Surat Pembaca

Di antara Fitnah Akhir Zaman

Bagikan di media sosialmu

Wacana-edukasi.com, SURAT.PEMBACA--“Bersegeralah beramal sebelum datangnya fitnah-fitnah seperti potongan malam yang gelap gulita. Seseorang di pagi hari beriman, akan tetapi sore harinya kafir. Atau sore harinya beriman, besok paginya kafir. Ia menjual agamanya dengan kesenangan dunia.” (HR. Muslim).

Selamat datang di akhir zaman. Pada zaman ini, kita dipertontonkan dengan semakin maraknya kasus pelecehan terhadap anak-anak dan para santri. Betapa sangat biadab pelaku pelecehan ini. Oknum-oknum ini tak jarang memakai jubah agama untuk melancarkan aksi bejatnya. Parahnya, ada oknum yang membawa-bawa tuduhan keji terhadap Nabi juga syariat-Nya. Tsumma Naudzubillah.

Baru-baru ini dibuat geger kembali, dengan ditetapkannya pengasuh pondok pesantren di Kabupaten Pati sebagai tersangka, atas kasus pelecehan terhadap puluhan santrinya (kumparan.com, 03/05/2026). Rasanya sungguh sakit menyayat hati, kasus sudah bertambah padahal belum usai kasus Ahmad Al Misry yang telah ditetapkan sebagai tersangka dari pelecehan terhadap santri-santri laki-laki. Ia juga memfitnah Nabi Saw dan Ali r.a, juga melakukan perbuatan keji (homoseksual), seperti yang ia lakukan kepada santri-santrinya. Harusnya oknum ini, mendapatkan sanksi yang sangat berat karena telah memfitnah Nabi Saw dan melakukan pelecehan. Namun justru, predator ini masih bebas dan belum ada tindak hukum sebab ia berada di Mesir. Karenanya, banyak pihak diantaranya Komisi III DPR mendorong pihak Polri segera menangkap predator ini (jawapos.com, 27/04/2026).

Darurat pelecehan seksual dan menjamurnya perilaku homoseksual seolah tidak pernah usai. Menjamurnya perilaku kemaksiatan dan perilaku menyimpang ini, menunjukkan bahwa kini hari kita sudah berada di fase akhir zaman. Parahnya, upaya normalisasi kemaksiatan dan perilaku menyimpang ini, dilakukan oleh oknum bejat yang memanfaatkan kedudukannya sebagai tokoh agama dan berdalih dengan membawa syariat. Dan inilah bentuk-bentuk dari fitnah akhir zaman.

Selain itu juga, upaya normalisasi kemaksiatan dan penyimpangan tak jarang berlindung dengan menggunakan atas nama HAM (Hak Asasi Manusia). Bahwa selama tidak merugikan orang lain, maka seolah menjadi haknya melakukan hal apapun dan bahkan jika itu termasuk kemaksiatan. Akhirnya, para pelaku seolah merasa dibenarkan dengan adanya HAM.

Diperparah lagi keadaannya, dengan adanya upaya normalisasi tersistem dengan adanya media, tontonan, VT atau influencer/tokoh pelaku kemaksiatan dan homoseksual yang terus dikasih panggung juga dibiarkan untuk eksis. Tidak ada filter dan hukum yang tegas bagi pembuat konten seperti ini. Yang ada justru fyp dan banyak ditiru oleh Gen Z juga Gen Alpha.

Sebagai seorang muslim yang cerdas, sudah saatnya untuk berbenah. Berbenah dalam memahami, bahwa hanya Islamlah satu-satunya yang layak dijadikan standar dalam setiap perbuatan kita. Karena jika kita menyerahkan standar perbuatan kepada manusia, tentu akan timbul kerusakan seperti yang terjadi hari ini.

Karenanya sangat tepat, jika Nabi Saw menggambarkan kondisi hari ini ibarat gelap gulita. Bermakna gelap gulita, disebabkan perilaku maksiat juga perilaku penyimpangan yang sangat merebak. Karenanya, perlu dengan segera untuk beramal dan menyuarakan kembali kehidupan Islam, agar cahaya bisa kembali meliputi bumi Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)…” (TQS. Al Baqarah : 257)

Sahreva Kurniati, S.Pd., C.M.T.

Bandung, Jawa Barat

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 2

Comment here