Opini

Pengikisan Akar Zaitun di Palestina, dan Urgensi Kepemimpinan Umat

Bagikan di media sosialmu

Oleh : Dite Ummu Gaza (Pegiat Dakwah)

wacana-edukasi.com, OPINI–Pohon zaitun bukan hanya sekedar tanaman pertanian yang menghasilkan minyak berkualitas tinggi di Palestina. Namun pohon zaitun merupakan identitas dan akar sejarah pertahanan Palestina. Pohon zaitun juga menjadi manifestasi fisik dari ikatan eksistensi yang tidak dapat dipisahkan antara penduduk dan tanah leluhur mereka.

Diberitakan oleh cnnindonesia.com (28/09/26), Menjelang musim panen buah zaitun di Beit Rima Palestina, buldoser militer Israel secara tiba-tiba merusak lahan seluas 31 dunam (31 ribu meter persegi) milik petani Palestina. Panen tahunan biasanya dimulai pada pekan pertama bulan Oktober, namun di akhir September sekitar 400 pohon zaitun diratakan dengan tanah. Kejadian ini memberikan luka yang sangat mendalam bagi seluruh petani di Beit Rima, Palestina.

Momen suka cita yang dinanti berubah menjadi duka nestapa. Pemilik kebun Abd Alfattah Tamimi dan Nather Tamimi melihat langsung bagaimana buldoser mencabut pohon-pohon zaitun sampai ke akarnya. Dalam kesedihannya Nather Tamimi menyampaikan bahwa dari panen-panen terdalu, Ia, keluarga serta para tetangganya bisa menghasilkan minyak zaitun sebanyak 12 drum. Kerusakan parah ini menimbulkan dampak psikologis serta ekonomi. Hasil kerja keras mereka lenyap dalam sekejap, mata pencaharian terancam.

Pertanian zaitun yang menjadi tulang punggung bagi rakyat berperan penting bagi perekonomian Palestina. Kementrian Pertanian Otoritas Palestina memberikan data, bahwa sektor ini menyediakan lebih dari 60.000 lapangan kerja, serta menyumbangkan 8 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Namun hasil panen tahun ini sangat fluktuatif diakibatkan naiknya operasi militer yang menargetkan sumber daya lokal di Tepi Barat yang diduduki.

​Penjajah Israel berdalih bahwa lahan zaitun tersebut dibersihkan untuk mencegah ancaman keamanan dan potensi penyergapan pada pasukan mereka. Namun kelompok hak asasi manusia Palestina secara tegas menolak dalih tersebut. Mereka menilai bahwa tindakan tersebut adalah upaya perampasan pendapatan petani dan mencabut lambang historis warga dengan tanah leluhurnya.

Situasi konflik kian memanas, serangan bertubi-tubi turut menargetkan jurnalis, aktivis serta politikus baik dari dalam maupun luar negeri. Sekretaris Luar Negeri AS Marco Rubio bersama Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee menyampaikan keprihatinannya atas serangan yang menimpa jurnalis AS dan diplomat Eropa. Mereka meminta agar Israel menyelidiki dan mengecam, meskipun hanya berupa kecaman tanpa sanksi dan tindakan nyata.

Strategi Israel Untuk Mengusir rakyat Palestina

Secara sistematis Israel merusak fondasi ekonomi dan akar budaya Palestina. Sebagai bagian dari strategi jangka panjang yang memberikan kebijakan-kebijakan yang kian mempersulit kehidupan rakyat Palestina. Perdagangan dibatasi secara ketat, ekonomi dilumpuhkan dengan blokade, infrastruktur vital dan lahan pertanian dirusak. Kehidupan rakyat Palestina dibuat semakin sulit, kesejahteraan finansial ditekan, kemandirian ekonomi dilemahkan agar sepenuhnya mereka bergantung pada pihak luar dan memaksa agar rakyat Palestina meninggalkan tanah air mereka untuk mencari penghidupan yang layak ditempat lain.

Jurnalis dan aktivis di wilayah pendudukan pun tak luput dari penyerangan. Israel menyerang mereka untuk melumpuhkan fungsi saksi mata. Selain memutus solidaritas, tujuan utama penyerangan terhadap aktivis dan jurnalis adalah untuk memutus arus informasi ke dunia internasional. Kehadiran jurnalis dan aktivis menjadi bagian penting dan memberikan rasa aman bagi rakyat Palestina dari ancaman fisik dan pengusiran paksa oleh pemukim Israel.

Kepedulian yang ditampakkan AS sering kali hanya karena serangan Israel menyangkut keselamatan warga dan diplomat mereka saja. Respon dan atensi AS dalam banyak kasus konflik internasional serta intervensi keamanan hanya digerakkan untuk kepentingan domestik, sedangkan tragedi yang menimpa masyarakat lokal Palestina hanya mendapatkan perhatian minim. Kecaman Uni Eropa juga sering kali hanya berupa kecaman, tanpa ada tindakan nyata ataupun pemberian sanksi yang menimbulkan efek jera.

Keberingasan penjajah Israel terhadap rakyat Palestina telah banyak mengundang kebencian warga dunia. Simpati dan solidaritas warga serta aktivis banyak digelar di seluruh belahan bumi. Namun semua hal itu tetap saja tidak dapat mengentaskan dan membebaskan Palestina dari cengkraman Zionis Israel. Rakyat Palestina kian terpuruk, kehilangan keluarga, materi, bahkan tempat tinggalpun jauh dari kata layak dan memadai.

Para penguasa muslim, terutama negara-negara Arab yang berdekatan dengan Palestina pun banyak yang bungkam. Mereka hanya mengecam tanpa ada tindakan nyata. Mereka seakan terlena, dan menormalisasi penjajahan di Palestina, tidak peduli lagi dengan nasib saudara seimannya. Bahkan mereka malah menjadi antek kaki tangan penjajah, Israel dan AS.

Jihad dan Khilafah Pembebas Palestina

Tanah Palestina adalah tanah yang diberkahi. Tanah para Nabi dan Rasul yang menjadi pusat dakwah tauhid sepanjang sejarah. Keberkahannya tertuang langsung dalam Al-Qur’an dan hadis. Di bumi Palestina berdiri Majidil Aqsa yang merupakan kiblat pertama umat Islam. Tanah Palestina adalah amanah yang wajib dijaga kemuliaan dan kehormatannya oleh seluruh umat Islam dunia.

Penderitaan rakyat Palestina selama 3 tahun lebih ini sudah sangat berkepanjangan, tanpa adanya solusi dan penyelesaian yang tuntas. Rakyat dijajah secara masif dan dipaksa agar meninggalkan tanah leluhurnya. Kenyataan pahit ini seharusnya menyadarkan umat, bahwa umat Islam dunia tidak boleh lagi menggantungkan nasib dan keselamatan saudara seakidahnya pada kekuatan dan kekuasaan Barat. Resolusi damai, gencatan senjata ataupun solusi dua negara selalu berujung pada kebuntuan. Hal ini menegaskan bahwa umat harus mandiri untuk membela kepentingan bersama adalah tujuan yang mendesak.

Persatuan dan kebangkitan umat dibawah naungan Islam adalah kunci untuk mengakhiri keterpurukan ini. Dengan berpegang pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, umat Islam dapat menyatukan potensi, sumber daya dan kekuatan politik untuk menghadirkan kembali kepemimpinan umat yang akan menjaga, melindungi dan memberikan jaminan kesejahteraan hidup bagi rakyatnya, yaitu dibawah kepemimpinan Khilafah. Khilafah akan memberikan perlindungan nyata dan menyeluruh bagi Palestina dan wilayah Islam lainnya.

Di bawah komando Khalifah, kekuatan militer dari kaum Muslim akan berjihad di Palestina. Agresi serta kezaliman yang dilakukan Israel, AS dan sekutunya akan dihentikan. Dengan kekuatan umat yang terorganisir rapi dan berlandaskan akidah akan dikerahkan untuk mengubah situasi di lapangan dan memberikan andil dan peran di kancah internasional dan terlepas dari ketidakberdayaan. Kehadiran kekuatan umat yang dipimpin secara utuh oleh Khilafah akan menegakkan keadilan serta kemuliaan Islam di seluruh dunia.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 2

Comment here