Opini

Indonesia Darurat Pergaulan Bebas

Bagikan di media sosialmu

Oleh: Anastasia, S.Pd.

Wacana-edukasi.com, OPINI–Generasi Islam saat ini sedang tidak baik-baik saja. Mereka menghadapi tantangan zaman yang semakin bebas, jauh dari Islam. Saat ini, generasi Islam tidak mempunyai karakter sebagai umat terbaik. Sejatinya, anak adalah amanah yang akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah Swt, yang harus dijaga dan dididik sesuai syariat Islam. Namun, apa daya saat Islam tidak diterapkan dalam sebuah negara, manusia hidup dalam hawa nafsu. Tanpa adanya tuntunan, lingkungan dan generasi hidup dalam kemaksiatan.
Seperti, adanya temuan fakta yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes), yang mencatat ada lebih dari 2.000 remaja di Indonesia mengidap HIV. Pasien dilaporkan masih berusia di bawah 20 tahun. (kumparan.com, 18/06/2025).

Akar Masalah

Data di atas, merupakan fakta rusaknya generasi saat ini. Mereka adalah hasil dari sistem yang batil, yaitu sekularisme yang menjunjung nilai kebebasaan, menjauhkan manusia dari aturan Allah Swt. Penerapan sistem yang rusak, telah melahirkan berbagai banyak permasalahan secara sistematis. Apabila diurai, permasalahan ini muncul karena berbagai banyak hal, di antaranya sebagai berikut :

Pertama, kurangnya pengasuhan orang tua. Untuk melahirkan generasi yang hebat, tentu dibutuhkan peran orang tua paham syariat Islam. Islam adalah tuntunan, yang mengajak manusia untuk mengenal ajaran Allah Swt. Islam sangat memberikan perhatian terhadap penjagaan generasi, termasuk perintah orang tua yang mengajak anaknya untuk berbuat baik seperti firman Allah Swt,

يٰبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلٰى مَآ اَصَابَكَۗ اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ

Wahai anakku! Laksanakanlah salat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting. (Q.S. Lukman: 17).

Namun, sayang dengan sistem yang ada saat ini, tidak mendukung peran orang tua bekerja secara optimal. Kurangnya pemahaman ilmu, tak sedikit dari orang tua yang abai dan sibuk mencari nafkah, sehingga mereka tidak mempunyai pemahaman Islam yang utuh dalam mengasuh anak.

Orang tua terjebak, dengan pola asuh yang hanya sekedar, memberikan makan dan menyekolahkan tanpa adanya bimbingan. Padahal, sejatinya generasi saat ini hidup dalam era digital, yang sangat mudah terkontaminasi racun pemikiran. Runtuhnya benteng keluarga inilah, yang menyebabkan, anak tidak mampu menyaring sampah pemikiran, yang senantiasa dikampanyekan melalui teknologi informasi. Hal ini, terus menggerus generasi menjadi pembebek budaya barat, seperti pacaran, seks bebas, dan pergaulan bebas. Akhirnya, banyak generasi terinveksi HIV.

Seharusnya, peran orang tua hadir. Orang tua idealnya, teman terbaik bagi anak, karena anak membutuhkan pengasuhan yang mengarahkan dan mengenalkan fitrah seksualitas sesuai syariat Islam.

Kedua, gagalnya kurikulum pendidikan dalam mencetak generasi. Pendidikan sekuler, tidak mengambil agama sebagai patokan. Dalam proses pendidikan, anak dibiarkan dengan segala kebebasan untuk menentukan pola sikap dan karakternya. Sehingga, ilmu dalam sistem ini sekedar informasi, tidak menuntut pengamalan. Baik buruknya seseorang, dinilai dari angka bukan proses, seharusnya pendidikan menghasilkan kesadaran individu akan tanggung jawab, dan konsekuensi perbuatan di hadapan Allah Swt.

Pendidikan dalam wajah sistem kapitalisme, berubah fungsi yaitu alat untuk mencari materi. Potensi generasi, hanya diarahkan sebagai mesin pencetak uang, untuk mengisi pasar industri yang bersifat kapitalistik. Kesuksesan anak, hanya dilihat dari seberapa banyak mereka mampu menghasilkan materi, bukan sejauh mana mereka beriman kepada Allah Swt. Akhirnya, anak kita lahir dengan mental materialistik, flexing, dan menghalalkan segala cara untuk mencapai kesenangan. Tidak lagi, melihat sesuatu dari halal dan haram. Wajar, apabila saat ini usia produktif generasi kita terjebak dengan pergaulan bebas.

Ketiga, hilangnya peran negara. Negara sebagai institusi besar, seharusnya mempunyai peran yang strategis, melindungi rakyatnya dari serangan pemikiran yang bertentangan dengan Islam. Namun, bangsa ini menerapkan sistem sekularisme menjauhkan manusia dari aturan Islam.

Akibatnya, generasi hidup dalam sistem yang rusak, tidak memiliki panduan dan tuntunan. Sistem sekularisme, adalah sistem yang melindungi kebebasan dalam bertingkah laku. Apa pun, boleh dilakukan untuk mencapai kebahagiaan dunia. Kebebasan ini, menghasilkan kemaksiatan, seperti zina, pacaran, dan pergaulan bebas yang akhirnya menghilangkan potensi generasi. Seharusnya, generasi muda, adalah usia emas membangun prestasi untuk masa depan negara. Keadaan saat ini berbalik, mereka masuk ke dalam jurang kenistaan.

Kebebasan tanpa batas bertentangan dengan fitrah manusia, yang diciptakan oleh Allah Swt, untuk taat. Ketaatan inilah yang akan membentuk iman mereka, sehingga generasi lahir dengan karakter dan berkepribadian Islam.

Belajar Kepada Islam

Sesungguhnya, Islam adalah agama yang sempurna yang mampu menyelesaikan permasalahan umat manusia. Penerapan Islam, haruslah dalam sebuah negara, karena Islam adalah aturan yang sistematis saling berkesinambungan. Salah satunya, adalah sistem pergaulan yang mampu melindungi generasi dari pergaulan bebas.

Dalam pandangan Islam, perempuan fitrahnya menjadi seorang ibu, maka dia mempunyai kewajiban untuk memberikan pendidikan dan pengasuhan yang terbaik, ibu dan ayah mempunyai kewajiban untuk bersama-sama membangun pondasi aqidah anak. Apabila anak memiliki aqidah yang kuat, maka dia akan mempunyai sistem imun, yang mampu menyaring pemahaman yang bertentangan dengan Islam.

Dalam sistem pergaulan Islam, hukum laki-laki dan perempuan terpisah kecuali ada hajat syar’i, aturan ini yang akhirnya mencegah dari pergaulan bebas. Islam pun, memberikan aturan dalam pakaian dan menjaga pandangan, seperti dalam firman Allah Swt,

Artinya: “Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Azhab: 59).

Artinya: “Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami. (Q.S. An-Nur: 30).

Negara pun, ikut andil dalam melindungi genarasi, dengan melakukan sensor yang ketat, terhadap setiap konten yang mampu merusak pemikiran. Maka dengan demikian, Islamlah yang mampu melindungi generasi dari segala bentuk kemaksiatan.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 18

Comment here