Oleh : Emil Apriani
Wacana-edukasi.com, SURAT PEMBACA–Di era digital, kemiskinan bukan lagi sekadar angka statistik, melainkan komoditas yang bisa diperjualbelikan oleh algoritma. Fenomena ini membongkar fakta mengerikan bahwa algoritma datang menawarkan jalan pintas yang mematikan. Mampu mendeteksi siapa yang sedang putus asa secara ekonomi, lalu menyodorinya dengan ‘racun’ berbalut solusi cepat. Generasi muda kita tidak sekadar salah pergaulan, tetapi sedang menjadi target operasi sistematis dari mesin yang memangsa.
Algoritma Digital ala Kapitalis
Data pengguna judi online (judol) usia muda di Indonesia tahun 2025 menunjukkan keprihatinan, dari laporan PPATK yang menemukan transaksi miliaran rupiah dari anak usia 10 tahun pada Kuartal I-2025, dengan usia 17-19 tahun mencapai Rp47,9 miliar. Bahkan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun mencatat kenaikan signifikan jumlah kredit macet pinjol berusia di bawah 19 tahun. Per Agustus 2025, terdapat 22.694 akun yang masuk kategori macet, meningkat dari 2.479 akun pada Juni 2024. Kenaikan tersebut mencapai 815,45% secara tahunan.
Kecenderungan generasi muda saat ini dipengaruhi oleh algoritma platform media sosial. Di mana algoritma bekerja dengan mempelajari perilaku dari pengguna dan mampu menyimpulkan status sosial ekonomi pengguna dari jejak digital mereka. Algoritma lalu menampilkan iklan yang sesuai dengan kerentanan mereka. Kaum muda dari latar belakang sosial ekonomi bawah menerima iklan paling banyak yang terkait dengan layanan keuangan berisiko seperti pinjaman online (pinjol) dan judi online (judol). Algoritma tersebut menciptakan ilusi kemenangan yang terlihat mudah diraih, mendorong banyak orang mencari cara cepat untuk memperoleh penghasilan.
Dalam sistem kapitalisme, mekanisme ekonominya berorientasi pada keuntungan segelintir pihak. Akibatnya, sebagian anak muda terdorong mengambil jalan pintas yang berbahaya untuk memperoleh keuntungan, termasuk masuk ke praktik judi online maupun pinjaman online yang mencekik. Di sisi lain, nilai-nilai sekuler dan liberal yang tumbuh subur menjauhkan dari pertimbangan halal haram. Kebahagiaan dipersepsikan sebagai capaian materi sehingga apapun ditempuh selama dianggap menguntungkan dan instan. Ketika orientasi hidup seperti ini bertemu dengan kesulitan ekonomi yang menekan, mereka menjadi sangat rentan melakukan tindakan spekulatif dan berisiko.
Masalah semakin kompleks karena ruang digital hari ini berada di bawah hegemoni kapitalisme. Platform dan algoritma dirancang untuk memaksimalkan keterikatan pengguna, bukan keselamatan mereka. Konten-konten judol, gaya hidup glamor, serta tawaran pinjaman cepat didorong secara masif berdasarkan perilaku pengguna, membuat generasi muda terus terpapar dan akhirnya terjebak. Alih-alih memperoleh panduan untuk menyelesaikan persoalan hidup dengan benar dan solutif, malah justru diarahkan pada pola pikir pragmatis, materialistis, dan individualistis. Dengan demikian akar persoalannya bukan hanya perilaku individu, tetapi sistem kapitalisme serta algoritma digital yang memperkuat kerentanan generasi muda.
Sungguh persoalan ini hanya bisa diselesaikan dengan hadirnya sebuah sistem yang sahih yang diturunkan oleh Allah Ta’ala sebagai solusi atas seluruh persoalan manusia. Dalam pandangan Islam, masalah kemiskinan struktural, komersialisasi digital, dan rapuhnya orientasi moral generasi tidak cukup diselesaikan dengan perbaikan parsial. Islam memandang bahwa akar persoalannya adalah cara pandang pemisahan agama dari aturan publik sehingga ekonomi, politik, dan teknologi berdiri tanpa nilai agama. Karena itu, Islam menawarkan solusi yang bersifat sistemik, menyatukan akidah, syariah, dan tata kelola kehidupan dalam satu bingkai kehidupan.
Islam menetapkan sistem ekonomi yang menghapus praktik ribawi, monopoli, dan komodifikasi kebutuhan dasar. Mekanisme kepemilikan yang jelas individu, umum, dan negara. Mencegah penumpukan kekayaan pada segelintir pihak dan menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok setiap individu. Negara wajib memastikan harga kebutuhan pokok stabil serta membuka lapangan kerja secara luas melalui pengelolaan sumber daya yang produktif. Dengan demikian, dorongan mencari jalan pintas untuk bertahan hidup dapat ditekan.
Pendidikan Islam dirancang untuk membentuk kepribadian Islam (syaksiyah Islamiyyah) secara utuh. Kurikulum tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi menanamkan pola pikir (akliah Islam) dan pola sikap (nafsiah Islam). Generasi dilatih agar mampu menilai perbuatan berdasarkan halal haram, bukan manfaat materi sehingga tersaring dari perilaku pragmatis, hedonis, dan individualis.
Infrastruktur digital dalam pandangan Islam harus berdiri di atas paradigma yang menjaga nilai, moral, dan kedaulatan. Platform digital dikembangkan bukan untuk mengejar traffic atau eksploitasi data, melainkan untuk memfasilitasi penyebaran ilmu, dakwah, kolaborasi produktif, serta pelayanan publik. Algoritma disusun sesuai nilai Islam. mendorong konten edukatif, memperkuat komunitas, dan menjaga ruang digital dari arus merusak yang menormalisasi kemaksiatan atau kriminalitas.
Dengan integrasi ekonomi Islam, pendidikan pembentuk karakter dan ekosistem digital yang bernilai islami, Islam menyediakan solusi menyeluruh atas problematika ruang digital yang mengancam generasi.
Wallahua’lam bishshowwab.
Views: 67


Comment here