Oleh: Eva Ariska Mansur
Wacana-edukasi.com, OPINI-Semakin ke sini kejahatan Zionis semakin menjadi-jadi. Rasanya tidak tahu lagi harus mengekspresikan amarah seperti apalagi ketika melihat kebiadaban Zionis, yang terus membabi buta dalam melakukan serangan terhadap umat Islam di Palestina. Mengutip laporan Cnbcindonesia.com 30/06/2025, baru-baru ini terjadi serangan udara Israel di Jalur Gaza menewaskan puluhan warga Palestina, termasuk mereka yang sedang mengantre bantuan makanan, di tengah krisis kemanusiaan yang semakin memburuk. Kekerasan tersebut telah menewaskan 68 orang syahid.
Kejahatan Zionis semakin tidak berperikemanusiaan dan menunjukkan tindakan yang luar biasa. Namun, umat Islam dan mujahidin di Gaza menghadapi dengan kesabaran dan keteguhan jiwa yang luar biasa. Kesabaran dan keteguhan ini berasal dari keimanan mereka. Mereka juga memahami hidup mulia ialah untuk Islam dan umat Islam.
Tatkala Allah Swt. memerintahkan menjaga tanah suci Al-Quds, maka umat Islam di Gaza tidak pernah menyerah selangkahpun, dalam melawan Zionis meski nyawa menjadi taruhan. Kesabaran dan ketabahan yang luar biasa dari masyarakat Gaza inilah, yang akhirnya membuat masyarakat dunia mengarahkan perhatian mereka ke Palestina. Hal ini terbukti melalui aksi Global March to Gaza, yang melibatkan sejumlah negara menuju perbatasan Rafah beberapa waktu lalu. Bahkan, ada juga upaya menembus blokade laut Palestina dengan menggunakan kapal bantuan kemanusiaan Madeleine. Namun sayangnya upaya tersebut tidak membuahkan hasil.
Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat dunia tidak pernah berhenti, untuk terus bergerak dan menunjukkan pembelaan terhadap Gaza. Dan hal paling memalukan dari penguasa-penguasa negeri notabene Islam masih terus bergandengan tangan dengan penjajah Zionis.
Sebagai bukti, penguasa muslim akan memberikan kesempatan membuka hubungan diplomatik dengan Zionis, di saat Gaza masih dilakukan genosida dan dilaparkan oleh Zionis. Syaratnya, konflik Gaza diselesaikan dengan solusi dua negara. Padahal solusi dua negara mustahil mampu menyelesaikan masalah penjajahan di Gaza, justru akan menimbulkan masalah-masalah baru. Solusi dua negara berasal dari ide Barat (Amerika serikat) yang tetap ingin menguatkan penjajah Zionis terhadap Gaza.
Ada pula penguasa muslim (Mesir) yang justru menjadi tameng bagi Zionis, menutup perbatasan Rafah. Tidak mengirimkan bantuan maupun tentara ke Gaza. Padahal wilayahnya sangat dekat dengan Palestina. Ada pula penguasa muslim yang menutup mata hati mereka, seakan-akan masalah Gaza bukan masalah negerinya. Dia malah menolak embargo minyak ke Zionis. Berbagai keadaan inilah membuat Palestina berjihad sendirian menghadapi Zionis.
Hakikatnya, masalah Yahudi dan Palestina adalah kepentingan Barat di wilayah umat Islam. Seperti yang kita ketahui, saat ini Barat (Amerika dan sekutunya) telah menguasai geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada kekuatan politik, strategi keamanan, dan dinamika hubungan internasional. Adapun agresi militer ke Palestina merupakan agenda Barat yang diwakili Zionis dalam rangka menciptakan ketidakstabilan di kawasan itu. Dengan cara ini, Barat mampu melanggengkan penjajahannya di negeri-negeri Muslim, apakah itu penjajahan secara ekonomi, politik, hingga perang fisik seperti yang dialami Palestina.
Jadi ini tak sekadar ingin berebut wilayah. Namun, persoalan ini memang sengaja dirancang strategi besar politik AS dan Barat untuk mengekalkan kedudukan mereka. Tidak kalah penting, soal konflik ideologi, antara ideologi Islam dan ideologi Kapitalisme. Mereka punya kepentingan untuk mencegah kembalinya kekuasaan Islam tegak di negeri Islam.
Namun, sendainya perang ini adalah perang antarnegara, yakni negara Islam (Khilafah) lawan negara kapitalis, tentunya lawan akan seimbang, bahkan bisa jadi Zionis yang didukung As tidak berkutik sedikit pun. Mereka pasti akan kalah sebagaimana pasukan salib di perang Hattin dulu pada masa khilafah, yang terjadi pada tanggal 4 Juli 1187. Karena, hanya dengan negara khilafah, syariat mengusir penjajah dengan jihad mampu dilaksanakan. Negara Khilafah akan memimpin tentara muslim seluruh dunia untuk berjihad membebaskan Palestina dari penjajahan Zionis Yahudi.
Kuatnya cinta pada kedudukan dan kekuasaan membuat para penguasa negeri muslim buta mata hatinya dan lalai akan hubungan persaudaraan atas dasar iman. Untuk itu
upaya penyadaran harus terus digaungkan makin kuat dan makin keras. Upaya ini wajib dilakukan oleh umat muslim yang telah sadar, terlebih para pengemban dakwah. Mereka harus menguatkan dan meningkatkan upayanya agar dukungan umat atas dasar kesadaran semakin kuat. Umat akan terus bergerak juga menuntut penguasa mereka, guna untuk kembali kepada ajaran Islam dalam menyelesaikan masalah Palestina, yakni membebaskan Palestina dengan jihad dan tegaknya Khilafah.
Para pengemban dakwah wajib terus berupaya mewujudkan opini umum, atas solusi hakiki masalah Palestina, yang berlandaskan dengan kesadaran umum. Mereka terus memimpin umat menuju jalan yang sudah di tempuh Rasulullah saw, menuju penegakan hukum Allah Swt. sebagai sarana untuk melangsungkan kembali kehidupan Islam, dengan tegaknya Khilafah.
Para pengemban dakwah wajib terus memelihara keistikamahan berjalan dalam dakwah sesuai thariqah (metode) Rasulullah Saw, meningkatkan kemampuannya dalam membangun kesadaran umat, juga menguatkan hubungan agar pertolongan Allah segera datang. Wallahu a’lam bishawab!
Views: 12


Comment here