Opini

Kriminalisasi Guru, Cerminan Buruk Sistem Sekuler

Bagikan di media sosialmu

Oleh: Asriyanti, S.Si

Wacana-edukasi.com, OPINI–Karut marut dunia pendidikan di negeri ini semakin terasa. Berbagai macam persoalan baru muncul setiap waktu, salah satu yang kembali menyita perhatian masyarakat belakangan ini yaitu kasus kriminalisasi yang menimpa kalangan guru. Seolah martabat para guru tak lagi penting di mata mereka.

Posisi guru yang sejatinya bertugas mendidik anak muridnya justru banyak yang dilaporkan kepada aparat berwajib dengan alasan penganiayaan. Seperti kasus yang terjadi di Kabupaten Lebak, Banten. Kepala sekolah SMAN 1 Cimarga, Dini Fitri sempat dilaporkan dengan tuduhan melakukan penganiayaan terhadap muridnya.

Menurut keterangan yang didapatkan, hal ini dipicu oleh penamparan yang dilakukan oleh Dini terhadap muridnya yang bernama Indra saat terbukti sedang merokok di belakang sekolah. Sekalipun awalnya hanya ditegur, namun Indra ternyata berbohong jika dirinya merokok. Setelah kasusnya viral di dunia maya dan menuai banyak kritik terhadap sikap murid tersebut, akhirnya orang tuanya mencabut laporan polisi terhadap Dini dan dinyatakan telah diselesaikan secara damai (CNN Indonesia, 16/10/2025).

Sangat disayangkan, di saat sistem pendidikan negeri ini masih memprihatinkan, ternyata peran penting guru justru ternodai. Guru yang seharusnya dimuliakan karena peran pentingnya dalam membangun generasi, justru banyak tertuduh melakukan tindakan kejahatan. Terlihat dari banyaknya kasus kriminalisasi guru yang muncul selama ini dengan berbagai macam alasan. Padahal upaya yang guru lakukan sebenarnya untuk mendisiplinkan anak muridnya semata.

Tidak heran jika banyak kalangan guru berada dalam kondisi dilematis. Mereka serba salah dalam menyikapi perilaku murid yang notabene masih banyak melanggar peraturan. Di sisi lain, guru ingin menjalankan tugas mereka dengan efektif. Namun, khawatir tersandung kriminalisasi yang kini semakin rentan terhadap mereka. Untuk kasus murid yang ditegur karena merokok, tentu menjadi hal yang wajar dilakukan oleh seorang guru. Mengingat bahayanya rokok bagi remaja.

Menurut data yang didapatkan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), diperkirakan sekitar 15 juta remaja berusia 13-15 tahun di seluruh dunia telah menggunakan rokok elektrik atau vape. Sementara dari data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa 75 persen dari perokok biasanya mulai merokok di usia kurang dari 20 tahun. WHO juga menambahkan bahwa saat ini remaja lebih berpeluang untuk menggunakan vape jika dibandingkan orang dewasa.

Rusaknya Sistem Pendidikan dalam Sistem Sekuler

Terjadinya banyak kriminalisasi terhadap guru juga menjadi bukti rusaknya sistem pendidikan di negeri ini. Kerusakannya tidak lepas dari pengaruh paham sekuler yang menjadi pijakan dalam sistem kehidupan sekarang. Paham sekuler yang berarti memisahkan nilai-nilai agama dari pengaturan kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan, menjadikan negara dalam hal ini pemerintah melahirkan kebijakan yang tidak lagi berlandaskan agama.

Kurangnya asupan ilmu agama ditambah pengawasan yang tidak tegas, meniscayakan nilai kebebasan semakin bertumbuh. Masyarakat termasuk para remaja di sekolah merasa bisa bertindak sesuka hati karena tidak memahami konsep perbuatan dan pertanggung jawaban di akhirat. Alhasil, kita dapat melihat banyaknya pelajar yang berani melakukan tindakan anarkis, bahkan terhadap gurunya sendiri. Sekalipun gurunya menegur, sikap guru hanya dianggap sebagai gangguan. Jika tetap dibiarkan, kondisi generasi muda akan semakin rusak dan jauh dari cita-cita negara yang ingin mewujudkan generasi cemerlang.

Dalam sistem pendidikan yang sekuler hanya melahirkan kebijakan yang membuat makna dan tujuan pendidikan bias. Hal ini pula yang seringkali menimbulkan polemik antara pihak sekolah dan orang tua murid. Teguran dari guru disalah artikan sebagai kekerasan terhadap anak mereka. Padahal sejatinya pendidikan memang harus menjadikan murid lebih beradab. Namun, jika nilai-nilai agama tidak menjadi dasar dalam pembuatan kurikulum dan aturan sekolah, tujuan dari pendidikan akan sulit terealisasi. Dari sini jelas bahwa negeri ini harus banyak berbenah.

Pendidikan dalam Sistem Islam

Lain halnya jika negeri ini menganut sistem Islam, di mana akidah Islam menjadi pijakan dalam mengambil aturan kehidupan. Hal ini akan membangun kesadaran dan keyakinan bahwa segala perbuatan manusia terikat dengan syariat yang ditetapkan oleh Allah dan senantiasa diawasi oleh-Nya. Dengan begitu, sistem pendidikan juga akan bersandar pada Islam. Metode pendidikan yang digunakan akan mampu membentuk kepribadian Islam yang kuat, yang akan nampak dari pola pikir dan pola sikap yang dimiliki murid di sekolah.

Sama halnya dengan guru, metode pengajaran mereka akan merujuk kepada ajaran Islam, sehingga tidak hanya terfokus pada ilmu duniawi, tapi juga harus turut membangun ketakwaan para muridnya. Jika guru memberikan nasehat ataupun teguran, hal itu dianggap sebagai bagian dari wujud kasih sayang guru dalam mendidik. Dengan begitu, murid akan lebih mudah menerima nasehat.

Sama halnya dengan kasus murid yang merokok, sekalipun hukum merokok adalah mubah, tapi mereka perlu dipahamkan bahwa selain membahayakan kesehatan, merokok juga bisa berdampak buruk dalam hidup mereka. Olehnya itu, para guru akan lebih dihormati. Hal ini sejalan dengan ajaran Islam yang menempatkan guru sebagai pilar peradaban yang mulia dengan ilmu dan teladannya. Sebagai muslim kita diperintahkan untuk senantiasa memuliakan orang yang berilmu. Sebagaimana dalam Islam kita diajarkan bahwa motivasi dalam mengajar yakni meraih pahala yang besar di sisi Allah SWT.

Rasulullah saw. Bersabda: “Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak yang shaleh yang mendoakannya”. (HR. Muslim)

Selain itu, dalam rangka menjalankan syariat Islam yang lainnya, negara juga bertanggung jawab dalam memberikan jaminan perlindungan terhadap guru maupun murid bilamana terdapat permasalahan di antara mereka. Bahkan negara sangat memperhatikan kesejahteraan para guru agar mereka dapat menjalankan peran mereka dengan sebaik-baiknya.

Jika kita bandingkan dengan sistem sekuler saat ini tentu sistem Islam jauh lebih menjanjikan untuk mewujudkan sistem pendidikan yang optimal. Ditambah dengan penerapan syariat Islam secara menyeluruh akan membangun keimanan dan ketakwaan semua pihak. Pemerintah, penyelenggara pendidikan, dan masyarakat akan saling bersinergi untuk mewujudkan generasi yang mulia yang akan membangun peradaban cemerlang.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 12

Comment here