Oleh: Dewi Puspita Sari, MT. (Pengamat Kebijakan Publik)
wacana-edukasi.com, OPINI–Sejak perang pecah pada 7 Oktober 2023 hingga pertengahan 2026, telah terjadi tiga kali gencatan senjata. Pertama: pada November 2023 yang Berlangsung selama seminggu sejak 24-11-23 yang melibatkan pertukaran sandera dengan tahanan Palestina. periode ini tidak sepenuhnya bebas dari korban jiwa. Insiden penembakan sporadis dan kekerasan di wilayah pendudukan Tepi Barat terus meningkat. Laporan dari berbagai lembaga kemanusiaan mencatat bahwa warga sipil yang mencoba kembali ke rumah mereka di wilayah utara yang masih diduduki, dilarang diakses oleh militer Israel, beberapa warga yang kesana menjadi sasaran tembakan.
Gencatan Senjata Kedua (Januari 2025): Kesepakatan gencatan senjata selama 42-60 hari yang disepakati pada 17 Januari 2025 dan mulai berlaku 19 Januari 2025 untuk menghentikan perang dan membebaskan sandera diwarnai oleh insiden kekerasan dan tuduhan pelanggaran dari kedua belah pihak. Hanya berselang beberapa hari, kesepakatan tersebut dinilai gagal akibat serangkaian insiden di lapangan.
Gencatan Senjata Ketiga (Oktober 2025): Mulai berlaku pada 10 Oktober 2025 sebagai rencana perdamaian yang membebaskan sandera dan memulangkan tahanan Palestina. Sejak deklarasi gencatan senjata di Jalur Gaza pada 10 Oktober 2025, Israel telah melanggar perjanjian tersebut dengan melakukan serangan hampir setiap hari, menewaskan ratusan orang. Israel melanggar perjanjian gencatan senjata setidaknya 3.338 kali dari tanggal 10 Oktober 2025 hingga 20 Juni 2026, melalui kelanjutan serangan udara, artileri, dan penembakan langsung, Israel juga telah menahan 100 warga Palestina dari Gaza.
Sejak 10 Oktober 2025 hingga 14 April 2026 dinyatakan bahwa Israel menembaki warga sipil sebanyak 921 kali, menyerbu daerah pemukiman di luar “garis kuning” sebanyak 97 kali, membom dan menembaki Gaza sebanyak 1109 kali, dan menghancurkan harta benda warga sebanyak 273 kali. Israel juga terus memblokir bantuan kemanusiaan yang vital dan menghancurkan rumah serta infrastruktur di seluruh Jalur Gaza (Al-Jazeera.com, 11-11-25).
Tak Ada Kata Damai terhadap Penjajah
Dari sekian banyak kesepakatan genjatan senjata, nyata semakin banyak pula pelanggaran yang dilakukan ditengah genjatan senjata. Ini sudah menjadi bukti bahwa tidak boleh ada perundingan terhadap penjajah. Haram umat Islam memberikan kepercayaan kepada Kafir Harbi Fi’lan (negara kafir yang nyata memerangi Islam) seperti AS dan sekutunya sebagai penentu keamanan umat Islam. Umat Islam harus berhenti berharap kepada penjajah AS dan Zionis sebagai negosiator. Gencatan senjata tidak pernah benar-benar menciptakan perdamaian, Barat hanya meredakan opini dunia sambil membiarkan Zionis terus menghabisi rakyat Palestina. Memberikan kepercayaan kepada AS sebagai penjamin perdamaian yang notabene sekutu Zionis adalah bunuh diri politik. Mengandalkan penjajah sebagai mediator umat Islam adalah kesalahan fatal dan hanya melanggengkan penjajahan.
Permasalahan mendasar sebetulnya adalah hilangnya pelindung umat Islam, yakni Khilafah Islamiyyah sistem pemerintahan Islam yang berdaulat. Sejarah membuktikan Khilafah yang berjaya selama 13 abad mampu membuktikan keberadaannya sebagai adidaya dunia yang mampu melindungi rakyatnya. Bayangkan jika umat kristen saja memiliki satu kekuasaan di Vatikan Roma mengapa umat Islam saat ini justru berpecah belah saling serang. Ini suatu keanehan dan kesalahan yang menghancurkan umat dari dalam. Barat telah memporak-porandakan negeri-negeri Islam dengan merubah tatanan dunia Islam menjadi pemerintahan sekuler liberal yang berkiblat pada penjajah. Keberadaan para pemimpin yang menjadi antek penjajah menjadi jalan kafir menguasai negeri-negeri Islam.
Tak cukup sampai situ, penjajah juga selalu mengadu domba negeri-negeri Islam lewat propaganda busuknya untuk memecah belah umat Islam. Mereka mengubur dan mengaburkan sejarah kemuliaan umat Islam dengan memutar balikkan fakta, membuat umat menjadi benci terhadap ajarannya sendiri. Janji Allah dan Bisyaroh RasulNya akan tegak kembali Khilafah yang dijanjikan dihilangkan dari benak umat Islam dan diganti dengan kebanggaan terhadap nasionalisme, sukuisme, fanatisme buta yang merusak.
Negeri-Negeri Islam Bersatu Kunci Kemenangan
Bersatunya umat Islam adalah keniscayaan yang tak bisa dihindari. Karena itu janji Allah yang pasti terwujud. Umat Islam harus menjadi bagian perjuangan tegaknya janji Allah agar umat Islam berjaya seperti dulu. Kejayaan umat akan terwujud, ketika umat Islam bersatu dibawah kepemimpinan yang satu Khilafah Islamiyyah yang kedua. Maka solusi Palestina yakni jihad fii sabilillah akan terorganisir dengan sempurna untuk mengusir penjajah Zionis dan ini merupakan kewajiban syar’i.
Jihad fii sabilillah dibawah naungan Daulah khilafah akan menjadi kekuatan besar yang akan diperhitungkan musuh-musuh Islam. Inilah pertarungan sejati yang seimbang. Tidak seperti saat ini ketika negara-negara besar bersatu melawan organisasi kecil yang bahkan tidak didukung negaranya. Kesadaran memperjuangkan tegaknya kembalinya Khilafah sebagai perisai umat harus menjadi cita-cita seluruh negara bangsa yang ada saat ini.
Lihatlah bagaimana keadaan dunia saat ini ketika kafir penjajah yang berkuasa dengan kapitalisnya, menghabisi siapa saja, bahkan rakyatnya sendiri demi arogansinya, sebaliknya Khilafah satu-satunya negara yang menjaga setiap jengkal tanah dan menjaga jiwa manusia sesuai fitrahnya.
Umat Islam haram berwala’ (memberikan loyalitas) kepada kafir penjajah dengan dalih apapun, sebagaimana Firman Allah Subhana Wata’ala:
فَلَا تُطِعِ الْمُكَذِّبِيْنَ. وَدُّوْا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُوْنَ
Artinya: “Maka, janganlah engkau patuhi orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah). Mereka menginginkan agar engkau bersikap lunak, maka mereka pun bersikap lunak (pula kepadamu) (TQS. Al-Qalam: 8-9).
وَلَا تَرْكَنُوٓا۟ إِلَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ فَتَمَسَّكُمُ ٱلنَّارُ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ مِنْ أَوْلِيَآءَ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ
“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, sedangkan kamu tidak mempunyai seorang penolong pun selain Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (TQS. Hud: 113).
Views: 1


Comment here