Surat Pembaca

BoP Perdamaian Semu

Bagikan di media sosialmu

Oleh: Wati Ummu Nadia

Wacana-edukasi.com, SURAT PEMBACA–Serigala tetaplah serigala. Tetap culas, rakus, dan kejam. Meski wujudnya berbalut kulit domba. Begitupun wajah Amerika Serikat. Sifat rakus, culas, kejam, dan haus darahnya tak akan hilang meski mulutnya menawarkan perdamaian untuk tanah Palestina dalam pembentukan Dewan Perdamaian, Board of Peace.

Sayangnya, banyak pihak tertipu mulut manis Amerika Serikat. Banyak pihak menyangka dia adalah malaikat yang datang menjadi juru selamat. Sehingga dengan ringan tangan membubuhkan tanda tangan persetujuan terhadap pembentukan Board of Peace yang ditawarkan Amerika Serikat. Indonesia, termasuk salah satunya.

 

Presiden Prabowo Subianto secara resmi telah menandatangai Board of Peace (BoP) Charter di Davos, Swiss pada Kamis, 22 Januari 2026 (setkab.go.id, 22/1/2026). Di kesempatan itu, Presiden Prabowo menyampaikan bahwa BoP adalah momentum bersejarah sekaligus peluang nyata untuk mendorong upaya perdamaian di Gaza. Ia juga menegaskan kesiapan Indonesia untuk berperan aktif dalam forum tersebut sebagai bagian dari komitmen kemanusiaan dan perdamaian dunia.

 

Setelah resmi bergabung dengan Dewan Perdamaian (Board of Peace), pemerintah menyebut ada iuran keanggotaan sebesar US$ 1 miliar atau setara Rp 16,9 triliun. Dana yang cukup fantastis untuk negara yang mayoritas dompet rakyatnya kembang-kempis.

 

Masih yakinkah Dewan Perdamaian, Board of Peace, akan mampu menghadirkan perdamaian di Palestina jika pendirinya adalah Donald Trump, si admin dan polisi dunia? Jangan naif, kawan! Amerika Serikat adalah negara paling berkuasa di dunia. Bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bertekuk lutut di bawah hak vetonya. Lalu, untuk siapa Board of Peace didirikan?

 

Jika pembentukan Board of Peace adalah untuk perdamaian Palestina, semestinya pihak yang harus banyak terlibat adalah Palestina. Namun kenyataannya, Palestina tidak dilibatkan sama sekali. Ini seharusnya menjadi sinyal akan keculasan Amerika Serikat. Amerika ingin menjalankan misi geopolitik dan ekonominya atas tanah Palestina dengan stempel legalitas yang diberikan oleh banyak negara, terutama dari negara-negara berpenduduk muslim.

 

Trump ingin menguasai Gaza dan mengusir penduduknya, sebagaimana tertuang dalam 20 poin rencana perdamaian yang diusulkannya pada Oktober 2025 lalu. Kemudian membangun “Gaza Baru” dengan wajah Barat. Penuh gedung pencakar langit, wisata pantai yang super mewah, pelabuhan, bandara, dan sebagainya. Ia pun menyiapkan Jared Kushner, menantunya, untuk menjadi eksekutor rencana tersebut.

 

Trump juga ingin menjadikan Gaza sebagai zona terderadikalisasi, bebas dari berbagai teror, dan melucuti senjata Hamas. Padahal pelaku teror sesungguhnya adalah Zionis Israel yang menjadi sekutu Amerika Serikat, yang sampai hari ini tetap dibiarkan menenteng senjata-senjatanya untuk meneror dan membantai muslim Gaza. Inikah yang namanya perdamaian?

 

Dari sini tampak nyata, bahwa perdamaian usulan Trump melalui Board of Peace adalah untuk pembersihan dan pengusiran umat Islam dari wilayah Gaza, serta menjadi legalitas bagi perampasan tanah Palestina. Alhasil, bergabung dengan BoP adalah bentuk pengkhianatan negeri-negeri muslim kepada muslim Gaza. Padahal Allah melarang keras untuk memberi jalan bagi orang-orang kafir untuk menguasai umat Islam (QS An Nisa: 141).

 

Sesungguhnya Palestina tidak butuh Board of Peace dan apapun tawaran dari AS. Yang dibutuhkan Palestina adalah pembebasan dari pendudukan dan penjajahan Zionis. Janji-janji perdamaian yang ditawarkan Amerika Serikat hanyalah racun yang akan membunuh rakyat Palestina dan bentuk penyerahan tanah Palestina tanpa syarat kepada Zionis.

 

Tidak akan pernah terwujud perdamaian selama Zionis masih berada di Palestina dan terus membunuhi rakyat Palestina. Perdamaian hakiki hanya terwujud dengan dihilangkannya entitas Zionis dari bumi Palestina. Serta ditaklukannya Amerika Serikat yang terus menjadi penopang bagi Zionis. Karena itu, umat Islam harus bersatu dan berjihad membebaskan Palestina dalam komando Khilafah.

Negeri-negeri muslim tidak boleh bersekutu dengan negara dan entitas yang terus memusuhi Islam dan umatnya. Justru yang harus umat Islam lakukan adalah bersatu dan mewujudkan khilafah sebagai urusan hidup-mati mereka, agar pertolongan Allah segera kita raih sehingga mampu membebaskan Palestina.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 14

Comment here