Surat Pembaca

Mewujudkan Kehidupan yang Meringankan Beban

Bagikan di media sosialmu

Wacana-edukasi.com, SURATPEMBACA–Kasus bunuh diri akibat tekanan hidup kembali terjadi. Seorang mahasiswi berusia 21 tahun ditemukan meninggal dunia di bagian belakang rumahnya di Komplek Kartini I, Kelurahan Sungai Harapan, Kecamatan Sekupang, Batam, Rabu (23/9) siang. Korban ditemukan oleh temannya yang sebelumnya hendak datang untuk menyampaikan perubahan jadwal sidang skripsi, setelah korban tidak merespons panggilan telepon. Korban diduga mengakhiri hidup karena persoalan skripsi (metropolis.co.id, 23/09/2026).

Masih di bulan yang sama, mahasiswa Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) berinisial RPA (20) ditemukan meninggal dunia di tempat kosnya di kawasan Sukolilo, Surabaya, Rabu (16/9/2026) dini hari. Mahasiswa semester 5 asal sidoarjo tersebut dikenal pendiam. Meski demikian, belum diketahu pasti penyebab bunuh dirinya (kompas.com, 17/9/2026).

Selain itu, sempat viral juga pria berinisial FS (30) ditemukan meninggal dunia di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta Pusat, Minggu (6/9/2026) dini hari. FS ditemukan oleh teman dan petugas keamanan setelah sebelumnya sulit dihubungi. Polisi menyatakan tidak menemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban dan masih mendalami kejadian tersebut (kompas.com, 6/9/2026).

Beban Hidup

Kasus mahasiswa dan masyarakat yang berakhir dengan dugaan bunuh diri menunjukkan bahwa tekanan hidup dapat menjadi persoalan serius ketika seseorang tidak memiliki tempat bersandar yang kuat. Persoalan pendidikan, tekanan kehidupan, hingga kesendirian dapat membuat beban terasa semakin berat. Dalam kondisi demikian, persoalan tidak cukup dilihat sebagai kelemahan individu, tetapi perlu dilihat dari sistem kehidupan yang membentuk cara manusia berpikir dan menjalani kehidupan.

Sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan, menjadikan generasi kehilangan pegangan ketika menghadapi persoalan hidup. Ketika iman tidak menjadi landasan dalam menghadapi ujian, kesulitan mudah dipandang sebagai jalan buntu, sehingga seseorang terjebak dalam keputusasaan.

 

Belum lagi kehidupan serba individualistik. Setiap orang sibuk dengan urusannya masing-masing, kurang kepeduliannya dengan sekitarnya.

Terwujud dengan Islam

Islam membangun akidah sebagai benteng jiwa sejak dini. Seorang Muslim ditanamkan keyakinan bahwa kehidupan merupakan ujian dari Allah Swt. dan setiap kesulitan harus dihadapi dengan sabar serta tawakal. Islam juga dengan tegas mengharamkan bunuh diri. Dengan akidah dan pemahaman terhadap hukum syarak, seorang Muslim memiliki landasan untuk tetap bertahan dan tidak berputus asa ketika menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Islam juga membangun ikatan yang kuat antara keluarga dan masyarakat berdasarkan akidah. Hubungan antarmanusia tidak dibangun atas kepentingan materi atau kesuksesan individu semata, tetapi atas dasar ukhuwah dan kepedulian. Dengan demikian, seseorang tidak dibiarkan menghadapi beban hidup sendirian. Keluarga, kerabat, tetangga, dan masyarakat memiliki peran untuk saling memperhatikan, membantu, dan menguatkan.

Lebih dari itu, negara dalam Islam bertanggung jawab menerapkan syariat secara kaffah. Sistem pendidikan berbasis akidah akan membentuk generasi yang memiliki tujuan hidup yang benar dan kokoh dalam menghadapi ujian. Sistem ekonomi Islam juga menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat sehingga persoalan kehidupan tidak semakin diperberat oleh sistem ekonomi yang menempatkan keuntungan sebagai orientasi utama.

Dengan penerapan Islam secara kaffah, yang dibangun bukan hanya individu yang kuat secara spiritual, tetapi juga keluarga yang kokoh, masyarakat yang saling peduli, dan negara yang bertanggung jawab mengurus rakyat. Dengan demikian, kehidupan dapat menjadi ruang untuk saling menguatkan dan meringankan beban, bukan justru membuat manusia merasa harus menghadapi semuanya seorang diri.

Ismawati

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 0

Comment here