Oleh: Risna Ummu Zoya (Aktivis Muslimah Kalsel)
Wacana-edukasi.com, OPINI–Menurut laporan news.republika.co.id pada 26 Juli 2025, telah melaporkan pernyataan yang sangat kontroversial dari Menteri Warisan Budaya Israel, Amichai Eliyahu, yang menunjukkan dengan gamblang sikap tidak berperikemanusiaan terhadap rakyat Palestina di Gaza. Dalam wawancaranya, ia menyatakan bahwa Israel tidak memiliki tanggung jawab sedikit pun untuk memberi makan warga Gaza, yang menurutnya adalah musuh. Lebih dari itu, ia secara terbuka mengungkapkan keinginannya agar wilayah Gaza tidak lagi dihuni oleh rakyat Palestina, melainkan menjadi bagian penuh wilayah Yahudi. Pernyataan ini bukan hanya memperlihatkan ketidakpedulian terhadap penderitaan manusia, tetapi juga mengisyaratkan adanya niat sistematis untuk mengosongkan Gaza dari penduduk aslinya melalui kelaparan dan blokade. Ini menunjukkan bahwa kelaparan yang melanda Gaza bukanlah akibat tak terduga dari konflik, melainkan bagian dari strategi penjajahan yang disengaja dan berkelanjutan, dengan tujuan menggusur rakyat Palestina dari tanah mereka secara perlahan dan senyap.
Keadaan di Gaza saat ini telah berubah menjadi tragedi kemanusiaan yang luar biasa parah, di mana kelaparan meluas tak terkendali dan menyebabkan banyak korban. Beberapa media bahkan menggambarkannya seperti gelombang besar bencana kelaparan yang menelan generasi muda Palestina. Dalam laporan CNBC Indonesia tertanggal 13 Juli 2025, disebutkan bahwa ribuan anak-anak di Gaza telah meninggal dunia akibat kekurangan gizi berat. Sejak Israel menerapkan blokade total sejak awal Maret 2025, akses terhadap makanan bergizi, susu formula, dan makanan terapeutik untuk anak-anak dan balita terputus total. Rumah-rumah sakit kehabisan persediaan makanan darurat, sementara bayi dan anak-anak hanya bisa menangis dalam keadaan lemas dan kurus kering. Krisis ini terjadi bukan karena bencana alam, tetapi karena terputusnya jalur pasokan bantuan dan ditutupnya semua akses keluar-masuk Gaza. Dunia Internasional pun terlihat sangat lamban dan tidak serius dalam merespons kondisi ini.
Kebiadaban Zionis Yahudi terhadap rakyat Gaza sudah melampaui batas kemanusiaan. Betapa tidak, di tengah dunia yang mengaku beradab, mereka dengan keji membiarkan dua juta penduduk Gaza, yang hidup dalam blokade total, didera kelaparan hebat. Sejak gagalnya perpanjangan gencatan senjata, semua pasokan bantuan dikendalikan ketat, bahkan dibuat hanya formalitas. Truk-truk bantuan hanya masuk dalam jumlah simbolik, tak sebanding dengan kebutuhan dasar warga. Krisis pangan yang diciptakan ini bukan sekadar efek samping perang, tapi benar-benar dijadikan alat untuk memusnahkan satu generasi. Kelaparan hari ini adalah bentuk genosida baru, dilakukan dengan sistematis dan disengaja oleh entitas penjajah yang kehilangan seluruh nurani kemanusiaannya.
Fakta demi fakta membuktikan bahwa jeritan Gaza tak mampu menggerakkan hati dunia. Seruan lembaga Internasional hanya menggema di ruang hampa. Amerika Serikat tetap menjadi tameng Zionis, dengan vetonya di PBB yang mematikan setiap upaya penghentian kejahatan. Bantuan kemanusiaan hanyalah solusi tambal sulam, yang tidak pernah menyentuh akar masalah. Sementara itu, para pemimpin negeri-negeri Muslim terlihat beku. Mereka diam, tak tersentuh derita saudara seiman. Padahal mereka punya kekuatan milter dan logistik, namun mereka lebih takut pada tekanan Barat daripada seruan Allah dan Rasul-Nya. Dunia Islam dipaksa pasrah oleh penguasa yang memilih duduk manis sambil menyaksikan pembantaian umatnya sendiri.
Sayangnya, sebagian umat pun telah terpengaruh propaganda musuh. Mereka meyakini bahwa umat ini lemah, tak berdaya, dan hanya bisa bergantung pada PBB atau negara-negara besar. Padahal itu hanyalah ilusi, yang sengaja ditanamkan oleh para penguasa pengkhianat. Umat Islam sejatinya memiliki potensi besar yang tak bisa diremehkan, dari kekuatan iman yang mengakar dalam akidah, jumlah yang sangat besar tersebar diseluruh dunia, hingga rekam jejak perjuangan yang penuh kemuliaan dalam sejarah panjang peradaban. Dulu, kekuatan ini pernah menjadikan Islam sebagai adidaya dunia di bawah Khilafah. Sejarah menunjukkan, ketika umat Islam bersatu di bawah kepemimpinan yang satu, mereka mampu mengguncang kekuatan besar dan membebaskan negeri-negeri yang tertindas. Maka, umat ini tak boleh terus-menerus ditipu oleh narasi kelemahan yang diciptakan oleh musuh-musuh Islam.
Kondisi Gaza hari ini seharusnya menjadi alarm keras yang menggugah kesadaran umat. Bahwa solusi bagi Palestina bukanlah gencatan senjata semu, bukan bantuan pangan sesaat, dan bukan pula negosiasi yang selalu berakhir pada pengkhianatan. Solusi hakiki hanyalah tegaknya Khilafah yang akan mengerahkan jihad untuk membebaskan tanah Palestina. Inilah sistem yang akan memobilisasi kekuatan umat untuk melindungi darah, kehormatan, dan akidah kaum Muslimin. Maka, penyadaran terhadap pentingnya Khilafah harus terus dilakukan, didakwahkan dengan sabar dan istiqamah, hingga umat benar-benar bangkit dan menyadari kemuliaan jalan perjuangan Islam.
Dakwah Ideologis Jalan Menuju Kemenangan
Perjuangan besar ini hanya bisa dijalankan oleh mereka yang benar-benar kokoh memegang dakwah ideologis, memiliki keteguhan jiwa, dan tak gentar menghadapi tantangan zaman. Mereka harus memimpin umat dengan pemikiran Islam yang jernih, menggugah perasaan umat, dan menyambung harapan mereka pada janji Allah. Para dai dan aktivis dakwah harus terus meningkatkan kapasitas, belajar berinteraksi dengan umat secara lebih bijakdan tajam, serta membangun keyakinan bahwa pertolongan Allah SWT akan datang selama umat menapaki jalan Rasulullah SAW. Bersamaan dengan itu, mereka pun harus terus memperbaiki diri, memperkuat ikatan dengan Al-Qur’an, memperbanyak munajat, dan melayakkan diri menjadi hamba yang pantas menerima kemenangan dari Allah SWT. Karena sejatinya, Khilafah bukan hanya tujuan politik, tapi jalan hidup mulia untuk mengembalikan umat ini. [WE/IK].
Views: 49


Comment here