Oleh: Umi Hanifah (Aktivis Muslimah Jember).
Wacana-edukasi.com, OPINI--Hari santri setiap tahun diperingati sebagai bentuk apresiasi peran mereka dalam mengusir penjajah. Di balik santri, ada kyai yang mengobarkan semangat jihad membebaskan belenggu melawan kezaliman.
Adalah K.H. Hasyim Asy’ari Sosok kyai karismatik yang memompa semangat juang dengan resolusi jihadnya. Maka, bangkitlah para santri membela kehormatan negeri.
Sejarah Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 tidak terlepas dari kontribusi K.H. Hasyim Asy’ari sebagai pelopor. Resolusi Jihad bahkan menjadi cikal bakal peringatan Hari Santri Nasional yang diperingati di Indonesia pada 22 Oktober setiap tahun (tirto.id, 21/10/2026).
Kisah heroik santri mengusir penjajah menunjukkan tidak ada kompromi dengan kesewenangan. Mereka tampil di garda terdepan melawan kezaliman sampai titik darah penghabisan. Santri bukan sekedar simbolik sarung dan peci. Marwah terpancar dari perjuangannya untuk menggentarkan lawan.
Harus diakui, kemerdekaan negeri ini dipelopori para kyai dan santri. Mereka paham, mengusir penjajah untuk membela negeri adalah bentuk kemuliaan diri. Bahkan sejarah telah mencatat, di tangan kyai dan santri para penjajah berkalang tanah dilanda kehinaan.
Ruh jihad membara, untuk meraih hidup mulia atau mati syahid adalah cita-cita tertinggi bagi seorang muslim. Kehidupan yang sementara harus dijadikan lahan untuk meraih kebahagiaan yang kekal di akhirat. Syariat di depan mata, mengusir penjajah bukan sekedar kemarahan tetapi dorongan keimanan yang menghunjam.
Tidak kenal menyerah, meskipun senjata untuk melenyapkan penjajah kalah canggih dengan lawan. Mereka yakin bahwa kekuatan adalah milik-Nya, berusaha maksimal dengan penuh tawwakal adalah senjata lain yang lebih jitu.
Kekuatan para santri untuk melepaskan diri dari penjajah adalah semangat tinggi dari seorang hamba. Tidak ada yang bisa memaksa dan mengatur kecuali syariat yang memerintahkan. Santri adalah cerminan tingginya nilai hamba yang patuh pada Rabb.
Apresiasi kepada santri bukan sekedar formalitas peringatan tahunan. Santri dididik untuk memahami agama, agama adalah jalan hidup. Tidak akan tersesat yang berpegang teguh padanya. Terbukti santri dengan cepat menyambut seruan jihad dan jihad adalah keagungan syariat-Nya.
Firman Allah Swt:
“Peragilah di Jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu dan jangan melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (TQS Al-Baqarah 190).
Tahun ini, peringatan hari santri dengan tema “Santri menguatkan Negeri menuju lndonesia emas” jangan berhenti sekedar seremoni. Jati diri santri adalah menjadi penerus risalah Nabi Saw, menjadi duta lslam agar manusia mendapatkan kebaikan dalam menjalani kehidupan ini.
Sebagai pewaris ajaran Nabi Saw, santri harus di kawal agar tidak tersusupi nilai kebebasan ala kapitalisme sekularisme. Santri tidak akan mengamalkan sebagian ajaran dan meninggalkan yang lainnya. Santri, pasti memperjuangkan penerapan lslam kaffah sebagaimana yang Nabi Saw ajarkan.
Identitas santri melekat dengan lslam. Perjuangan membebaskan cengkeraman penjajah adalah perintah agama. Islam menjadi ruh setiap langkah mereka. Santri harus tetap memegang syariat agar hidupnya bermartabat.
Nabi Saw. telah berhasil mendidik para sahabatnya sebagai santri sekaligus hamba yang bermanfaat dalam setiap perannya. Mereka tidak saja handal dalam medan perang, dalam segala bidang mereka unggul. Sehingga peradaban lslam mampu bertahan lebih dari seratus abad terbentang dari ujung Timur dan Barat.
Sebagai pemimpin, masyarakat mencintai dan mendoakannya, keadilan merata untuk semua lapisan, pengorbanan harta yang tiada banding untuk mempersembahkannya di jalan dakwah serta jihad, kefasihan lisannya sanggup membalikkan yang salah tertunjuki kebenaran. Dengan kekuatan iman, rahmat lslam tersebar di berbagai belahan dunia.
Mereka sanggup mengubah kemerosotan akhlak menuju kemuliaan. Kebangkitannya adalah ketika lslam menjadi kepemimpinan sekaligus landasan dalam kehidupan. Islam menjadi standar dalam setiap aspek perbuatan.
Dengan penerapan lslam, lahirlah generasi emas yang membawa kebaikan kepelosok penjuru alam. Sosok generasi emas itu adalah Khalifah Umar bin Abdul Aziz, melalui kepemimpinannya yang adil tidak ada rakyatnya yang layak menerima zakat, Salahudin Al Ayubi pembebas Baitul Maqdis dari tangan pasukan salib, dan Muhammad Al Fatih sang penakluk Konstantinopel yang fenomenal sepanjang sejarah.
Santri, dulu dan kini harus tetap menempuh jalan Nabi Saw. Jalan yang terbukti menjadikan umat lslam mendapat gelar sebaik-baik umat. Santri harus menjauhkan diri terlibat dalam sistem kapitalisme sekularisme yang terbukti menjerumuskan manusia pada kesempitan hidup.
Sistem yang mengabaikan peran agama dalam mengatur kehidupan. Aturan kehidupan berlandaskan manfaat, tidak peduli mana yang halal dan haram. Selama mendatangkan manfaat akan dijalankan demi ambisi, akibatnya kerusakan merata di segala sendi kehidupan.
Tidak hanya santri, siapa saja yang menginginkan negeri ini memiliki generasi emas dan hidup tentram maka harus menjadikan syariat satu-satunya solusi. Solusi yang pasti cocok buat semua manusia karena berasal dari Pencipta Allah Swt.
Views: 7


Comment here