Surat Pembaca

Tragedi KRL: Saat Nyawa Tergadai dalam Kapitalisme

Bagikan di media sosialmu

Wacana-edukasi.com, SURAT PEMBACA–Kehidupan kaum komuter, terutama para ibu yang harus berjuang antara urusan dapur dan nafkah, semakin hari terasa semakin tidak manusiawi di dalam gerbong KRL. Pemandangan penumpang yang berdesakan layaknya sarden, eskalator stasiun yang sering mati, hingga jadwal perjalanan yang tidak menentu telah menjadi makanan sehari-hari. Namun, risiko keselamatan kini bukan lagi sekadar kekhawatiran, melainkan ancaman nyawa yang nyata.

Kita berduka sedalam-dalamnya atas tragedi memilukan di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam, 27 April 2026. Insiden tabrakan antara kereta jarak jauh dan KRL tersebut mengakibatkan 16 orang meninggal dunia dan sedikitnya 90 orang luka-luka (Kompas.com, 29/04/2026). Yang lebih menyayat hati, seluruh korban jiwa adalah kaum perempuan, karena hantaman keras mengenai gerbong khusus wanita di bagian belakang.

Kejadian ini adalah tamparan keras yang menunjukkan betapa bobroknya sarana transportasi kita yang masih bergantung pada teknologi usang dan sistem manual. Sangat berbeda dengan di negara-negara maju, yang telah meminimalisasi  risiko tabrakan antar kereta.

Salah satunya dengan teknologi canggih seperti Automatic Train Protection (ATP), atau Positive Train Control (PTC) yang mampu menghentikan kereta secara otomatis, tanpa bergantung sepenuhnya pada masinis. Akan tetapi, di negeri ini, rakyat dipaksa mempertaruhkan nyawa setiap hari demi sarana “sisa” yang tidak terjamin keamanannya.

Kebijakan Kosmetik

Buruknya pelayanan transportasi saat ini berakar pada cara pandang kapitalisme yang hanya mengutamakan profit di atas keselamatan rakyat.

Pertama, kebijakan yang diambil sering kali hanya bersifat kosmetik dan tidak menyentuh akar masalah. Sebagai contoh, usulan dari pihak otoritas untuk memindahkan gerbong khusus wanita ke posisi tengah dengan alasan “keseimbangan beban” (Kompas.id, 30/04/2026). Kebijakan ini sejatinya tidak menyelesaikan persoalan inti.

Memindahkan posisi gerbong hanyalah “memindahkan korban” tanpa menambah jumlah armada yang memadai. Alasan teknis tersebut seolah menutup mata bahwa masalah utamanya adalah ketidakmampuan negara menyediakan layanan yang manusiawi.

Kedua, dan yang paling mendasar, tewasnya 16 perempuan dalam gerbong tersebut adalah cerminan dari rusaknya tatanan ekonomi kita. Banyaknya perempuan yang memenuhi KRL hingga malam hari menunjukkan sulitnya lapangan pekerjaan bagi para laki-laki.

Dalam sistem saat ini, lapangan kerja bagi kepala keluarga sangat terbatas, sehingga memaksa para istri dan ibu keluar rumah untuk bekerja demi menyambung hidup.

Ketiga, jika lapangan pekerjaan bagi laki-laki terbuka luas dengan penghasilan yang mencukupi, maka para wanita tidak perlu berjuang di jalanan hingga larut malam. Mereka akan mendapatkan kembali kemuliaannya di rumah dengan jaminan nafkah yang cukup dari suami, tanpa harus meregang nyawa di jalanan karena alasan ekonomi.

Memuliakan Wanita dan Menjamin Kesejahteraan Keluarga

Dalam pandangan Islam, nyawa manusia sangat berharga, dan tidak bisa ditukar dengan alasan teknis atau ekonomi apa pun. Allah Swt. berfirman,

مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا

Artinya: “Barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.” (QS Al-Ma’idah: 32)

Oleh karena itu, penyediaan transportasi publik yang aman dengan teknologi terbaik adalah kewajiban mutlak bagi negara sebagai bentuk ri’ayah (pengurusan rakyat). Di antaranya,  Pemimpin dalam Islam tidak akan membiarkan rakyatnya menderita, karena setiap nyawa yang hilang akibat kelalaian sistem akan dimintai pertanggungjawabannya.

Kedua, negara Islam akan memprioritaskan lapangan kerja bagi laki-laki agar fungsi suami sebagai pemberi nafkah berjalan maksimal, sehingga para ibu bisa fokus di rumah tanpa perlu bertaruh nyawa di jalanan.

Ketiga, pembiayaan transportasi publik dalam Islam diambil dari kas negara (Baitulmal) hasil pengelolaan sumber daya alam milik rakyat. Dengan dana yang berdaulat, negara mampu membangun industri transportasi mandiri yang canggih tanpa bergantung pada barang bekas asing. Rasulullah saw. bersabda,

فَالإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Artinya: “Seorang pemimpin yang memimpin manusia adalah pengurus (rakyatnya) dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Dengan demikian, tragedi Bekasi Timur yang menelan 16 nyawa perempuan adalah bukti nyata gagalnya negara dalam melindungi rakyatnya. Selama lapangan kerja laki-laki sempit dan transportasi dikelola setengah hati, perempuan akan terus menjadi korban. Begitulah yang akan terus kita saksikan dan alami selama memakai ideologi yang sekuler dan liberal sebagaimana saat ini.

Sungguh, kesejahteraan sejati hanya akan bisa kita rasakan ketika Islam diterapkan secara kafah di setiap sendi kehidupan, termasuk dalam bidang keamanan. Hanya dalam naungan Khilafah, nyawa manusia akan sangat dihargai dan martabat para ibu tetap terjaga mulia.

Della Damayanti

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 0

Comment here