Oleh Ummi Nissa (Pegiat Literasi)
Wacana-edukasi.com, OPINI–Harga bahan bakar minyak (BBM) kian bergejolak seiring memanasnya konflik global yang memengaruhi pasokan energi dunia. Penutupaan selat Hormuz telah memicu ketidakpastian harga minyak mentah. Kondisi ini berdampak langsung pada kebijakan energi di dalam negeri.
Meski pemerintah menyatakan bahwa BBM bersubsidi tidak mengalami kenaikan, namun fakta di lapangan menunjukkan tekanan yang nyata. Harga BBM nonsubsidi mulai menyesuaikan harga. Untuk jenis solar nonsubsidi, lonjakan harga lebih terasa. Dexlite kini berada di level Rp14.200 per liter dari sebelumnya Rp13.250, sedangkan Pertamina Dex naik menjadi Rp14.500 per liter (Kompas.com).
Di beberapa daerah terjadi antrean panjang kendaraan untuk mendapatkan pasokan BBM. Bahkan, tidak sedikit masyarakat yang terpaksa membeli BBM secara eceran dengan harga jauh lebih tinggi. Kondisi ini semakin diperumit oleh tersendatnya distribusi akibat kapal tanker yang masih tertahan di jalur strategis internasional, sehingga pasokan dalam negeri menjadi terganggu.
Dalam kondisi ini, pemerintah berupaya menahan gejolak melalui skema subsidi yang ditopang oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Akan tetapi, lonjakan harga minyak dunia membuat daya tahan fiskal menjadi sangat terbatas. Subsidi yang digelontorkan hanya mampu menjadi “penyangga sementara”, bahkan diperkirakan tidak akan bertahan lama, hanya dalam hitungan minggu.
Oleh karena itu, berbagai langkah penghematan mulai diberlakukan. Mulai dari kebijakan work from home (WFH), pembatasan pembelian BBM untuk kendaraan roda empat, hingga pengurangan aktivitas tertentu dalam program pemerintah. Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap sektor energi telah menjalar ke berbagai aspek kehidupan.
Pemerintah kini berada dalam posisi yang serba sulit. Jika harga BBM dinaikkan, maka dampaknya hampir bisa dipastikan akan memicu inflasi yang lebih tinggi, menekan daya beli masyarakat, dan berpotensi menimbulkan gejolak sosial. Terlebih, tanpa kenaikan harga pun, antrean panjang sudah terjadi di berbagai wilayah.
Di sisi lain jika harga tetap dipertahankan, APBN akan menanggung beban yang semakin berat dan berisiko memperlebar defisit anggaran. Dilema ini mencerminkan rapuhnya ketahanan energi nasional yang masih bergantung pada dinamika eksternal.
Dampak dari Ketergantungan pada Komoditas Impor
Sebagai negara net importir minyak, Indonesia berada dalam posisi yang sangat rentan terhadap perubahan global. Ketergantungan pada impor membuat pasokan dan harga BBM dalam negeri tidak sepenuhnya berada dalam kendali negara. Ketika terjadi konflik geopolitik, gangguan jalur distribusi, atau lonjakan harga minyak dunia, dampaknya langsung terasa hingga ke tingkat masyarakat. Kondisi ini bukan hanya persoalan teknis, melainkan persoalan struktural yang menunjukkan bahwa fondasi kemandirian energi belum kokoh.
Dampak dari kondisi ini sangat luas. Masyarakat tidak hanya kesulitan mendapatkan BBM, tetapi juga harus menghadapi kenaikan biaya hidup akibat inflasi. Sektor transportasi terganggu, distribusi barang menjadi lebih mahal, dan harga kebutuhan pokok pun dapat dipastikaan akan melonjak. Dalam jangka panjang, situasi ini dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi dan memperlebar kesenjangan sosial. Dengan kata lain, gonjang-ganjing BBM bukan sekadar isu energi, tetapi telah menjadi persoalan sosial-ekonomi yang kompleks.
Semua kondisi ini menggambarkan bagaimana ketergantungan pada impor komoditas strategis dapat membuat sebuah negara mudah terguncang oleh sentimen global. Negeri ini meski memiliki sumber energi yang melimpah, namun untuk memenuhi pasokan BBM dalam negeri masih bergantung pada Impor. Selama sumber energi utama masih bergantung pada pasokan luar, maka stabilitas ekonomi dan politik akan selalu berada dalam bayang-bayang ketidakpastian. Setiap krisis global berpotensi menjadi krisis domestik, sebagaimana yang terjadi saat ini.
Negeri Muslim dalam Kendali Kapitalisme Global
Inilah kondisi umum negeri negeri muslim di dunia yang berada dalam kendali sistem ideologi kapitalis global. Negara adidaya seperti As tidak akan membiarkan negeri lainnya ada dalam kemandirian secara ekonomi dan politik. As sebagai sebuah negara adidaya akan senantiasa mempertahankan pengaruhnya di dunia internasional dengan menjadikan negara-negara lain tetap tunduk pada setiap kebijakannya. Dalam perjanjian dagang internasional, Impor komoditas barang termasuk energi, menjadi salah satu syarat yang harus diikuti agar eksistensi suatu negara diakui secara global. Oleh karena itu, tidak heran, jika banyak negeri muslim yang tergantung pada komoditas impor termasuk energi untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya.
Sistem Islam Membangun Kemandirian Negara
Islam memandang bahwa kekayaan alam yang tidak terbatas sebagai kepemilikan umum yang pengelolaannya dilakukan oleh negara dan tidak boleh dimonopoli. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.: “Kaum muslim berserikat dalam tiga hal yaitu padang rumput, air, dan api.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)
Dari hadis tersebut, para ulama berpendapat bahwa energi minyak termasuk kategori api yang merupakan kepemilikan umum.
Pada faktanya negeri-negeri Islam di dunia memiliki sumber daya alam termasuk cadangan minyak yang melimpah. Hal ini memungkinkan bagi untuk umat Islam memenuhi kebutuhan energinya. Untuk membangun kemandirian energi, Islam menawarkan konsep melalui pengelolaan kolektif dalam satu kepemimpinan yang menyatukan negeri-negeri muslim dalam satu institusi politik global. Dengan wilayah yang luas dan kaya sumber daya, (termasuk cadangan minyak yang melimpah di kawasan Timur Tengah) kebutuhan energi seluruh wilayah dapat dipenuhi secara mandiri tanpa bergantung pada pihak luar.
Dalam sistem Islam ini, distribusi energi dilakukan secara adil untuk seluruh rakyat, bukan berdasarkan mekanisme pasar yang rentan spekulasi. Negara memiliki kendali penuh atas sumber daya strategis, sehingga mampu menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pasokan. Dengan kemandirian tersebut, negara tidak hanya kuat secara ekonomi, tetapi juga memiliki posisi politik yang lebih stabil dan tidak mudah terpengaruh oleh tekanan global.
Meski demikian, Islam juga mengajarkan bahwa pemanfaatan energi harus dilakukan secara bertanggung jawab. Penghematan tetap dilakukan, namun difokuskan pada aspek yang tidak mengganggu pelayanan publik dan kewajiban negara. Negara juga didorong untuk mengembangkan sumber energi alternatif, seperti energi nuklir dan teknologi lainnya, guna memastikan keberlanjutan pasokan energi dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, gejolak BBM yang terjadi hari ini seharusnya menjadi momentum refleksi. Bahwa persoalan energi tidak cukup diselesaikan dengan kebijakan jangka pendek atau tambal sulam anggaran. Diperlukan perubahan mendasar dalam cara pandang dan pengelolaan sumber daya energi agar kemandirian benar-benar terwujud. Tanpa itu, setiap gejolak global akan terus berulang dampaknya di dalam negeri, serta membawa ketidakpastian, tekanan ekonomi, dan keresahan bagi masyarakat luas.
Wallahua’lam bissawab.
Views: 7


Comment here