Opini

Tempe Mengecil, Potret Rapuhnya Ekonomi Kapitalisme

Bagikan di media sosialmu

Oleh: Ummu Nazriel (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)

wacana-edukasi.com, OPINI–Beberapa waktu terakhir, masyarakat kembali dihadapkan pada kenyataan yang terasa sederhana tetapi sesungguhnya menyimpan persoalan besar: ukuran tempe semakin kecil. Di pasar-pasar tradisional, banyak pembeli mulai mengeluh karena harga tempe tetap sama, tetapi bentuknya makin tipis dan ukurannya menyusut. Sebagian pedagang bahkan mengurangi jumlah produksi karena biaya bahan baku terus naik.

Bagi sebagian orang, mungkin ini tampak seperti persoalan biasa. Hanya soal tempe yang mengecil. Namun di balik itu, ada cerita tentang perajin kecil yang terhimpit, ada keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan pangan, dan ada sistem ekonomi yang sebenarnya sedang menunjukkan kerapuhannya.

Kenaikan harga kedelai impor menjadi pukulan berat bagi perajin tahu dan tempe di berbagai daerah. Pelemahan nilai tukar rupiah membuat harga bahan baku melonjak sehingga para pedagang terpaksa mencari cara bertahan. Salah satu siasat yang banyak dilakukan adalah memperkecil ukuran tempe tanpa menaikkan harga jual agar tetap terjangkau bagi masyarakat.

Sebagian perajin juga mengurangi jumlah produksi karena biaya usaha semakin tinggi. Tidak hanya kedelai yang mahal, harga plastik kemasan pun ikut naik dan menambah beban pengeluaran. Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, mereka harus bertahan dengan keuntungan yang semakin tipis.

Situasi ini memperlihatkan betapa rentannya usaha kecil dalam sistem ekonomi hari ini. Perajin tahu-tempe yang selama puluhan tahun menjadi penyangga pangan rakyat justru harus menghadapi tekanan besar hanya karena gejolak kurs mata uang dan ketergantungan pada impor.

Ironisnya, Indonesia adalah negeri agraris yang tanahnya subur dan memiliki jutaan petani. Namun untuk memenuhi kebutuhan kedelai saja, negeri ini masih sangat bergantung pada impor hingga nilainya mencapai triliunan rupiah setiap tahun.

Ketika nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar, harga kedelai otomatis melonjak dan rakyat kecil kembali menjadi korban. Inilah wajah nyata ekonomi Kapitalisme: sistem yang membuat negara bergantung pada pasar global dan membiarkan kebutuhan pokok rakyat ditentukan oleh fluktuasi internasional.

Dalam Kapitalisme, ketahanan pangan tidak dibangun atas dasar kemandirian, melainkan atas dasar keuntungan ekonomi. Selama impor dianggap lebih murah dan menguntungkan pasar, maka produksi dalam negeri sering diabaikan. Akibatnya, petani lokal tidak berkembang, lahan pertanian menyusut, dan negara semakin bergantung pada pasokan luar negeri.

Ketika krisis global terjadi atau nilai mata uang melemah, dampaknya langsung terasa hingga ke dapur rakyat kecil. Harga pangan naik, usaha kecil tertekan, dan daya beli masyarakat menurun.

Yang lebih menyedihkan, negara sering kali hanya hadir sebagai pengamat. Kebijakan yang muncul biasanya sebatas operasi pasar, bantuan sementara, atau himbauan agar masyarakat memaklumi keadaan. Padahal persoalannya jauh lebih mendasar: negara gagal membangun kemandirian pangan dan gagal melindungi usaha rakyat dari tekanan ekonomi.

Perajin tahu-tempe sebenarnya bukan sekadar pelaku usaha kecil biasa. Mereka adalah bagian penting dari rantai pangan masyarakat. Tempe dan tahu telah lama menjadi makanan rakyat yang murah, bergizi, dan mudah dijangkau. Ketika usaha mereka terguncang, dampaknya langsung dirasakan masyarakat luas.

Naiknya harga plastik kemasan pun memperlihatkan bahwa biaya produksi usaha kecil sangat rentan terhadap gejolak pasar.

Dalam sistem Kapitalisme, seluruh kebutuhan produksi diserahkan kepada mekanisme pasar bebas. Harga bahan baku dapat naik sewaktu-waktu mengikuti kepentingan industri dan spekulasi pasar. Akibatnya, usaha kecil yang modalnya terbatas menjadi pihak yang paling mudah terpukul.

Padahal negara seharusnya hadir menjaga kestabilan ekonomi rakyat, bukan membiarkan mereka bertarung sendirian menghadapi pasar yang keras.

Islam memiliki pandangan yang berbeda dalam mengatur ekonomi dan ketahanan pangan. Dalam sistem Islam, negara adalah raa’in atau pengurus rakyat.

Dijelaskan dalam hadist Nabi saw: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya.” ( HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Negara wajib memastikan kebutuhan pokok masyarakat terpenuhi dan menjaga stabilitas ekonomi agar rakyat tidak hidup dalam kesulitan. Salah satu penyebab rapuhnya ekonomi hari ini adalah sistem mata uang fiat yang nilainya mudah bergejolak. Pelemahan rupiah terhadap dolar langsung mempengaruhi harga import dan berdampak pada kebutuhan masyarakat.

Dalam sistem Islam, Khilafah menggunakan mata uang berbasis emas dan perak yang memiliki nilai intrinsik dan lebih stabil. Dengan sistem ini, nilai uang tidak mudah dimainkan spekulan dan gejolak kurs dapat diminimalkan.

Mata uang Dinar dan dirham dijelaskan dalam firman Allah surat at Taubah: 34 yang artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya banyak dari orang-orang alim dan rahib rahib, mereka benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil, dan (mereka) menghalang halangi( manusia)dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menginfakkannya di jalan Allah, maka berikanlah kabar gembira kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapatkan)azab yang pedih.”

Islam juga tidak membiarkan negara bergantung pada impor pangan. Khilafah akan berupaya membangun kemandirian produksi dalam negeri dengan menghidupkan sektor pertanian secara serius. Lahan-lahan tidur akan diolah, petani didukung dengan fasilitas dan teknologi, serta produksi pangan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan rakyat terlebih dahulu.

Negara akan memastikan bahwa komoditas penting seperti kedelai dapat diproduksi secara mandiri sehingga rakyat tidak tergantung pada pasar luar negeri.

Dengan demikian, ketika terjadi gejolak global, kebutuhan pangan masyarakat tetap aman. Politik ekonomi Islam juga tidak berorientasi pada keuntungan segelintir pemilik modal, melainkan pada pemenuhan kebutuhan pokok setiap individu rakyat.

Negara wajib melindungi usaha kecil agar tetap mampu bertahan dan berkembang. Dalam Islam, penguasa tidak boleh membiarkan rakyat hidup dalam tekanan ekonomi berkepanjangan. Negara harus hadir membantu perajin kecil, menjaga distribusi barang, mengontrol praktik penimbunan, dan memastikan harga kebutuhan pokok tetap terjangkau.

Karena itu, persoalan tempe yang mengecil hari ini sebenarnya bukan hanya soal ukuran makanan. Ia adalah tanda bahwa sistem ekonomi yang diterapkan saat ini gagal memberikan rasa aman kepada rakyat kecil. Ketika harga bahan baku naik sedikit saja, rakyat langsung kesulitan. Ketika nilai tukar melemah, kebutuhan pokok ikut terguncang.

Padahal sebuah sistem ekonomi seharusnya mampu melindungi rakyat dari gejolak seperti ini. Bukan malah membuat hidup mereka terus bergantung pada keadaan pasar global.

Kapitalisme telah melahirkan ketergantungan yang panjang: bergantung pada impor, bergantung pada dolar, bergantung pada investor, dan bergantung pada mekanisme pasar internasional. Akibatnya, negeri yang kaya sumber daya justru tidak memiliki kedaulatan penuh atas kebutuhan pangannya sendiri.

Sementara Islam menawarkan sistem yang membangun kemandirian dan perlindungan nyata terhadap rakyat. Negara hadir mengurus kebutuhan masyarakat, menjaga stabilitas ekonomi, dan memastikan pangan mudah diakses semua orang.

Sebab dalam Islam, urusan pangan bukan sekadar komoditas bisnis. Ia adalah kebutuhan dasar rakyat yang wajib dijaga negara. Dan ketika rakyat mulai kesulitan hanya untuk membeli tempe yang layak, maka sesungguhnya yang sedang bermasalah bukan sekadar harga kedelai—melainkan sistem yang mengatur kehidupan itu sendiri.

Sejak berabad abad lamanya, dari masa Rosulullah Saw umat Islam menggunakan Dinar dan Dirham sebagai alat perdagangan yang resmi yang paling stabil. Karena mata uang tersebut memiliki nilai yang tetap sehingga tidak terjadi masalah atau kendala dalam proses perputaran uang tersebut. Didalam hadist menjelaskan:

“Apabila di akhir zaman, manusia di kalangan mereka itu harus menggunakan dirham dirham dan dinar-dinar sehingga dengan kedua mata uang itu seorang laki-laki menegakkan agama dan dunianya.” (HR. At-Thabrani)

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 21

Comment here