Oleh: Sindi Laras Wari, S.K.M. (Aktivis Muslimah)
Wacana-edukasi.com, OPINI--Pelayanan kesehatan yang baik sulit didapatkan dalam sistem kapitalisme. Jika ingin mendapatkan pelayanan yang lebih baik, harus merogoh kocek yang lebih pula. Inilah hidup dalam sistem kapitalis, yang memandang manfaat dan keuntungan semata. Bagaimana dengan pelayanan pada masyarakat umum?
Sulitnya pasien BPJS Kesehatan mendapatkan kamar rawat inap di beberapa rumah sakit swasta yang ada di kota Medan dikeluhkan oleh Warga Kelurahan Titipan, Kecamatan Medan Deli. Kondisi ini terjadi karena pihak RS yang selalu berdalih bahwa kamar rawat inap penuh, sehingga tidak memungkinkan lagi untuk menerima pasien (medanbisnisdaily.com, 28/7/2025).
Sulitnya mendapatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang baik dirasakan oleh banyak pihak, terutama mereka yang menggunakan BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan. Mereka yang menggunakan BPJS seperti dianaktirikan oleh pihak-pihak tertentu, sehingga tidak mendapatkan pelayanan yang baik. Padahal mereka dapat menggunakan BPJS kesehatan ketika mereka membayar full tanpa ada tunggakan, ketika terdapat tunggakan maka mereka wajib melunasinya terlebih dulu baru kemudian bisa merasakan fasilitas kesehatan.
Mayoritas masyarakat yang membayar iuran BPJS kesehatan setiap bulannya tidak boleh ada tunggakan, dan menggunakan fasilitas BPJS itu hanya beberapa kali saja. Sebab tidak ada orang yang ingin merasakan sakit dan mendapatkan rawat inap setiap bulannya, meskipun mereka membayar iuran setiap bulannya. Di tengah iuran BPJS masyarakat yang lebih banyak dibandingkan penggunaan fasilitasnya, seharusnya masyarakat mendapatkan fasilitas yang mumpuni dengan pelayanan yang baik.
Beginilah potret buram sistem sekuler kapitalis di mana keuntungan dan manfaat menjadi nomor satu dibanding dengan yang lainnya. Pelayanan yang buruk sering terjadi kepada pengguna jasa BPJS Kesehatan, namun tidak kepada orang-orang yang menggunakan fasilitas kesehatan secara umum dan yang pasti dengan biaya yang lebih dibandingkan pengguna BPJS. Karena kapitalisasi kesehatan dapat menimbulkan perbedaan yang mencolok antara yang membayar lebih dibandingkan dengan yang membayar standar.
Kesemrawutan pelayanan telah terjadi dari awal munculnya BPJS, hingga kini kesemrawutan itu terus saja berlangsung. Tak jarang prosedur yang ruwet mengakibatkan pasien terlantar, padahal harusnya pasien mendapatkan pelayanan sesegara mungkin tanpa menunggu proses administrasi yang ruwet dengan antrian yang panjang. Namun, peristiwa ini sudah menjadi hal wajar di tengah masyarakat yang menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan. Padahal, rakyat banyak berharap kepada BPJS kesehatan dari iuran yang telah dibayarkan setiap bulannya dengan fasilitas dan pelayanan yang mumpuni. Apa daya bila realita tidak sesuai dengan ekspektasi.
Seharusnya negara ikut andil dalam fasilitas dan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, agar seluruh masyarakat mendapatkan hak yang sama. Tapi pada faktanya sekarang negara hanya sebagai regulator saja, sehingga kebijakan yang ada di tiap RS berbeda sesuai dengan yang membuat kebijakan. Ditambah lagi dengan keterbatasan klaim BPJS yang membuat pihak RS jadi serba salah, prosedur administrasi yang sering menyulitkan pasien. Administrasi pasien sering diberikan arahan yang kurang jelas sehingga membuat pasien bingung dan menyulitkan.
Islam Solusi Persoalan
Dalam sistem syariat Islam, kesehatan merupakan kebutuhan mendasar bagi setiap umatnya yang hidup di bawah naungan negara Khilafah Islamiyyah. Tidak terkecuali kepada orang non muslim sekalipun akan mendapatkan fasilitas yang sama dengan orang muslim. Merata kepada seluruh kalangan, tanpa pandang buluh apakah dia termasuk kalangan orang yang kaya atau orang yang tidak mampu sekalipun. Bahkan terdapat orang yang ingin diperiksa walaupun dalam keadaan yang tidak perlu rawat inap, akan tetap dilayani oleh pelayan kesehatan di RS yang ada di dalam negeri Islam. Hingga ketika muncul hasil observasi yang menyatakan mereka tidak dalam keadaan sakit,maka mereka di izinkan untuk pulang.
Semua itu mereka lakukan karena ingin merasakan bagaimana fasilitas dan pelayanan kesehatan yang katanya benar-benar membuat kita sehat kembali. Fasilitas yang memadai di dalam negeri Islam juga merupakan hasil dari penerapan hukum Allah di dalam kehidupan bernegara. Pasalnya, Allah merupakan Al-Khaliq dan Al-Mudabbir yang menciptakan manusia sekaligus membawa aturan kehidupan bagi makhluk yang diciptakan nya.
Di dalam Islam terdapat pos keuangan negara yang akan disalurkan kepada masyarakat umum, penyalurannya bisa dalam bentuk fasilitas dan pelayanan kesehatan. Sehingga seluruh umat yang hidup di bawah naungan negara Khilafah Islamiyyah bisa menikmati fasilitas dan pelayanan kesehatan yang cukup terjangkau bahkan dapat dirasakan secara cuma-cuma. Dananya dapat diperoleh dari keuntungan pengelolaan sumber daya alam yang ada di dalam Khilafah.
Kehidupan akan sejahtera apabila menggunakan aturan dari Sang Pencipta yang maha mengetahui segala sesuatu tentang makhluk yang diciptakan oleh-Nya. Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (TQS. Al-Anbiya 21: Ayat 107)
Wallahu a’lam bish-shawab.
Views: 46


Comment here