Oleh: Elis Ummu Alana
Wacana-edukasi.com, OPINI–Indonesia menduduki peringkat pertama dari 11 negara di ASEAN dan peringkat ke 7 di Asia. Walaupun kemudian Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Indonesia mengalami penurunan dari 4,82 persen menjadi 4,76 persen per Februari-Maret 2025, namun, fakta menunjukkan bahwa jumlah pengangguran mengalami peningkatan akibat membludaknya jumlah korban PHK dari banyaknya industri yang tumbang sejak sejak tahun 2022 lalu (detik.com 09/08/2025).
Pengangguran di Indonesia saat ini didominasi oleh anak-anak muda dengan usia produktif. Kran impor yang dibuka terlalu deras oleh pemerintah sedangkan ekspor barang tersendat akibat filtrasi ketat negara-negara tujuan ekspor. Alhasil Industri dalam negeri gulung tikar dan badai PHK pun tak bisa dielakkan lagi.
Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Muhaimin Iskandar atau Cak Imin memberikan pernyataan mengenai strategi pemberdayaan masyarakat untuk mencegah kelompok menengah ke bawah jatuh ke kelas ekonomi yang lebih rendah. Cak Imin menegaskan pemerintah juga fokus mengatasi pengangguran. Upaya ini dilakukan dengan menciptakan lapangan kerja baru, baik di desa maupun di kota, melalui penguatan UMKM, koperasi desa, serta kegiatan lintas kementerian (kompas.com 03/11/2025).
Dan ternyata bukan hanya di Indonesia, kondisi serupa juga terjadi di belahan dunia lain. Beberapa negara maju seperti Inggris, China hingga prancis melaporkan di negaranya banjir pengangguran. Fakta ini menunjukan bahwa saat ini, masalah pengangguran tengah menjadi issue global. Masih menurut artikel tersebut, hal ini merupakan salah satu akibat dari tekanan inflasi global dan ketidak pastian politik sehingga berpengaruh pada melambatnya pertumbuhan ekonomi global (cnndonesia.com 30/08/2025).
Banjir Pengangguran
Iklim politik global yang tidak sehat diyakini sebagai pemantik krisis ekonomi global saat ini, termasuk issue Palestina yang kian meluas dan konflik panjang Rusia dan Ukraina. Atmosfer politik yang tidak sehat dengan kurun waktu yang cukup panjang pada akhirnya berpengaruh besar pada tatanan ekonomi. Tentu saja hal ini tidak datang secara serta merta, ada skema besar yang menjadi sumbu yang menyulut tumbangnya perekonomian global.
Adalah sistem ekonomi kapitalis yang diadopsi sebagai ideologi oleh mayoritas negara di dunia nyata-nyata menjadi dalang inflasi ekonomi global saat ini. Sistem kapitalis juga menyuburkan praktek monopoli usaha dan praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme di jajaran pejabat publik. Sementara rakyatnya hanya menjadi penonton yang saja.
Di Indonesia sendiri, fenomena banjir pengangguran terjadi di tengah kondisi kenaikan pajak, asuransi wajib kesehatan, tarif listrik hingga kenaikan harga kebutuhan pokok. Kondisi inilah yang membuat rakyat semakin terpuruk, tatanan keluarga menjadi terganggu karena banyak kepala keluarga yang menganggur dan tidak mampu memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Tak jarang yang memilih jalan pintas yang salah dari mulai judi online, bertindak kriminal hingga mengakhiri hidup.
Upaya pemerintah dengan mengadakan jobfair pun tidak mampu memberi solusi menurunnya angka pengangguran karena kondisi industri dalam negeri saat ini tengah dalam kondisi sekarat. Begitu juga dengan pembukaan sekolah kejuruan dan jurusan vokasi yang dijanjikan bisa menjadi solusi untuk memudahkan lulusannya mendapat pekerjaan. Nyatanya vokasi ilmu yang didalaminya di sekolah tidak bisa diterima di industri karena tidak sesuai dengan standar kerja.
Fakta ini menunjukan bahwa negara sebagai penyelenggara pemerintahan tidak serius memberi solusi untuk permasalahan pengangguran. Negara sebatas berkontribusi dalam membuat kebijakan makin blunder dan menambah derita pekerja. Terbukti iklim kerja yang cenderung sangat fleksibel menjadikan pengusaha bisa memecat karyawan sesuai keinginannya. Selain itu, praktek monopoli usaha yang dilakukan para pengusaha juga mempersempit ruang gerak UMKM. Yang pada akhirnya menjadikan rakyat hanya berperan sebagai pekerja dan objek pasar semata.
Merujuk pada laporan pada laman celios.co.id yang dipublikasikan pada September tahun 2024 lalu, disebutkan bahwa kekayaan 50 orang terkaya di Indonesia setara dengan kekayaan 50 juta rakyat Indonesia. Wajar jika kemudian fakta yang terjadi adalah kekayaan terkonsentrasi pada satu atau sebagian orang saja. Pada akhirnya jelas kapitalisme hanya melahirkan sekat-sekat sosial di masyarakat yang pada akhirnya memicu konflik sosial antar masyarakat maupun antara rakyat dan pemerintah. Konflik ini akan terus berlangsung manakala negara dan rakyatnya masih menginduk pada ideologi yang terlanjur keliru ini.
Menuntaskan Masalah Pengangguran
Untuk memutus mata rantai pengangguran ini butuh sistem yang terintegrasi dan tersistematis dengan pasti. Jelaslah itu bukan sistem kapitalis yang saat ini digunakan mayoritas negara maju di dunia. Satu-satunya sistem yang bisa menyelesaikan issue pengangguran ini hanyalah sistem Islam. Mengapa demikian ? Karena hanya sistem kepemimpinan Islam yang lahir dari aturan Tuhan Pemilik Semesta Alam.
Dengan potensi yang dimilikinya sistem Islam diyakini mampu menuntaskan permasalahan pengangguran. Dimulai dengan mempersiapkan SDM yang berkualitas melalui pendekatan di bidang pendidikan lewat rancangan kurikulum yang tepat sehingga menghasilkan generasi muda yang tidak hanya memiliki wawasan yang luas akan tetapi memiliki keterampilan bekerja, bersosialisasi, kreatif dan kepribadian yang shalih dan yang tak kalah penting adalah penempatan pekerjaan sesuai bidang ilmu yang ditekuni, hal ini sesuai dengan konsep pendidikan dalam Islam Ilmu lil ‘amal.
Konsep solusi sistem Islam dalam menuntaskan issue pengangguran selanjutnya adalah melalui penyelenggaraan industri mandiri. Jadi negara meminimalisir ketergantungan pada investor asing dan utang luar negeri sehingga negara memiliki kendali penuh atas pengelolaan SDA dan industri yang vital, yang nantinya hal tersebut membuka peluang besar adanya lapangan pekerjaan yang banyak untuk rakyat. Langkah inipun sesuai dengan konsep ekonomi Islam yang melarang praktik ekonomi haram seperti riba dan monopoli usaha. Dan konsep ini juga yang nantinya akan menjadi solusi tidak adanya penumpukan harta pada segelintir orang saja.
Yang tak kalah penting dalam mengelola SDA dan industri dalam negeri adalah peran negara dalam membuat regulasi yang ketat dalam hal ekspor dan impor. Regulasi ini akan membuay industri dalam negeri berkembang dan panjang umur sehingga mampu menghidupi kebutuhan domestik warganya dan ladang usaha rakyat.
Penguasa dalam Islam bertanggung jawab penuh dalam memberikan jaminan kesejahteraan terhadap rakyatnya sebagai bentuk manifestasi dari akidah dan ketakwaan terhadap Rabb-Nya. Inilah konsep kepemimpinan yang tidak dimiliki oleh sistem kepemimpinan yang berbasis sekuler, kapitalis dan sosialis, dan hanya mampu diterapkan dalam Islam yang rahmatan lil’alamin, yang membawa kebaikan dan keberkahan bagi umat.
Views: 21


Comment here