Opini

Kelaparan di Gaza Sebagai Alat Genosida, Umat Harus Serukan Jihad

Bagikan di media sosialmu

Oleh: Indri Nur Adha (Aktivis Muslimah)

Wacana-edukasi.com, OPINI-Langit menangis di atas Gaza,
Anak kecil lapar tak bersuara,
Roti tiada, susu pun sirna,
Masihkah kita dianggap manusia
karena tak berbuat apa-apa?

Di Gaza, anak-anak tak hanya menjadi korban perang, tapi juga kelaparan yang perlahan mengikis nyawa mereka. Dalam tiga hari terakhir, 21 anak meninggal di dua rumah sakit akibat malnutrisi, rata-rata tujuh anak per hari. Direktur RS Al-Shifa menggambarkan situasi sebagai “tsunami kematian,” sementara PBB memperingatkan bahwa jalur bantuan hampir sepenuhnya terputus. Sejak blokade penuh diberlakukan Israel pada Maret 2025, bantuan yang masuk sangat terbatas, menyebabkan krisis pangan paling parah dalam sejarah Gaza.

WHO mencatat lebih dari 50 anak tewas karena kelaparan, dan UNRWA menemukan satu dari sepuluh anak balita mengalami malnutrisi. Kisah tragis seperti Ahlam, bayi tujuh bulan yang tubuhnya melemah karena kurang gizi dan air kotor, menjadi bukti nyata penderitaan itu. Ironisnya, ribuan truk bantuan menumpuk di luar Gaza, namun tak diizinkan masuk. Ratusan tenaga medis siap membantu, tapi terhalang blokade yang membunuh secara perlahan. Kini, dunia dihadapkan pada pertanyaan: sampai kapan anak-anak Gaza harus mati kelaparan sebelum bantuan benar-benar datang? (cnbcindonesia.com, 23/07/2025)

Program Pangan Dunia (WFP) mengungkapkan bahwa warga Gaza kini menghadapi bencana kelaparan. Sekitar 90 ribu perempuan dan anak-anak sangat membutuhkan penanganan gizi, sementara hampir sepertiga populasi tidak makan selama beberapa hari. Harga tepung melonjak tajam, mencapai Rp1,6 juta per kilogram, sehingga bantuan pangan menjadi satu-satunya cara mereka bisa memperoleh makanan.

Sejak Maret, Israel menutup total jalur masuk ke Gaza dan menghentikan semua kiriman bahan makanan, bahan bakar, serta obat-obatan. Dua pekan kemudian, Israel kembali melancarkan serangan yang mengakhiri gencatan senjata dua bulan dengan Hamas. Penutupan akses ini menyebabkan layanan kesehatan di Gaza kolaps akibat ketiadaan obat-obatan dan alat medis penting.

Pemerintah Israel mengklaim telah mengirim lebih dari 4.400 truk bantuan sejak pertengahan Mei dan menuduh Hamas menyalahgunakan bantuan untuk kepentingan kelompoknya sendiri. Namun, 28 negara termasuk Inggris, Kanada, dan Prancis, mendesak segera diakhirinya konflik, menilai penderitaan warga Gaza telah mencapai batas kemanusiaan. Mereka mengecam pola distribusi bantuan Israel yang dianggap membahayakan dan tidak manusiawi.

Sementara itu, meski Israel menyangkal tuduhan tersebut, laporan mengenai warga Palestina yang tewas saat mencoba memperoleh bantuan terus muncul hampir setiap hari sejak penyaluran bantuan dimulai pada akhir Mei (bbc.com, 23/07/2025)

Kita semua dapat melihat bahwa Israel menjadikan kelaparan masal yang sedang terjadi di Gaza sebagai alat perang dan genosida. Zionis Israel laknatullah ini sengaja menutup semua pintu masuk ke Gaza dan mencegah barang bantuan seperti obat-obatan, bahan bakar, dan kebutuhan lainnya untuk masuk. Sungguh ini adalah bentuk dari kesengajaan yang dilakukan zionis untuk membuat banyak warga Gaza mati karena kelaparan.

Dan kejadian yang sedang terjadi di Gaza hari ini bisa disaksikan oleh satu dunia bersama-sama. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menghentikan genosida, dari mengecam, memboikot, hingga aksi protes pun sudah dilakukan oleh individu ataupun kelompok, tapi pada kenyataannya pembantaian ini masih terus berlangsung dan korban yang meninggal terus bertambah. Lantas apa yang bisa kita lakukan?

Kalau kita ingin mencari solusi untuk bisa menyelesaikan permasalahan genosida ini, maka haruslah kita cari akar permasalahannya. Tindakan yang dilakukan oleh Zionis Israel ini jelas hal yang salah dilihat dari segi manapun. Sayangnya tidak ada tindakan yang tegas untuk pelaku kejahatan ini. Sekelas organisasi dunia seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pun enggan untuk memberikan solusi yang hakiki.

Jika kita telaah maka yang menjadi akar permasalahannya adalah karena dunia saat ini menganut sistem sekuler, yaitu pemisahan agama dari kehidupan. Sehingga peraturan yang berlaku adalah hasil dari kebijakan yang dibuat oleh manusia. Maka di dalam sistem sekuler akan mudah bagi sekelompok orang untuk melanggengkan kepentingannya. Mereka akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya, bahkan dengan membantai banyak nyawa.

Apa yang sedang terjadi di Gaza adalah akibat dari tujuan yang ingin diraih oleh Israel, yaitu membumihanguskan Gaza untuk mengambil alih dan menguasainya. Maka berbagai cara untuk mencapai tujuan tersebut telah dilakukan oleh Zionis laknatullah ini. Memang benar sebagian dari dunia telah membenci Israel, tapi kita butuh solusi agar saudara kita di Gaza bisa kembali hidup normal dan aman.

Maka kita perlu untuk menghentikan apa yang dilakukan oleh Israel. Solusi satu-satunya adalah dengan mengusir mereka dari tanah kaum Muslim. Dan ini harus diperintahkan oleh seorang pemimpin. Pertanyaan apakah ada sekarang ini pemimpin suatu negeri yang mau memberi komando untuk mengerahkan militernya melawan Israel?

Jawabannya tentu saja tidak, bahkan negeri Mesir sekali pun. Meski masyarakat Arab umumnya mendukung Palestina, unjuk rasa di negara-negara Arab tetap terbatas dan terkendali. Pemerintah-pemerintah Arab pun dinilai tidak memberikan respons tegas. Menurut Walid Kazziha, dosen ilmu politik di AUC, sebagian besar negara hanya menyampaikan kecaman lisan atau menjadi penengah, tanpa benar-benar mendukung Palestina. Tak satu pun yang memutus hubungan dengan Israel atau menekan secara diplomatik dan ekonomi. Berkurangnya dukungan ini dipengaruhi oleh dinamika politik yang kompleks di kawasan (bbc.com, 31/10/2024)

Untuk itu, adanya penguasa yang bisa menggerakkan militernya adalah hal yang urgensi. Hal ini bisa terlaksana hanya dalam sistem Islam. Kepala negara dalam Islam tidak terikat kerja sama dengan kelompok yang memusuhi Islam. Jika kelompok tersebut menyerang negeri kaum Muslim maka kepala negara akan melindungi umatnya dan mengerahkan tentara militernya untuk mengusir penjajah.

Karena pasukan Zionis Israel menyerang dengan tentara militer, haruslah dilawan dengan kelompok militer juga. Bukan karena kaum Muslimin lemah karena saat ini tidak ada militer yang diturunkan, tapi karena adanya sekat nasionalisme akibat dari sistem sekuler, yang memecah belah negeri-negeri kaum Muslim. Untuk itu negeri kaum Muslim harus bersatu di bawah naungan Khilafah.

Karena dengan adanya negara yang menerapkan sistem Islam secara kafah maka permasalahan umat seperti kelaparan yang terjadi di Gaza bisa diselesaikan dengan tuntas. Karena negara memiliki tanggung jawab untuk membela umatnya di mana pun mereka berada. Ketika melihat umatnya mengalami penderitaan, negara siap menurunkan kekuatan militer, logistik, ataupun diplomasi untuk melindungi umatnya.

Sebagai contoh pernah terjadi pada abad ke-9 M, seorang wanita Muslimah dilecehkan oleh tentara Romawi di kota Amuriyah dan menyerukan nama Khalifah Al-Mu’tashim. Mendengar hal itu, sang khalifah segera mengirim pasukan besar untuk menyerang kota tersebut dan berhasil membebaskannya. Tindakan ini menunjukkan tanggung jawab negara Islam dalam melindungi kehormatan umat, meskipun hanya satu orang yang terdzalimi.

Hidup dalam naungan Islam seperti inilah yang kita semua rindukan. Untuk itu diperlukannya kesadaran umat akan solusi hakiki ini. Maka harus ada kelompok dakwah ideologis yang terus menyuarakan ke tengah-tengah umat tentang solusi perubahan, dari sekulerisme yang sudah rusak dan hancur ini menjadi Islam yang melindungi.

Maka dari itu diam bukan solusi, karena sama dengan mendukung kejahatan itu sendiri. Saatnya kita mendesak pemimpin agar menyambut seruan Jihad Fisabilillah serta menyerukan umat untuk menyiapkan kekuatan politik agar mengusir dan mengembalikan kewibawaan umat Muslim di seluruh dunia.

“… Jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama (Islam), wajib atas kamu memberikan pertolongan, kecuali dalam menghadapi kaum yang telah terikat perjanjian antara kamu dengan mereka. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
(TQS. Al-Anfal [8]: 72) [WE/IK].

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 15

Comment here