitan Umat

Bagikan di media sosialmu

Oleh: Siti Sarisma, S.Pd (Aktivis Muslimah)

Wacana-edukasi.com, OPINI–Dilansir dari Liputan6.com, berdasarkan kalender Hijriah Kementrian Agama (Kemenag), tahun baru Islam 1447 H jatuh pada 27 Juni 2025. Biasanya umat Islam menganggap pergantian tahun baru hijriah ini sebagai ajang refleksi diri yang ditandai dengan puasa Tasua dan puasa Asyura. Namun, ada juga sebagian orang yang menganggap tahun baru Islam layaknya hari-hari biasa. Padahal jika kita menyadari, ada banyak kebaikan yang bisa kita lakukan agar di tahun yang telah berganti ini bisa menjadi insan yang lebih baik lagi.

Di belahan dunia lain, tahun baru Islam terasa suram dan sangat amat mencekam. Genosida yang terjadi pada rakyat Palestina masih terus berlangsung di tengah pengkhianatan penguasa negeri-negeri Muslim. Mereka terkesan abai, padahal Palestina dalam keadaan genting yang membutuhkan pertolongan secepatnya. Simpati sesama saudara Muslim pun kian merapuh, terbukti ketika mereka enggan terus memboikot produk-produk yang terafiliasi Zionis Yahudi.

Bulan Muharram menjadi penanda masuknya tahun baru Islam, seharusnya bulan Muharram ini menjadi momen refleksi bagi umat Islam itu sendiri. Peristiwa hijrah Baginda Rasulullah SAW menjadi titik awal terwujudnya kemuliaan umat. Saat itu umat Islam bersatu di bawah naungan Daulah Islam, hidup sejahtera di bawah aturan Allah SWT, Islam tersebar ke seluruh penjuru dunia dan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Seluruh umat Islam berbahagia dengan adanya naungan yang hidup dengan aturan Sang Pencipta.

Namun hari ini, predikat Khairu Ummah (umat terbaik) tak nampak nyata dalam kehidupan. Umat Islam merapuh bagai pohon tumbang yang diluluhlantakkan hujan dan digerogoti rayap. Mereka lebih mementingkan urusan dunia ketimbang akhirat, mereka beribadah seadanya saja, aturan Allah yang lainnya luput dari pandangan mata. Umat Islam harus merenungkan kembali apa akar masalah dari kondisi buruk ini sehingga umat Islam kehilangan kemuliaannya sebagai Khairu Ummah.

Nyatanya, umat terpuruk karena makin jauh dari aturan Allah. Semua ini tidak terlepas dari diterapkannya sistem sekulerisme dan ideologi kapitalisme yang meniscayakan kehidupan dunia yang jauh dari kehidupan akhirat. Bayangkan saja, sebagian umat Islam dan negeri-negeri Islam di dunia masih melegalkan riba, mewajibkan pajak, judi dilestarikan, zina dibebaskan, produk haram sering kecolongan, ekonomi makin melamah, pendidikan carut marut, generasi kian jauh dari ajaran Islam, hukum tumpul ke atas namun tajam ke bawah, kurangnya sikap amar ma’ruf nahi munkar, dan masih banyak keterpurukan lainnya yang tak tertulis.

Padahal Allah SWT berfirman, “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS Taha: 124)

Ayat di atas mengatakan bahwa siapa saja yang berpaling dari peringatan-Nya, maka akan Allah kumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan buta. Artinya, Allah memang melarang manusia untuk berpaling dari hukum-hukum Allah. Tapi sering kali ayat-ayat cinta dari Sang Maha Cinta ini tidak terasa oleh manusia. Pada akhirnya, tahun demi tahun terlewati tanpa ada perbaikan. Padahal bulan Muharram tahun ini belum tentu bisa dirasakan kembali tahun depan kalau Allah memerintahkan malaikat Izrail datang menagih nyawa duluan.

Inilah akibat negeri-negeri Muslim menerapkan sistem sekulerisme yang memisahkan agama dari kehidupan, dan ideologi kapitalisme yang jelas-jelas menjadikan materi sebagai tolak ukur perbuatan. Kemudian sistem sekuler kapitalisme juga memisahkan umat dengan mengatasnamakan nasionalisme. Akhirnya umat memiliki sikap individualis yang kuat sehingga tidak perlu peduli kepada sesamanya.

Jadi, sudah selayaknya kita meninggalkan kecintaan terhadap dunia, menjauhkan diri dari perbuatan yang diharamkan oleh Allah, dan menjalankan hal-hal yang diperintahkan-Nya. Karena jati diri umat Islam adalah sebagai pembawa cahaya bagi kehidupan. Umat Islam akan memimpin umat yang lain untuk meninggalkan kecintaannya terhadap dunia. Umat Islam juga akan senantiasa menegakkan aktivitas amar ma’ruf nahi munkar yang melekat pada dirinya. Secara otomatis ketika melihat kemungkaran, maka umat Islam akan refleks untuk meng’amar ma’ruf-nya.

Dengan begitu, akan terwujud kebangkitan umat yang hakiki dan predikat Khairu Ummah bisa diraih. Tapi dengan catatan harus kembali kepada aturan Allah (Syariat Islam) dan menerapkannya dalam kehidupan secara kaffah dalam naungan Daulah Khilafah Islamiyah tentunya. Khilafah itu sebagai institusi yang akan menjadi junnah (perisai) bagi umat.

Oleh karena itu, umat harus sadar hakikatnya sebagai Muslim sejati untuk ikut memperjuangkan tegaknya syariat Islam di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiyah. Agar umat sadar, maka umat membutuhkan bimbingan dari jamaah dakwah yang tulus dan istiqamah berjuang di jalan Allah. Sebagaimana dakwah Rasulullah SAW ketika mengajak para sahabat masuk Islam, kemudian membimbingnya menjadi kutlah (kelompok) dakwah yang setelahnya juga ikut mendakwahkan Islam sampai Islam tersebar luas sampai sepertiga dunia.

Wallahu a’lam bisshawab

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 6

Comment here