Opini

Ilusi Perdamaian BoP yang Melemahkan Palestina

Bagikan di media sosialmu

Penulis : Siti Riyani Novrianti, S.Sos.

wacana-edukasi.com, OPINI–Penderitaan Palestina tak ujung usai, memasuki tahun ketiga pasca serangan Israel 07 Oktober 2023 masih banyak muslim yang syahid. Wacana damai yang dibicarakan tampak tak lebih dari sekedar ilusi yang tidak pernah terwujud.

Penghujung bulan kemarin, melansir dari kantor berita AFP, Trump menyebutkan bahwa Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian mencapai titik kesepakatan untuk melucuti senjata Hamas maupun kelompok bersenjata lain di Gaza. Lebih lanjut, Trump mengatakan bahwa keputusan ini sebagai langkah menuju perdamaian (Detiknews.com, Jumat, 31 Juli 2026).

Terkait pernyataan Trump, kelompok Hamas membenarkan kesepakatan tersebut, namun dengan catatan pasukan Israel ditarik dari Jalur Gaza. Kelompok pejuang ini berharap agar negara mediator dan Dewan Perdamaian memastikan Israel tidak melanggar hal yang sudah disepakati. (Cnnindonesia.com, Jumat, 31 Juli 2026). Namun, mengutip dari idntimes.com, nyatanya serangan zionis Israel di Gaza tetap berlanjut pada Sabtu dan Minggu (1-2/08/2026).

Pelucutan senjata Hamas dan kelompok bersenjata lainnya di Gaza yang diklaim sebagai jalan menuju damai hanyalah cara halus memperlemah pejuang muslim. Karena faktanya dari waktu ke waktu, Zionis Israel selalu melanggar perjanjian dan terus menyerang dengan keji tanpa pandang bulu.

Saat ini, statement tolak BoP pun mulai pudar di tengah umat, padahal memilih bergabung dengan BoP secara tidak langsung memberikan Palestina ke mulut harimau karena tawaran damai datang dari penjajah yang jelas menjarah. Hal ini juga terlihat dengan kesepakatan yang membuat pejuang Islam tidak berdaya. Pelucutan senjata nyatanya bukan solusi yang menghasilkan perdamaian, keamanan, dan pembebasan Gaza. Zionis Israel tetap menjajah, merampas tanah dan melakukan genosida.

Hal yang sangat menyedihkan, pembangunan New Gaza terus berlanjut dengan propaganda “Demi menyelamatkan penduduk Gaza”, anehnya mengapa tidak dari dulu? Padahal tanah Palestina telah dijajah selama puluhan tahun. Selain itu, penempatan pasukan stabilitas internasional tidak ditujukan untuk membebaskan Palestina dari penjajah Zionis Israel. Malah semakin menguatkan cengkraman penjajah atas kaum muslim dari berbagai sisi.

Umat Islam harus menyadari bahwa berbagai tawaran damai yang digadang-gadang AS maupun Zionis Israel dari dulu sampai sekarang merupakan siasat yang terus diperbarui untuk melanggengkan penjajahan atas bumi Palestina. Karena penjajah tidak akan rela melepaskan tanah jajahannya. Maka suara-suara yang mengkritik dan mengoreksi kesalahan pemimpin negeri negeri muslim yang memilih bersekutu dengan AS dalam BoP haruslah terus diperbesar sehingga terbentuk kesadaran di tengah umat bahwa pembebasan Palestina hanya bisa dilakukan oleh kaum muslim dengan melepaskan kecintaan kepada dunia.

Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Saw:

“Bangsa-bangsa di dunia akan memperebutkan kalian (umat Islam), seperti memperebutkan makanan yang berada di mangkuk.” Seorang laki-laki berkata, “Apakah kami (umat Muslim) pada waktu itu berjumlah sedikit?” Beliau SAW menjawab, “Bahkan jumlah kalian pada waktu itu sangat banyak, tapi seperti buih di genangan air. Sungguh Allah akan mencabut rasa takut para musuh kepada kalian, dan menanamkan Al Wahn ke dalam hati kalian.” Seseorang lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apa itu Al Wahn?” Beliau SAW menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR Abu Daud).

Sikap para pemimpin negeri muslim yang ikut serta mendukung BoP atau melakukan hubungan diplomatik dengan Zionis Israel adalah bentuk pengkhianatan kepada umat Islam. Seharusnya mereka menolong umat Islam di Gaza. Allah Swt mengingatkan dalam firman-Nya:

” Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa, ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Makkah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!’” (QS An-Nisa [4]: 75).

Selain itu, pembebasan Palestina akan selalu menemui titik buntu jika negeri-negeri muslim masih tercerai berai dalam bentuk nation-state. Sekuat apapun kekuatan yang dimiliki masing-masing negara tidak akan benar-benar berdaya jika masih dalam cengkraman negara adidaya. Maka, umat harus bersatu dalam satu naungan kepemimpinan Islam dengan sistem khilafah.

Hal ini terbukti pada masa Kekhilafahan Turki Ustmani di bawah kepemimpinan Sultan Abdul Hamid II, meskipun keadaan Daulah Islam sudah melemah tetapi ketika Theodore Herzl meminta sebagian wilayah Palestina untuk bangsa Yahudi. Sultan menolak mentah-mentah permintaan tersebut. Dari peristiwa ini, kita menyadari bahwa umat Islam butuh pelindung atau perisai dalam satu komando. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Saw:

” Imam (khalifah) adalah perisai, di belakangnya kaum muslim berperang dan berlindung.” (HR Bukhari Muslim).

Sejak Kekhilafahan Islam runtuh tahun 1924, kehidupan umat Islam penuh dengan derita, penghinaan dan ketidakberdayaan. Maka, sudah waktunya menyerukan dakwah Islam kaffah ke tengah masyarakat agar tercipta perspektif yang sama tentang solusi tuntas pembebasan Palestina, yakni dengan persatuan di bawah satu kepemimpinan dalam naungan sistem Islam.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 2

Comment here