Wacana-edukasi.com, SURATPEMBACA–Krisis kesehatan mental termasuk depresi dikalangan remaja dan dewasa masih menjadi tantangan besar menuju indonesia Emas. Ironisnya, negara tengah menargetkan generasi muda untuk kemajuan bangsa justru generasi muda mengalami kecemasan tinggi akibat kecemasan ekonomi, kehidupan yang tidak jelas dan persaingan hidup yang tidak pasti di masa depan.
Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Kemenkes, dari sekitar 7 juta anak yang diskrining, 4,8% (sekitar 363.326 anak) menunjukkan gejala depresi dan 4,4% (sekitar 338.316 anak) mengalami gejala kecemasan. Sayangnya, hanya 2,6% anak yang mendapatkan penanganan profesional.
Berbagai faktor di antaranya adalah cemas akan masa depan (anxiety), ketidakpastian karier, tekanan finansial, eksprestasi sosial, hingga perasaan tidak berdaya menghadapi berbagai kondisi dan tantangan di luar.
Rata-rata yang mengalami depresiasi akibat tekanan kehidupan adalah gen Z. Masalah ini tidak serta-merta muncul tiba-tiba. Berbagai persoalan dari krisis ekonomi, ketidakpastian politik, ekonomi yang sulit masih menjadi kekhawatiran bagi masyarakat. Maka, di tengah kondisi ini banyak anak muda merasa gelisah dengan hidupnya. Mereka merasa tidak layak hidup karena di depan mereka sudah banyak kegagalan.
Bagaimana mungkin bisa mewujudkan Indonesia emas?
Akar dari permasalahan ini adalah diterapkan sistem sekuler kapitalistik. Buktinya negara tidak bisa meriayah masyarakat dan semakin kesini semakin meningkat pemuda yang terkena gangguan mental. Gagalnya sistem ini karena memisahkan aturan agama dengan kehidupan. Wajar, banyak generasi muda yang kehilangan jati dirinya dan tidak paham dengan keislamannya.
Di tambah media sosial yang terus memperlihatkan karier, kejayaan dan popularitas yang dimiliki orang lain. Ketika ia gagal memenuhi standar itu, maka yang terjadi adalah depresi, hilang harapan dan putus asa. Semua ini hanya bersifat duniawi dan semu.
Buktinya negara abai dalam memberikan kebutuhan pada rakyat. Lapangan pekerjaan sulit, mencari uang seribu pun terasa sulit dan banyak sekali orang-orang yang nekat mengambil jalan pintas dengan mencuri hak orang lain. Ditambah para pemimpin zalim mengeruk uang rakyat dengan cara korupsi.
Kita butuh sistem adil yang mampu menyerahkannya seluruh rakyat. Sistem ini adalah sistem Islam. Islam mengatur seluruh aspek kehidupan. Islam mengatur hubungan manusia kepada Allah, mengatur hubungan manusia kepada manusia lainnya dan mengatur hubungan manusia kepada dirinya sendiri. Islam tak hanya agama ritual, tetapi mengatur seluruhnya dari segi pendidikan, ekonomi, politik, budaya, sanksi dan lainnya.
Pembinaan generasi mulai diwujudkan dengan penanaman akidah yang benar sejak usia dini agar dididik memahami tujuan penciptaan dan kehidupan dunia adalah amanah dari Allah yang akan dipertanggungjawabkan.
Setiap peristiwa yang terjadi pada manusia sesuai dengan qada dan qadarnya. Memahami Islam dengan sempurna, memiliki pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan Islam. Kepribadian seperti ini akan menyadarkan ketangguhan. Seorang muslim memiliki sikap sabar dan senang hatinya untuk tertaut kepada Allah.
Ketika para generasi diajarkan dengan baik, maka mereka tidak akan lagi depresi dan mereka lebih semangat untuk bekerja, mengejar cita-cita di bantu juga oleh negara membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya. Salah satu contoh pemuda yang luar biasa pada masanya adalah sultan Muhammad Al-Fatih yang berhasil menaklukkan konstantinopel.
Shalahuddin Al-Ayyubi berhasil mempersatukan umat Islam dan merebut kembali tanah kaum muslimin (Al-Qudus) dan masih banyak lagi para pemuda pada masa kejayaan Islam yang gemilang. Sungguh, kita merindukan sistem Islam itu.
Miftahul Jannah
Views: 6


Comment here