Oleh: Bunda Ema
Wacana-edukasi.com, OPINI–Indikasi terjadi krisis tenaga kerja global mulai menggejala diberbagai belahan dunia. Di beberapa negara besar seperti Inggris, Prancis, AS, dan Cina mengalami kenaikan angka pengangguran yang signifikan dan terus bertambah. Misal, pasar tenaga kerja Inggris menunjukkan tanda-tanda pelemahan pada kuartal kedua 2025, dengan jumlah lowongan kerja dan pekerja bergaji mengalami penurunan. Tingkat pengangguran di angka 4,7 persen, merupakan tertinggi dalam empat tahun terakhir. Bahkan pengangguran usia 16-24 tahun mencapai 14,1% atau 634 ribu orang, tertinggi dalam lima tahun. (CNBC news)
AS meski dianggap memiliki ekonomi kuat, karena tingkat pengangguran lebih kecil dibanding negara lain, 4,2% pada Juli 2025, akan tetapi tren menunjukkan pengangguran yang semakin meningkat. Di AS, ketersediaan lapangan kerja hanya separuh dari ekpektasi. Yaitu di angka 73 ribu, sementara jumlah penganggur jangka panjang melonjak ke 1,8 juta orang, menandakan sebagian pekerja mulai kesulitan kembali ke pasar kerja.
Prancis, meski dinyatakan stabil di 7,5% tingkat penganggutannya, jumlah pengangguran di Prancis naik 52.900 orang menjadi 3,03 juta pada Juli 2025. Kenaikan pengangguran dengan usia di bawah 25 tahun bertambah 19.200 orang.
China sendiri, mencatat urban unemployment rate 5,2% pada Juli 2025, naik dari 5% bulan sebelumnya. Pengangguran pemuda melonjak hingga 15,2% (2024, World Bank). Bahkan, muncul fenomena pura-pura kerja dan kerja tanpa digaji, semata demi dianggap kerja hanya untuk menyelamatkan hargadirinya Dimata keluarga dan lingkungan. Mereka tidak ingin dikenal sebagai pengangguran. Kondisi ini mencerminkan sulitnya generasi baru menembus pasar kerja.
Sementara di Indonesia, meski secara nasional angka pengangguran turun, generasi muda mendominasi pengangguran. Separuh pengangguran adalah anak muda.
Fenomena ini mengkonfirmasi bahwa rapuhnya pertumbuhan ekonomi global sedang terjadi. Berbagai pakar menyebutkan faktor-faktor penyebabnya. Diantaranya; jeratan inflasi, perlambatan pertumbuhan ekonomi, hingga ketidakpastian politik termasuk tarif dagang yang terus meroket. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat, tapi juga membawa dampak sosial dan politik yang luas. Ketika lapangan kerja semakin terbatas, akan menimbulkan ketidakstabilan di berbagai negara yang berdampak pada berbagI bidang.
Krisis Tenaga Kerja Buah Sistem Ekonomi Kapitalis
Terjadinya krisis tenaga kerja global menunjukkan bahwa sistem ekonomi yang mendominasi dunia hari ini, yaitu kapitalisme, telah gagal menyediakan lapangan kerja. Yang artinya, kapitalisme gagal mewujudkan kesejahteraan. Sistem ekonomi kapitalis mengadopsi konsep kebebasan kepemilikan. Sumberdaya alam diberikan kepemilikannya kepada swasta, akibatnya pengendali industrialisasi utama yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi rakyat justru tidak bisa dilakukan oleh negara.
Sementara kapitalis menyuburkan monopoli sumber-sumber kekayaan alam, perdagangan dan produksi. Sektor-sektor strategis dikuasai oleh para kapital. Penguasaan aset dan lahan yang mestinya bisa menjadi lapangan kerja bagi rakyat, dihambat oleh kebijakan rezim demokrasi yang justru memberikan karpet merah kepada para kapital. Yang terjadi justru kesenjangan sosial yang semakin menganga lebar dikarenakan terkonsentrasi kekayaan dunia hanya pada segelintir orang. Data global 2022 (Credit Suisse) mengungkap bahwa 1 % orang terkaya menguasai 45 % kekayaan dunia, sedangkan 10 % orang terkaya menguasai 85 % kekayaan dunia. Di Indonesia, ketimpangan kekayaan juga nyata. Celios merilis data kekayaan 50 orang terkaya setara dengan kekayaan 50 juta orang Indonesia.
Imbasnya, lapangan kerja makin sulit, sementara kebutuhan ekonomi kian mencekik. Akhirnya rakyat antri mencari pekerjaan, negara berlepas diri dari tanggung jawabnya sebagai penyedia lapangan kerja. Peran ini justru diserahkan pada mekanisme pasar. Program job fair, misalnya, sejatinya tidak menjadi solusi, bahkan terkesan formalitas, karena industri pun dihantam PHK massal. Di sisi lain, penyelenggaraan job fair di berbagai daerah yang penuh sesak oleh pencari kerja sesungguhnya justru menguak fakta bahwa lapangan kerja kian sulit. Satu lowongan kerja diperebutkan oleh ribuan pelamar kerja.
Selain itu, pembukaan sekolah dan jurusan vokasi tidak menjadikan lulusan mudah mencari kerja sehingga banyak lulusan vokasi yang menganggur. Semua lulusan, baik tingkat SMK atau perguruan tinggi, sangat berharap mendapat pekerjaan setelah mereka lulus. Namun, kenyataan tidak semanis asa. Harapan . Sedangkan pembukaan sekolah dan jurusan vokasi tidak menjadikan lulusan mudah mencari kerja, buktinya banyak lulusan vokasi yang menganggur.
Selama sistem kapitalisme dengan kebebasan kepemilikannya masih diterapkan dunia, termasuk Indonesia, pengangguran akan tetap menjadi masalah utama.
Islam Menyelesaikan Masalah Lapangan Kerja
Islam sebagai sebuah mabda menempatkan kepemimpinan sebagai tanggungjawab pengaturan urusan umat. Dalam Sistem Pemerintahan Islam, khalifah bertanggungjawab atas rakyatnya sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda, “Imam/khalifah adalah pemelihara urusan rakyat, ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap urusan rakyatnya.” (HR Bukhari Muslim).
Diantaranya, peran penguasa sebagai raa’in yaitu mengurusi rakyatnya agar mendapatkan pekerjaan. Negara memfasilitasi rakyat agar memiliki pekerjaan, yaitu dengan pendidikan memadai, bantuan modal, industrialisasi, pemberian tanah, dll.
Ditopang dengan penerapan sistem ekonomi Islam menjadikan kekayaan dunia terdistribusi secara adil, tidak terkonsentrasi pada segelintir pihak. Mekanisme syariat tentang kepemilikan, akan menjamin sumber daya alam dapat dimanfaatkan dengan tepat. Dalam hal pengelolaan kekayaan alam milik umum seperti laut, hutan, dan tambang, negara tidak boleh menyerahkannya pada pihak swasta. Segala jenis industri yang berkaitan dengan SDA berada di bawah kendali negara. Jika dikelola dengan amanah, sektor industri akan mampu menyerap tenaga kerja, bahkan dengan jumlah yang sangat besar.
Dari sisi sistem pendidikan Islam, negara menyiapkan SDM berkualitas, tidak hanya siap kerja, tetapi memiliki keahlian di bidangnya.
Ada banyak langkah yang bisa Khilafah tempuh dalam menciptakan lapangan pekerjaan, di antaranya dengan meningkatkan dan mendatangkan investasi yang halal untuk dikembangkan di sektor riil seperti pertanian, kehutanan, kelautan, dan pertambangan. Di sektor pertanian, negara dapat mengambil alih lahan yang telah ditelantarkan selama tiga tahun untuk diberikan kepada individu rakyat yang bisa mengelolanya, sementara sebelumnya tidak memiliki lahan. Di sektor industri, negara bisa mengembangkan industri alat-alat (penghasil mesin) yang mendorong tumbuhnya industri-industri lain.
Pengangguran telah menjadi masalah sistemis yang lahir dari penerapan sistem kehidupan yang rusak dan merusak, yaitu sistem kapitalisme. Tidak ada cara lain untuk mengatasi pengangguran kecuali dengan mencampakkan sistem kapitalisme, kemudian bersegera menerapkan sistem Islam dalam kehidupan.
Views: 69


Comment here