Opini

Kualitas Generasi Diperbaiki dengan Cuti Ayah, Mampukah?

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh. Nur Rahmawati, S.H. (Penulis dan Praktisi Pendidikan)

wacana-edukasi.com, OPINI– Cuti ayah, atau bapak cuti, adalah praktik di mana diberi kesempatan ayah untuk beristirahat dan menjalani waktu bersama keluarganya tanpa harus bekerja. Meskipun hal ini dapat memberikan manfaat bagi kesejahteraan emosional dan kesehatan fisik ayah, pertanyaan apakah ayah cuti dapat meningkatkan kualitas generasi secara keseluruhan adalah topik yang kompleks dan memiliki berbagai perspektif.

Adanya Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) mengenai manajemen ASN yang memuat cuti ayah untuk mendampingi istrinya melahirkan dan mengasuh bayi, diberikan oleh Aparatur Sipil Negara ASN. Aturan ini dibuat guna memberikan waktu kepada ayah untuk melakukan tugasnya dalam keluarga termasuk dalam upaya meningkatkan kesejahteraan keluarga (idntimes.com, 14-3-2024).

Kapitalisme bukan Suport Sistem yang Tepat

Dalam konteks sistem kapitalisme, Cut Ayat dapat dianggap sebagai bagian dari solusi untuk tantangan yang dihadapi oleh sistem ini. Ayah Cuti dapat memberikan waktu yang dibutuhkan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga dan kesehatan fisik dan mental ayah, yang pada gilirannya dapat memengaruhi kualitas pendidikan dan lingkungan yang diberikan kepada anak-anak. Namun, penting untuk diingat bahwa cuti ayah sendiri tidak secara langsung meningkatkan kualitas generasi.

Untuk mempromosikan perbaikan generasi di tengah sistem kapitalisme, diperlukan pendekatan yang lebih holistik yang mencakup pengembangan sistem ekonomi yang lebih inklusif dan adil, serta upaya untuk mempromosikan kesejahteraan sosial dan kesehatan individu. Cuti ayah tidak cukup menjadi solusi ini, tetapi harus diikuti dengan upaya lain untuk meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan, dan lingkungan yang diberikan kepada generasi.

Lebih lanjut, meskipun ayah cuti dapat memberikan manfaat kesejahteraan keluarga dan kesehatan fisik dan mental ayah, sistem kapitalisme dapat menjadi hambatan dalam meningkatkan kualitas generasi secara keseluruhan. Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif yang mencakup perubahan sistem ekonomi dan sosial, dan itu tidak mungkin sistem kapitalisme yang jauh dari meningkatkan kesejahteraan rakyat, dalam hal ini keluarga.

Sejatinya kualitas generasi dipengaruhi banyak faktor, yang mengiringi perjalan hidup seorang anak. Oleh karena itu, pembentukan generasi yang berkualitas membutuhkan supporting sistem yang kuat dan berkualitas sepanjang hidup anak, termasuk ayah berkualitas. Mirisnya hari ini, ayah juga ternyata menjadi korban sistem yang diterapkan sehingga belum berkualitas. Seperti masalah ekonomi yang cukup pelik untuk dipenuhi, masalah pendidikan orang tua yang bisa berpengaruh pada pola pengasuhan, dan terlebih masalah pendidikan agama yang menjadi paling utama untuk dipahamkan oleh ayah. Ada banyak hal mendasar yang berpengaruh terhadap kualitas generasi. Jika sistem ini nyatanya tidak mampu memberikan solusi hakiki untuk meningkatkan kualitas generasi, lantas mengapa masih diadopsi?

Cuti ayah memang dibutuhkan, namun bukanlah solusi mendasar yang menyentuh akar permasalahan. Tampak nyata bagaimana cara negara menyelesaikan persoalan yang ada di tengah umat. Wajar jika persoalan tidak terselesaikan tuntas.

Islam Solusi Hakiki

Dari perspektif sistem Islam, cuti ayah dapat dianggap sebagai bagian dari kewajiban kepada keluarga dan kepada diri sendiri. Dalam Islam, kesejahteraan keluarga dan kesehatan fisik dan mental individu sangat diutamakan. Oleh karena itu, cuti ayah dapat dianggap sebagai cara untuk memenuhi kewajiban tersebut. Namun penting untuk diingat bahwa kualitas generasi tidak hanya dipengaruhi oleh kehadiran fisik ayah di rumah, tetapi juga oleh berbagai faktor lain seperti pendidikan, pengasuhan, dan lingkungan yang diberikan kepada anak-anak, sebagaimana yang dibahas sebelumnya.

Dalam konteks ini, sosok ayah sendiri tidak secara langsung meningkatkan kualitas generasi. Namun, jika ayah cuti dapat diikuti dengan pengasuhan yang baik, pendidikan yang baik, dan lingkungan yang mendukung, serta sistem negara yang berdampak baik untuk kesejahteraan rakyat, maka dapat berkontribusi terhadap peningkatan kualitas generasi. Sistem Islam mendorong kesejahteraan keluarga dan kesehatan individu, yang dapat menjadi fondasi bagi peningkatan kualitas generasi. Jadi, ayah harus juga memahami kewajibannya sebagai kepala keluarga yang memastikan anggota keluarganya selamat tidak hanya dunia tetapi juga akhirat, sebagaimana firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At-Tahrîm: 6)

Jadi, meskipun ayah cuti dapat memiliki manfaat dalam konteks sistem Islam, penting untuk melihatnya sebagai salah satu dari banyak faktor yang berkontribusi terhadap kualitas generasi. Solusi yang lebih komprehensif mungkin melibatkan kombinasi dari cuti ayah, pengasuhan yang baik, pendidikan yang baik, dan lingkungan yang mendukung. Semua ini tentu perlu keterlibatan banyak pihak tidak cukup hanya keluarga, masyarakat, tetapi juga negara.

Islam menjadikan kualitas generasi tidak hanya menjadi tanggung jawab orang tua, ayah dan ibu, namun juga disertai dengan supporting sistem, termasuk peran masyarakat dan negara dengan segala kebijakannnya dalam berbagai bidang. Maka, dengan penerapan Islam kafah meniscayakan terbentuk generasi berkualitas, beriman bertakwa dan terampil serta berjiwa pemimpin. Wallahu’alam bishawab!

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 22

Comment here