Opini

Tragedi Kanjuruhan : Fanatisme Berujung Maut

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh : Rines Reso

(Pemerhati Masalah Sosial)

wacana-edukasi.com– Sebanyak 131 orang tewas usai pertandingan Persebaya lawan Arema, inilah tragedi Kanjuruhan berduka. Tragedi Kanjuruhan berduka adalah sebuah tragedi mengerikan yang terjadi di Malang pada sabtu malam 1 Oktober 2022.

Sebagaimana yang di lansir oleh salah satu media, pertandingan Arema FC melawan Persebaya Surabaya menimbulkan duka mendalam bagi dunia pesepakbolaan Indonesia. Ratusan Aremania dinyatakan meninggal dunia dan lainnya mengalami luka-luka akibat kejadian ini (Republika.co.id,02/10/2022).

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Pemprov Jawa Timur Sabtu (8/10) pukul 08.00 WIB, jumlah korban meninggal dunia 131 orang, luka ringan sebanyak 550 orang, luka berat 23 orang, dan 37 masih menjalani perawatan di rumah sakit.

Tak ada sepak bola yang sebanding dengan nyawa, tapi di kanjuruhan 131 nyawa melayang. Kerusuhan yang terjadi di Kanjuruhan adalah potret buruk fanatisme golongan, yang sudah berulang terjadi, dan kali ini adalah yang paling parah akibatnya.

Pada awalnya, sabtu malam 1 Oktober 2022 Arema kalah di kandangnya melawan Persebaya. Pertandingan berakhir dengan skor 2 – 3 ini pertama kalinya Persebaya Surabaya menang atas Arema setelah 23 tahun. Tapi ternyata kemenangan malah menyulut supporter Aremania turun kelapangan untuk meluapkan kekecewaannya. Para oknum suporter melemparkan botol. Kemudian polisi mengambil tindakan menembakkan gas air mata hingga ke arah tribun. Para penonton pun sesak nafas dan berusaha keluar . Dalam kepanikan mereka saling injak sampai akhirnya merenggut setidaknya 131 nyawa.

Siapa Yang Salah?

Sebenarnya tragedi ini kombinasi dari ketidakpedulian semua pihak yang terlibat.
Pertama, sejak awal penjualan tiket sudah melanggar. Tiket di cetak sebanyak 45.000 lembar padahal kapasitas stadiun cuma 42.000 orang saja.

Kedua, operator dan broadcaster. PT LIB bersikeras melaksanakan pertandingan di malam hari yang lebih rawan kerusuhan dengan alasan komersial untuk kepentingan broadcast.

Ketiga, supporter Arema yang anarkis memicu kericuhan. Para oknum ini sudah membuat situasi membahayakan untuk official dan juga penonton lainnya yang banyak di antaranya masih anak-anak.

Keempat, tindakan aparat yang menembakkan gas air mata yang menimbulkan kepanikan dan kemarahan. Kapolda Jawa Timur mengatakan, penembakan gas air mata sudah sesuai dengan prosedur. Padahal pada faktanya, dalam FIFA Stadium Safety and Security Regulation disebut dalam pasal 19 “senjata api dan gas untuk mengontrol kerumunan dilarang di bawa dan di gunakan”.

Disinilah diperlukan revolusi pemahaman. Bahwa harus ada kesadaran bagi para suporter tentang menang dan kalah adalah hal yang ladzim dalam sebuah pertandingan. Yang tidak ladzim adalah bersikap anarkis akibat kekalahan klub olah raganya. Pemain dalam klub itu adalah manusia biasa yang memiliki kelemahan dan tidak selamanya akan menang.

Pada level negara, kerusuhan ini harusnya menjadi renungan bagi negara ternyata bukan hanya aspek ekonomi negara ini babak belur namun sepak bola pun memiliki problematika yang mengakibatkan orang tidak terselamatkan.

Fanatisme Golongan dalam Islam

Adalah bukan hal yang terpuji manakala fanatisme terhadap golongan baik itu kepada suku, kelompok, supporter/fans menjadikan kita harus saling serang yang berujung pada kehilangan nyawa.

Ada baiknya semangat saling mencintai dan rasa kebersamaan itu lahir untuk sesuatu yang bermanfaat dan mengarahkan pada kebangkitan umat hari ini. Negeri ini sudah terpuruk dari segala aspek, baik ekonomi, politik, pendidikan dan lainnya. Tak elok kiranya pernasalahan sepak bola negeri ini menambah catatan kelam bagi masa depan generasi.

Energi kita harusnya diarahkan kepada perubahan secara mendasar yakni pemikiran secara menyeluruh bahwa negeri kita hari ini sedang tidak baik-baik saja, kezaliman kian nampak, kesewenang-wenangan penguasa dalam menetapkan kebijakan, dan tata kelola negara yang masih perlu perbaikan harusnya menjadikan pemicu untuk umat ini bergerak.

Jika sepak bola yang berkaitan dengan hobi ataupun kesenangan begitu kita perjuangkan, apatah lagi urusan akhirat yang sudah jelas akan kita songsong. Jangan karena fanatik justru melupakan tujuan penciptaan kita. “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. (TQS. Az Zariyat: 56)

Allah subhanallahu wa ta’ala memerintahkan kita bersatu bukan dibawah bendera atau dasar kecintaan kepada golongan, sebab agama ini adalah agama kasih sayang yang tidak membatasi kecintaan hanya terbatas golongan tertentu, “Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara…” (TQS. Ali Imran:103).

Semoga tragedi Kanjuruhan adalah kasus terakhir dalam kasus persepak bola nasional dinegeri ini dan semoga korban meninggal Allah ampuni dosa-dosanya, dan menerima amal kebaikan mereka semasa hidup di dunia. Aamiin. (*)

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 21

Comment here