Opini

Peran Ulama dalam Tatanan Kehidupan

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Ummu Athifa (Ibu Rumah Tangga, Penulis)

Wacana-edukasi.com — Kehidupan di dunia hanyalah sementara. Banyak para pujangga mengatakan “Dunia itu hanyalah panggung sandiwara”. Artinya setiap manusia haruslah berlomba-lomba melakukan kebaikan demi bekal di kehidupan akhirat.

Itulah alasan mengapa Allah menciptakan manusia. Tentu tak lain untuk beribadah kepada-Nya. Menjalankan seluruh perintah-Nya, serta menjauhi larangan-Nya tanpa terkecuali. Kewajiban manusia hanyalah taat dan patuh.

Aturan yang Allah siapkan untuk manusia telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. Manusia mulia hingga akhir zaman. Setelah nabi wafat, maka yang mewariskan ilmu para nabi tak lain adalah ulama. Ulama inilah yang akan menjadi penjaga pemikiran Islam agar tetap jernih serta menjadi teladan di tengah-tengah masyarakat.

Namun, faktanya tak seperti itu. Kehidupan saat ini sangat menjauhkan aturan Islam dari mengatur pola sikap. Keberadaan Islam hanya ditemukan pada majelis taklim saja. Maka, saat ini ulamanya pun hanya berdakwah pada tataran ibadah dan akhlak.

Ini tergambar ketika MUI (Majelis Ulama Indonesia) mengumumkan kepengurusan periode 2020-2025 melalui Musyawarah Nasional X (Munas X), terpilih Miftachul Akhyar sebagai Ketua Umum MUI. Ternyata penetapan beberapa nama yang baru tersebut dikarenakan kepengurusan sebelumnya diduga sering mengkritik pemerintahan. Sehingga muncullah perkara pemisahan agama dari pemerintahan (baca: politik).

Menurut Ali Mubarak dalam tulisannya yang berjudul “Religion and Politics: Integration, Separation and Conflict” mengatakan bahwasannya agama dapat memobilisasi kepekaan religius masyarakat untuk mendapatkan dukungan. Sedangkan politik menggunakan intrik, diplomasi, dan berusaha memenangkan opini publik baik secara demokratis maupun otoriter. Sehingga terdapat tiga model hubungan antara politik dan agama, yaitu: Pertama, model terintegrasi yang artinya agama dan politik sama-sama bersatu dalam upaya untuk memonopoli kekuasaan. Kedua, politik lebih superior dari agama yang artinya politik menundukkan agama, dan memanfaatkan nilai-nilainya untuk kepentingan kekuasaan. Ketiga, politik dan agama benar-benar terpisah. Artinya, keduanya saling berkonflik satu sama lain untuk memperebutkan dominasi (pinterpolitik.com, 30/11/20).

Maka, tiga model di atas hanya terdapat pada aturan demokrasi yang menerapkan sistem sekularisme. Ini diperkuat dengan hadirnya campur tangan pemerintah pada kepengurusan MUI terbaru. Sesuai dengan pendapat dari pengamat politik Universitas Al-Azhar Indonesia, Ujang Komarudin yang menilai dominasi dan kekuatan Ma’ruf Amin di MUI sangat kentara (democrazy.id, 28/11/20).

Jika ditelaah dengan seksama, maka ulama saat ini tengah disibukkan pada kekuasaan. Peran ulama telah hilang dari dirinya. Seperti menjadikan ilmu sebagai barang dagangan yang dijual kepada para penguasa untuk mendapatkan keuntungan bagi diri mereka sendiri. Selain itu, mereka mempercantik kezaliman dan ketidakadilan yang dilakukan oleh penguasa. Ditambah memutarbalikan kebatilan menjadi kebenaran yang jelas-jelas dilakukan penguasa, tetapi hanya terdiam saja (di hadapan penguasa). Padahal, mereka mampu menjelaskan kebenaran.

Itulah peran ulama pada kehidupan yang diatur dengan sistem demokrasi. Padahal sudah jelas Allah Swt. berfirman yang artinya, “Sungguh yang takut kepada Allah di kalangan para hamba-Nya hanyalah para ulama.” (TQS Fathir [35]: 28)

Maka, seyogianya ulama kembali kepada perannya sesuai dengan perintah Allah Swt. Adanya rasa takut kepada Allah Swt. yang menjadi sifat paling menonjol, bukan sekadar keluasan dan kedalaman ilmu mereka. Oleh karena itu, ulama akan selalu berada di garda terdepan membela agama Allah, menjaga kemurnian Islam dan ajaran-Nya, mendidik masyarakat dengan syariah-Nya, meluruskan yang menyimpang dari petunjuk-Nya dan berteriak lantang terhadap berbagai kezaliman. Tanpa ada rasa takut sedikit pun akan risikonya.

Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw. yang artinya, “Sungguh para ulama itu adalah pewaris para nabi.” (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

Wallahu’alam bi shawab

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 3

Comment here