Opini

Korban Gempa Terkatung-katung, Dimana Tanggung Jawab Negara?

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Anica Wildasari, S.Pd (Penggiat Literasi)

wacana-edukasi.com, OPINI– Allah Swt. mendatangkan bencana sejatinya sedang menguji hamba-hambanya. Sebagaimana firman Allah Swt. yang artinya “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (QS. Ar-Rum ayat 41)

Seperti dilansir dari Republika.Co.Id, Cianjur – Pemerintah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat mengatakan, jumlah korban meninggal dunia akibat gempa magnitudo 5,6 pada Senin (21/11/2022) bertambah menjadi 635 orang. Data itu setelah tim SAR gabungan menemukan tiga jenazah korban tertimbun longsor.

Bupati Cianjur, Herman Suherman mengatakan, pencarian hari terakhir korban hilang tertimbun longsor akibat gempa lebih dimaksimalkan meski setiap sore lokasi diguyur hujan deras. “Tidak menyurutkan niat tim SAR gabungan untuk melakukan berbagai upaya pencarian,” katanya di Cianjur, Selasa (20/12/2022).

Satu bulan setelah gempa bumi yang berkekuatan 5,6 mengguncang Cianjur, Jawa Barat, sejumlah warga masih ada yang bertahan di tenda-tenda pengungsian. Selain itu, di Desa Cibeureum, Kecamatan Cugenang yang merupakan salah satu desa yang terdampak parah oleh guncangan gempa menyebabkan banyak rumah warga rusak.

Minim Tanggungjawab, Bukti Lemahnya Sistem Kapitalisme

Hal ini menandakan ketidak optimalan pemerintah dalam meriayah korban gempa, apalagi persoalan yang lebih utama adalah rumah tinggal warga. Seharusnya pemerintah bergerak cepat untuk menyelesaikannya, mengingat wilayah Cugenang adalah sesar gempa.

Sebelumnya, pemerintah telah menjanjikan dana bantuan untuk rumah warga yang rusak, namun pada proses verifikasi ditemukan data yang tidak sesuai dengan kondisi rumah warga. Ini jelas membuktikan bahwa pemerintah masih memilah milih dalam pemberian bantuan ditengah-tengan kondisi warga yang tertimpa gempa. Sehingga mengakibatkan banyak warga masih bertahan di tenda-tenda pengungsian, termasuk balita dan anak-anak, beberapa warga juga mengalami demam, batuk, serta gatal-gatal.

Meskipun kebutuhan makan, minum dan obat-obatan warga terpenuhi, tinggal dipengungsian jauh dari kata layak. Apalagi belum ada kepastian yang jelas dari relokasi, warga tentu merasa jenuh berharap ingin hidup normal seperti dulu. Pemerintah harus mengutamakan kepentingan warga terutama keselamatan dan pembangunan rumah warga, jangan karena ketidak akuratan data rumah warga membuat pemerintah tertunda dalam memperbaiki rumah-rumah warga.

Melihat kondisi warga yang hingga saat ini masih tinggal dipengungsian, negara seharusnya bergerak cepat karena ini merupakan tanggung jawabnya. Agar nasib warga tidak terkatung-katung apalagi ada balita dan anak-anak, mereka butuh tumbuh kembang yang layak, hidup normal seperti biasa.

Namun, karena lemahnya negara dalam menangani kondisi gempa, sebagian warga yang tinggal dipengungsian mengalami masalah kejiwaan. Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur melakukan pemeriksaan menemukan bahwa ada 61 warga pengungsi dari 16 kecamatan mengalami gangguan kejiwaan, ada 21 warga di antaranya dinyatakan mengalami gangguan jiwa berat akibat traumatik. Bahkan ada tiga warga yang harus dirujuk ke rumah sakit jiwa karena menunjukkan gejala yang serius. (Kumparan, 22-12-2022).

Oleh karenanya, keseriusan pemerintah dalam menangani bencana gempa merupakan perkara sangat penting yang tidak boleh diabaikan. Sebagai penguasa yang bertanggung jawab penuh atas pengurusan rakyat tidak boleh mengabaikan tanggung jawabnya dalam menangani bencana, karena mereka adalah pemimpin yang mengurusi rakyatnya.

Solusi Islam Mengatasi Banjir

Sebagaimana sabda Rasulullah Saw. “Pemimpin masyarakat adalah pengurus dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR Bukhari dan Muslim).
oleh sebab itu, pemimpin yang bertanggung jawab dalam mengurusi kebutuhan rakyat adalah harus amanah, tidak boleh menunda-nunda atau melalaikan tugas dan tanggung jawabnya karena itu adalah dosa. Rasulullah Saw. bersabda, “Tidaklah seseorang yang diberi amanah mengurusi rakyatnya, lalu tidak menjalankannya dengan penuh loyalitas, melainkan dia tidak mencium bau surga.” (HR Bukhari).

Hal yang harus dilakukan pemerintah sebagai wujud sikap amanah diantaranya, Pemerintah harus melakukan pencegahan, yaitu membangun infrastruktur tahan gempa. Dengan dibangunnya infrastruktur dan bangunan publik tahan gempa, maka dalam kondisi bencana gempa apapun tidak akan ikut roboh sehingga memudahkan evakuasi, bahkan bisa menjadi tempat pengungsian yang lebih baik dari pada tenda.
Namun, hal ini bisa terwujud pada penerapan seluruh syariat islam yakni dengan Khilafah. Pada pembangunan infrastruktur dan bangunan tahan gempa, pernah dilakukan pada masa Khilafah Utsmaniyah. Pada saat itu Khalifah telah mampu membuat bangunan tahan gempa di Istanbul. Seorang arsitek, Mimar Sinan mampu membangun masjid dengan konstruksi beton bertulang yang kokoh, serta pola-pola lengkung berjenjang sehingga dapat membagi dan menyalurkan beban secara merata.

Tidak hanya masjid, Khalifah juga memerintahkan arsitek Sinan untuk membangun bangunan tahan gempa lainnya seperti jembatan, sekolah, dan saluran air. Meski pada masa itu sering terjadi gempa besar, bangunan yang tahan gempa seperti masjid masih berdiri kokoh dan tidak mengalami dampak serius.

Karena kecanggihan arsitektur, Khalifah memanfaatkan pembangunan infrastruktur bangunan tahan gempa. Selain itu, kunci kekuatan pembangunan pada Kekhilafahan Utsmaniyah adalah di aspek pembiayaan. Negara membiayai semua proyek pembangunan fasilitas umum, termasuk masjid, dari Baitulmal. Khalifah memerintahkan pada arsitek Sinan untuk tidak berhemat demi kualitas bangunan yang mumpuni. Hasilnya, hingga saat ini bangunan tersebut masih kokoh meskipun telah diguncang gempa berkali-kali.

Perlu ditegaskan lagi, bahwasanya hal ini terjadi hanya pada Sistem Islam. Karena sosok penguasa pada masa islam adalah penguasa yang bermental pengurus dan amanah serta bertanggung jawab. Wallahu’alam.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

blank

Hits: 1

Comment here