Opini

Anomali Angka Pertumbuhan Ekonomi

Bagikan di media sosialmu

Oleh: Wiwin

Wacana-edukasi.com, OPINI–Baru-baru ini Pemerintah mengklaim bahwa perekonomian Indonesia tumbuh 5,12% pada kuartal II 2025, meningkat dibandingkan pertumbuhan tahun sebelumnya 5.05%. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati optimis perekonomian Indonesia akan terus membaik karena ditopang oleh konsumsi domestik yang solid, aktivitas investasi dan ekspor yang meningkat, aktivitas dunia usaha yang ekspansif, serta dukungan optimal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). (kemenkeu.id 6/8/2025).

Namun kenyataannya di masyarakat terutama kelas menengah pekerja, merasa gaji bulanannya tidak cukup untuk hidup selama 1 bulan. Pengeluaran selalu lebih besar dari pendapatan padahal hidup sudah diusahakan hemat. Pengeluaran terbesar untuk urusan rumah tangga seperti makanan, listrik, air, cicilan rumah dan transportasi. Mereka harus punya penghasilan lain atau berutang sebelum dapat gaji lagi.

Kondisi yang dialami kelas menengah dikuatkan oleh pendapat Kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi INDEF Andry Satrio Nugroho yang menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi 5,12% pada triwulan II tahun ini adalah anomali (janggal), sebab data yang dirilis tidak mencerminkan kondisi riil di lapangan yang justru mengalami perlambatan (Kompas.com, 6/8/2025).

Kelas Menengah menurut Badan Pusat Statistik (BPS) adalah kelompok masyarakat yang memiliki pengeluaran bulanan antara Rp 2 juta hingga Rp 9,9 juta per orang pada tahun 2024. Ciri lain kelas menengah adalah kepemilikan rumah, kendaraan pribadi, pendidikan tinggi untuk anak-anak, jaminan pensiun, akses ke layanan kesehatan yang memadai dan liburan ke tempat rekreasi.

Dalam perekonomian, kelas menengah berperan penting sebagai penggerak konsumsi dan daya beli. BPS menunjukkan bahwa kelompok kelas menengah dan calon kelas menengah menyumbang lebih dari 81% pengeluaran rumah tangga nasional. Sehingga perilaku mereka menjadi indikator kondisi ekonomi nasional.

Sayangnya dua tahun terakhir, kehidupan dirasa berat oleh kelompok kelas menengah ini. Tidak ada lagi dana untuk rekreasi, menabung atau belanja barang kebutuhan sekunder. Yang terjadi malah tabungan sedikit demi sedikit dipakai untuk keperluan sehari-hari. Kalau pun jalan-jalan ke pusat perbelanjaan, mereka hanya melihat-lihat barang yang sedang trend, berswafoto sekadar untuk dipajang di media sosial, tanpa kemampuan untuk membeli. Sehingga mereka dijuluki Rojali (Rombongan Jarang Membeli).

Fenomena Rojali atau berjalan-jalan tanpa belanja menunjukkan bahwa kelas menengah menahan keinginan untuk berbelanja karena pendapatan mereka hanya cukup untuk kebutuhan primer. Mereka merasa segala pemenuhan kebutuhan dasar mahal tapi pendapatan sulit naik (tirto.id 7/8/25).

Kelas menengah rentan terhadap dampak krisis ekonomi, namun seringkali mereka tidak mendapatkan perhatian yang cukup dari pemerintah dalam hal bantuan sosial karena bansos terfokus pada kelompok miskin dan kelas menengah dianggap mampu mengatasi krisis secara mandiri.

Data BPS menunjukkan bahwa dalam 5 tahun telah terjadi penurunan secara signifikan jumlah kelas menengah di Indonesia. Pada tahun 2019 kelas menengah tercatat 57,33 juta orang (21,45% dari total penduduk) namun pada tahun 2024 turun menjadi 47,85 juta orang (17,13%). Artinya ada 9.48 juta orang turun kasta menjadi kelas miskin. Hal ini menunjukkan bahwa di masyarakat bukan terjadi peningkatan kesejahteraan tetapi sebaliknya, yaitu penurunan kesejahteraan.

Terjadinya anomali angka pertumbuhan ekonomi bukan hal yang aneh dalam sistem ekonomi Kapitalisme. Indonesia menjelang peringatan hari kemerdekaan tentu harus menunjukkan prestasi yang membanggakan bagi pemerintah. Maka entah dengan indikator apa, yang penting keluar angka-angka yang menyelamatkan muka rezim. Tidak peduli banyak pihak yang menyangsikan angka tersebut.

Di tengah hiruk pikuk persiapan peringatan HUT Kemerdekaan, banyak masyarakat yang pesimis dengan kehidupan masa depan di negeri ini. Harga-harga merayap naik, biaya transportasi, pendidikan dan kesehatan mahal sementara pekerjaan makin sulit didapat. Pengangguran makin banyak, kriminal makin marak, PHK di mana-mana. Timbul pertanyaan, benarkah kita sudah merdeka? Peringatan HUT Kemerdekaan rasanya hanya sebatas hiburan semata, besok lusa kembali menjalani kehidupan yang sulit.

Itulah kenyataan hidup dalam sistem batil, sistem sekuler yang meniadakan aturan agama dalam kehidupan. Allah SWT telah mengingatkan dalam QS Thaha ayat 124 yang artinya: Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku (Syari’at Islam), maka kehidupannya akan terasa sempit (materi maupun batin).

Maka bila kita ingin ada perubahan dalam hidup, dari kehidupan serba sulit serba rumit, campakkan sistem Kapitalisme sekuler itu. Kembalilah pada sistem yang sahih, yaitu sistem Islam dalam naungan negara Khilafah.

Sistem negara Khilafah berlandaskan syariat Islam buatan Allah SWT yang adil dan penuh keberkahan. Pemerintah bertanggung jawab terhadap pemenuhan kebutuhan rakyat. Pemerintah mengelola sumber daya alam (SDA) untuk kemaslahatan rakyat sehingga punya dana untuk mengurus rakyatnya. Pemerintah Islam mandiri dan berdaulat penuh sehingga tidak ada tekanan dari negara lain dalam mengurus dan melindungi rakyatnya. Kemerdekaan akan dirasakan secara nyata dalam segala bidang.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 12

Comment here