Oleh : Lely Nv (Aktivis Generasi Peradaban Islam)
Wacana-edukasi.com, OPINI–Gaza seolah menjadi panggung genosida abad 21. Setiap tetes darah yang tumpah di Gaza mencerminkan kegagalan sistem peradaban modern. Sampai detik ini, Tirto.id melaporkan banyak dari anak-anak kembali menjadi martir, mengantri untuk segera diberi pengobatan di klinik darurat.
Zionis tidak hanya membunuh penduduk Gaza dengan senjata, tapi juga dengan kelaparan yang sistematis. Bantuan kemanusiaan diblokade, titik distribusi dijadikan sasaran serangan, dan dunia? Diam, bahkan tragisnya para pemimpin negeri Islam malah bemain diplomasi dengan pemerintah Zionis. Ini bukan perang, ini sungguh adalah realitas pembantaian abad modern yang sangat terorganisir di level internasional. Amerika yang sering tampil seolah menjadi “polisi dunia” justru memberi sanksi pada staf PBB yang berani melaporkan bukti kekejaman Zionis Israel sebagai bentuk genosida (tirto.id/hebq).
Para pemimpin negeri Muslim tanpa rasa malu dan sungkan lebih memilih bersikap lunak dan mesra dengan Zionis. Papan reklame dengan judul Aliansi Abraham dipajang di Tel Aviv menjadi bukti. Dalam reklame tersebut ada foto Presiden AS Donald Trump diapit Perdana Menteri Israel Netanyahu dan sekelompok pemimpin Arab di antaranya Putra Mahkota Saudi Mohammed Bin Salman dan Presiden Suriah Ahmad Sharaa (Middle Eyes Net).
Munculnya papan reklame sesaat sebelum asap konflik Israel dengan Iran menghilang, dikabarkan mereka justru membuat kesepakatan untuk mendorong terbentuknya tatanan regional baru yang akan menjadi perisai besi terhadap ancaman Iran dan kelompok proksinya, demi keamanan dan kemenangan Zionis Israel. Bahkan Netanyahu dengan bangga berbisik: “Kesepakatan ini terwujud karena kita mengabaikan Palestina”. (Al Jazeera, 9 Februari 2025).
Untuk kesekian kali, tak butuh waktu lama bagi Zionis untuk menampakkan wajah busuknya. Meski ada kesepakatan Aliansi Abraham, rudal Zionis Israel menghujam Gedung Kementerian Pertahanan Militer Suriah di Damaskus dan pasukan pemerintah di sebelah selatan Suriah, Suweida (16/7/2025). Alasannya? “Membela kaum Druze.” Padahal Druze sendiri merupakan komunitas yang dimanfaatkan Israel sebagai alat intelijen di perbatasan Golan Heights.
Druze di sini adalah komunitas keagamaan yang berasal dari cabang Ismailiyah (abad ke-11) yang dahulu pernah mendirikan Khilafah Fatimiyah namun tidak diakui sebagai kekuasaan yang sah. Saat ini kaum Druze juga loyal dan sebagian banyak menjadi bagian dari tentara Israel. Alasan Zionis Israel begitu klise, bahwa mereka mengklaim demi menjaga kaum minoritas sebagai bentuk demokratis. Lalu, bagaimana dengan Palestina-Gaza? Patut diwaspadai ada agenda tersembunyi sebab wilayah Druze itu dekat di wilayah bukit Golan-Heights yang berbatasan dengan Israel. Atau bisa juga menjadikan Druze sebagai aset intelijen dan kaki tangan Zionis Israel menghadapi mereka yang anti Israel di wilayah terdekat khususnya Suriah, lalu mengalihkan perhatian umat dari konflik Palestina dan krisis domestik Netanyahu sendiri. Apapun itu, umat Islam bisa melihat di mana peran pemimpin negeri-negeri muslim terhadap genosida rakyat Palestina hari ini.
Demokrasi: Alat Pembunuh Berlisensi
Semua peristiwa dunia tak lepas dari pengaruh sebuah sistem kebijakan. Sampai detik ini, demokrasi sering dijual seakan obat mujarab pada konflik global, termasuk di Gaza-Palestina. Seolah menjadi jalan tengah, nyatanya demokrasi hanya jalur kompromi kepentingan Barat. Bahkan AS senantiasa memveto setiap resolusi PBB yang mengutuk Israel, sambil mengirimkan bom senilai miliaran dolar. Di mana suara “polisi dunia” ketika gudang bantuan justru di bom? Di mana teriakan HAM ketika bayi Gaza mati karena kurang gizi dan ketiadaan listrik serta inkubator?
Sistem hari ini terbukti hanya menjadi alat legitimasi pendudukan Zionis. Adanya pemilu, kebebasan berbicara, dan HAM ala Barat hanya ilusi dan menjadi bukti pengkhianatan terbesar para pemimpin negeri Islam terhadap persoalan Gaza, yang telah mengabaikan nyawa anak-anak Gaza demi kepentingan mempertahankan kekuasaan mereka sendiri.
Kritik Tanpa Aksi
Tak terhitung pengamat geopolitik juga masyarakat sipil mengutuk kekejaman Zionis. Tidak ada satupun yang mengingkari bahwa ini bentuk kekejian yang sangat nyata. Tapi meski sudah lebih dari 70 tahun, dunia internasional dan umat Islam khususnya, masih belum bisa bersepakat bersatu untuk mengambil solusi yang nyata.
Bagi umat Islam, solusi hakiki cuma satu, kembali merujuk pada apa yang telah disampaikan Rasulullah saw. sebagai suri tauladan terbaik, mengambil solusi hanya dari Islam.
Allah Swt dalam surat Al-Ma’idah Ayat 48:
“Dan Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya dan menjaganya. Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan, dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan syariat dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu. Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu Dia menerangkan kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan.“
Allah Swt secara tegas memerintahkan pada umat Nabi saw. untuk tidak mengikuti keinginan (hawa nafsu) mereka dengan meninggalkan kebenaran, yaitu Al Quran dan As Sunnah. Allah Swt mengutus Nabi saw membawa risalah Islam berfungsi sebagai pemutus berbagai permasalahan kehidupan.
Termasuk kondisi hari ini, solusi Gaza satu-satunya adalah dengan jihad. Perintah nyata untuk jihad secara syar’i yakni perang diatur dalam Islam bukan untuk menzalimi, melainkan semata melaksanakan bagian dari hukum Allah.
QS. Al Baqarah ayat 193, Allah Swt berfirman: “
“Dan perangilah orang-orang kafir itu sampai mereka tidak melakukan kemusyrikan, tidak menghalang-halangi manusia dari jalan Allah, tidak ada lagi kekafiran, dan agama yang menang adalah agama Allah,…”
Syariat Jihad tanpa sebuah institusi yang berdasarkan sistem Islam amat sangatlah sulit, jika tidak mau disebut mustahil. Kondisi negeri-negeri Islam yang kini terpecah menjadi lebih dari 50 negara, pasti membutuhkan koordinasi yang solid untuk menyatukannya. Dan ini mustahil jika umat Islam di berbagai belahan dunia tidak memiliki kepemimpinan yang satu. Itulah Khilafah. Sebuah institusi negara dengan sistem kepemimpinan tunggal umat Islam yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. dan ratusan tahun setelah kepemimpinan beliau, umat Islam senantiasa memiliki Khalifah yang sama untuk memimpin mereka, hingga diruntuhkan oleh Kemal Attaturk pada tahun 1924. Maka Khilafah bukan lagi sebuah pilihan, tapi bagian dari perintah Allah untuk melaksanakan syariat-Nya secara sempurna yang tidak bisa dilakukan oleh individu ataupun kelompok. Bayangkan, Khilafah dengan satu pasukan, satu komando, satu strategi. Dengan jumlah umat Islam saat ini yang hampir 2 miliar, umat punya potensi kekuatan 10x NATO, ditambah SDA yang berlimpah, dan letak geografis negeri-negeri muslim yang menguasai jalur perdagangan dunia.
Agar umat sadar, di sinilah peran penting dakwah, menyampaikan bahwa bahaya terbesar bukan hanya serangan fisik, tetapi juga ancaman ideologi yang melemahkan semangat jihad. Seperti bercokolnya sistem kapitalisme, sekularisme, demokrasi dan nasionalisme, menjadi racun yang memecah belah umat. Jangan lagi umat berharap dengan thariqah (metode) yang salah, yang justru hanya melenakan umat dan menjual harapan. Kurang bukti apalagi? Sudah ribuan kali solusi jalur kompromi sistem demokrasi dan terbukti selalu gagal atau digagalkan!
Umat wajib belajar dari sejarah. Mencermati kegigihan dan kesabaran Rasulullah saw. beserta kaum muslim ketika mengalami pemboikotan dari adanya perjanjian Hudaibiyah. Tidak sejengkal pun Rasulullah saw. mengambil jalan kompromi dengan petinggi-petinggi kafir Quraisy. Inilah pentingnya keistikamahan dan ketakwaan secara kolektif terus dijalani dan digaungkan.
Mengutip kalimat tokoh cendikiawan, Ustaz Ismail Yusanto di forum para Tokoh umat & Liqo Muharram, “Mengapa perubahan yang diusahakan hari ini gagal terwujud? Sebab perubahan yang digagas seringkali bersifat kosmetik bukan sistemik. Seringkali bicara tentang perubahan hanya pada tatanan individu atau moralitas parsial (kosmetik). Sementara sistem sosial, politik, ekonomi yang ada masih mewarisi sistem kolonial dan hegemoni global hari ini. Beliau menambahkan, seringkali kita kehilangan arah dan visi perubahan. Harusnya sebagai seorang muslim arah perubahan itu ke arah Islam dengan dasar Islam (sistemik), (Juli 2025).
Gaza perlu solusi nyata dan segera, yaitu jihad. Inilah solusi yang diajarkan Islam sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah saw. yang akan memutus rantai penjajahan dan menghentikan penderitaan umat Islam, tidak hanya di Palestina, tapi juga di berbagai belahan dunia. Sejarah mencatat, yang mampu menjaga nyawa, harta dan kehormatan umat hanyalah dengan menerapkan seluruh hukum Allah swt. dan persatuan umat Islam. Itu lah Khilafah.
Wallahu’alam bishowab
Views: 12


Comment here