Wacana-edukasi.com, SURAT PEMBACA–Kematian seorang anak perempuan bernama Raya usia 4 tahun, mengungkap kegagalan sistemik dalam perlindungan anak juga pelayanan kesehatan di Indonesia. Ia meninggal dalam keadaan mengenaskan dipenuhi oleh cacing didalam tubuh mungilnya. Bukan karena penyakit, melainkan karena pengabaian berbagai sisi.
Raya, berasal dari keluarga kurang mampu, kedua orang tuanya hidup dalam kemiskinan, rumah mereka sempat roboh dan hanya diperbaiki oleh bantuan dari warga setempat. Kondisi semakin sulit sebab ibu Raya pengidap gangguan kesehatan mental, membuat pengasuhan terhadap Raya menjadi tidak optimal.
Setiap hari Raya bermain di bawah kolong rumah panggung yang kotor dan dipenuhi oleh kotoran ayam. Dari sanalah infeksi mulai menyerang tubuh mungilnya, perlahan namun pasti.
Pada 23 Juli 2025 Raya dibawa ke Rumah Sakit oleh tim Relawan Rumah Teduh Sahabat Iin. Dari hasil pemeriksaan dari tim medis diketahui tubuh Raya dipenuhi oleh cacing gelang dan cacing hidup sepanjang 15 Cm dari dalam hidungnya. Namun, karena tidak lengkap dokumen tim relawan mengalami kesulitan karena tidak memiliki BPJS, jika tidak maka seluruh biaya harus dibayar secara mandiri. Biaya pengobatan selama perawatan 9 hari yakni 29 juta. Kondisi Raya tak kunjung membaik hingga akhirnya ia meninggal dunia. Dilansir Kumparan.com ( 23/08/2025).
Ironisnya, perhatian pejabat muncul karena beritanya viral di media sosial. Kasus Raya adalah cerminan gagalnya sistem perlindungan sosial terhadap anak saat perlindungan dibutuhkan. Kasus Raya juga menjadi bukti bahwa pelayanan kesehatan di negeri ini belum mampu memberikan jaminan kesehatan terutama bagi mereka yang miskin dan rentan, termasuk anak-anak.
Mekanisme layanan kesehatan yang ada masih sebatas formalitas, prosedur yang rumit membuat layanan kesehatan seperti Kartu Keluarga, BPJS, dan KTP tidak bisa diakses oleh setiap orang.
Hadirnya negara ditengah-tengah masyarakat juga tidak mampu memberikan perlindungan bagi rakyat miskin dan lemah bahkan terkesan abai. Bagi masyarakat miskin dibiarkan hidup dalam kondisi sulit dan lingkungan yang tidak sehat, juga dalam pelayanan lebih menomorsatukan prosedur dibandingkan keselamatan nyawa manusia.
Kondisi buruk ini merupakan dampak penerapan sistem kapitalisme yang menjadikan pelayanan kesehatan sebagai komoditas bukan hak . Mereka yang punya uang yang bisa mendapatkan akses kesehatan dengan layak. Sedangkan rakyat kecil dibiarkan tetap sengsara tanpa ada rasa peduli terhadap nasib mereka.
Kapitalisme melahirkan ketimpangan yang tajam. Rumah sakit beroperasi layaknya perusahaan, dan pasien dianggap sebagai konsumen. Negara pun cenderung berpihak pada pasar bukan pada rakyatnya. Selama sistem layanan kesehatan kapitalisme yang memimpin, maka akan lahir tragedi kematian seperti Raya akan terulang kembali. Kesehatan hak dasar bagi setiap individu manusia dan tanggung jawab mutlak oleh negara. Negara juga tidak hanya berperan sebagai penyelenggara pelayanan, akan tetapi juga sebagai penjamin kesehatan rakyatnya.
Dalam Islam datang dengan sistem yang benar dan memiliki prinsip tanggung jawab negara terhadap rakyat sangat jelas. Sebagaimana Rasulullah S.a.w bersabda “Imam (Pemimpin/Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas urusan mereka ( HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa seorang pemimpin negara wajib menjamin kebutuhan dasar rakyatnya termasuk layanan kesehatan, tidak memandang si kaya dan si miskin. Negara tidak boleh diam apalagi menyerahkan tanggung jawab kepada mekanisme pasar yang mengandalkan untung dan rugi.
Lebih dari itu, Islam juga membangun sistem sosial yang kuat yakni ukhuwah (persaudaraan). Seorang muslim tidak pernah diam ketika ada saudaranya dalam kesulitan. Rasulullah S.a.w bersabda “Perumpamaan orang-orang Mukmin saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi seperti satu tubuh”. (HR. Bukhara dan Muslim).
Selain itu, khilafah dengan mekanisme zakat, sedekah, dan Baitul maalnya memastikan tidak ada satupun rakyatnya jatuh ke dalam lubang kemiskinan atau kesakitan tanpa pertolongan. Sejarah mencatat pada masa Khilafah, layanan kesehatan disediakan secara gratis kualitas terbaik dan tidak ada diskriminasi. Rumah sakit (Bimaristan) dibangun di berbagai wilayah kekhilafahan dan menjadi pusat pelayanan kesehatan dan riset. Tidak ada perbedaan antara identitas atau kekayaan. Bahkan pasien yang sudah sembuh diberikan bantuan logistik dan biaya hidup, sampai mereka benar-benar mandiri.
Inilah sistem yang berasaskan pada akidah Islam, yang menjadikan pelayanan kesehatan terhadap umat sebagai kewajiban bukan komoditas. Hadirnya khilafah ditengah umat bukan hanya kebutuhan akan tetapi sebuah kewajiban dari Allah Swt. dan Rasul-Nya. Saat ini masyarakat sangat membutuhkan sistem Islam yang memuliakan manusia. Menjadikan negara sebagai pelayan umat, dan syariat sebagai standar peraturan kehidupan. Sistem Islam telah membuktikan hal itu di masa lalu bahwa hanya dengan penerapan Islam secara menyeluruh (Kafah) kita bisa memastikan kasus seperti Raya tidak terulang lagi.
Eva Ariska Mansur
Aceh Barat Daya, Aceh
Views: 12


Comment here