Wacana-edukasi.com, SURATPEMBACA–“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan ulah tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali kepada jalan yang benar.” (TQS. Ar-Rum : 41)
Negeri ini kembali berduka. Bencana kembali menyelimuti negeri yang katanya sebagai “Paru-Paru Dunia”, dengan segala manfaat juga keindahan diantaranya dari hutan Kalimantan dan Papua. Namun kini, hutan-hutan hijau yang seharusnya menjadi sumber penghidupan, tempat ternyaman bagi hewan juga tumbuh-tumbuhan didalamnya, kini berubah menjelma menjadi kobaran api yang siap melahap apa saja yang ada di dekatnya. Kepulan kabut asap yang terus menyebar memenuhi pemukiman, membuat sesak setiap nyawa yang ada, hingga kini terasa seperti neraka dunia.
Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan) di Kalimantan, menjadi sebuah bencana besar bagi negeri ini. Karhutla yang belum tertangani secara tuntas sejak Agustus hingga sekarang, menjadi sebuah alarm bahwa kerusakan alam negeri ini sudah amat sangat parah. Berawal dari keinginan penguasa yang ingin menggenjot ekonomi berbasis sumber daya alam. (bbc.com, 25/08/2026).
Bencana berikutnya adalah nirempati dari para penguasa, sebagai wujud asli dari cetakan peradaban kapitalis-sekuler. Ditengah situasi bencana yang belum usai, korban yang terus berjatuhan, hingga hilangnya nyawa-nyawa tak berdosa, akan tetapi mereka yang katanya sebagai pemimpin dari negeri ini, justru seperti memperolok-olok para
korban. Seperti pernyataan yang diungkapkan oleh Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran, ia mengatakan karena bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi (trends.tribunnews.com, 14/10/2026).
Harapan di Tengah Duka
Di tengah duka yang masih melekat, rasa takut yang kian merasuk, akan tetapi bagi seorang muslim haruslah tetap yakin kepada-Nya bahwa akan ada masa dimana Allah SWT akan mengeluarkan manusia dari keadaan gelap gulita, kepada keadaan aman sentosa. Allah SWT berfirman:
“Dengan Kitab itulah Allah menunjukkan kepada orang yang mengikuti keridaan-Nya jalan-jalan keselamatan, dan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya (iman) dengan izin-Nya, dan menunjukkan kepada mereka jalan yang lurus.” (TQS. Al-Maidah : 16)
Tentu janji-Nya haruslah diiringi dengan hamba-hambanya yang taat pada-Nya. Dengan indikator mereka mau mengikuti, mengamalkan, dan menerapkan kitab Allah (Al-Qur’an) dalam seluruh aspek kehidupan. Karena sebab inilah, kelak akan lahir dari rahim peradaban Islam yaitu sosok pemimpin-pemimpin yang dirindukan seperti sosok Umar bin Khattab.
Sepenggal Episode Umar bin Khattab dalam Menangani Bencana
Umar bin Khattab adalah salah satu sahabat Nabi yang dijamin masuk surga. Selain itu ia juga terkenal dengan pribadi yang kuat, tegas, dan teguh terhadap pendirian Islam. Hingga saat ketika Umar bin Khattab diangkat menjadi seorang khalifah (pemimpin untuk seluruh kaum muslim), ia benar-benar memastikan agar tidak ada rakyatnya yang kelaparan dan terdzalimi. Begitupun saat bencana melanda, Umar bin Khattab sebagai pemimpin secara cepat tanggap menangulangi bencana.
Seperti dikisahkan saat kepemimpinan Umar bin Khattab, pernah terjadi di wilayah Madinah bencana kelaparan ekstrem akibat
kemarau panjang. Kondisi ini menjadikan kebun dan ladang mengalami kekeringan hingga mati dan tidak berbuah. Mata air surut mengering. Maka ketika itu Umar bin Khattab dengan sigap langsung membentuk tim tanggap darurat di perbatasan Madinah untuk mendata dan mencatat jumlah pengungsi. Ia juga memobilisasi logistik lintas wilayah dan mengerahkan segalanya untuk meminta bantuan pasokan makanan dan gandum secara besar-besaran dari para gubernur di luar Madinah, seperti Abu Musa Al-Asy’ari (Bashrah) dan Amr bin Ash (Mesir).
Begitupun, saat terjadi gempa bumi di Madinah, Khalifah Umar bin Khattab melakukan muhasabah diri serta menegur seluruh masyarakat agar bersegera bertobat dan meninggalkan kemaksiatan. Ia memandang bencana ini bisa jadi sebagai teguran langsung dari Allah Swt, karenanya ia meminta seluruh masyarakat untuk kembali kepada hukum syariat dan meninggalkan kemaksiatan, tidak berlaku dzalim, dan termasuk tidak merusak alam juga lingkungan. Karena merusak alam, merupakan salah satu bentuk kemaksiatan yang dapat mengundang datangnya bencana alam.
Betapa sangat rindu terhadap sosok pemimpin seperti Khalifah Umar bin Khattab saat ini. Ia akan cepat tanggap untuk mengurusi rakyatnya dan berlaku adil terhadap seluruh masyarakat. Kelak saat peradaban Islam hadir, atas izin dari-Nya akan lahir pemimpin-pemimpin seperti Umar bin Khattab.
Sahreva Kurniati, S.Pd., C.M.T.
Bandung, Jawa Barat
Views: 3


Comment here