Opini

Kering Lapangan Kerja, Banjir Sarjana, kok Bisa?

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh : Aqila Farisha (Aktivis Muslimah Kal-Sel)

wacana-edukasi.com, OPINI-– Pengangguran masih menjadi momok yang menakutkan di Indonesia. Pekerjaan yang layak dan sesuai keahlian masih sulit didapat. Selain karena minimnya lapangan pekerjaan yang sesuai, permainan orang dalam juga menjadi faktor yang memperburuk situasi. Yang lebih pelik, para pengangguran ini sering kali bukan orang berpendidikan rendah atau tak berpendidikan sama sekali. Justru tak sedikit dari mereka yang merupakan lulusan sarjana.

Berdasarkan survei Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah pengangguran di Kalsel mencapai 84.913 jiwa per Ferbruari 2024. Yang mencengangkan, dari tingkat pendidikan penduduk yang bekerja, lulusan diploma maupun sarjana terdata paling rendah yakni 13,62 persen.

Diakui Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans), Irfan Sayuti mengatakan, tantangan ketenagakerjaan di negeri ini, termasuk di Kalsel, meliputi kondisi pasar kerja yang timpang, termasuk kualitas kompetensi pencari kerja yang belum sesuai dengan kebutuhan dunia industri. Ia juga mengatakan pihaknya terus melakukan peningkatan calon tenaga kerja, dengan memberikan pelatihan, sertifikasi, dan penempatan dalam sebuah bisnis yang terpadu dan efektif dalam rangka mempertemukan pencari kerja dengan permintaan pasar kerja (Radar Banjarmasin, 10/6/2024). Misalnya beberapa waktu lalu, Disnakertrans Provinsi Kalsel menyelenggarakan program Tenaga Kerja Mandiri (TKM) dengan kegiatan keterampilan menjahit di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Program TKM ini salah satu nilai dalam mendorong peningkatan perekonomian masyarakat yang ada di kabupaten/kota di Kalsel (Teras7.com, 7/6/2024).

Tingginya pengangguran usia muda bukan hanya perkara penyelenggaraan pendidikan yang belum mampu memenuhi kebutuhan industri seperti kurangnya dunia pendidikan dalam memberikan skill pada peserta didik atau kurangnya pelatihan kerja. Juga bukan karena tingginya kualifikasi yang diminta industri. Tingginya pengangguran tidak lepas dari sempitnya lapangan pekerjaan yang ada.

Kita tahu saat ini gelombang PHK di dalam negeri terus belanjut. Jumlahnya di prediksi mencapai 50 ribu bahkan 100-an ribu pekerja sejak awal tahun 2024. Tak hanya sekedar efisiensi jumlah tenaga kerja. Gelombang PHK juga sebagai dampak penutupan pabrik atau perusahaan. Penyebabnya, karena tidak lagi sanggup bertahan, tidak bisa bersaing memanfaatkan pasar domestik di tengah konsumsi yang masih terus menggeliat. Sementara itu, lulusan perguruan tinggi terus di produksi setiap tahun dalam jumlah besar. Dengan melihat kondisi ini, wajar jika banyak pemuda yang menjadi pengangguran.

Oleh karenanya persoalan pengangguran tidak lain dikarenakan minimnya lapangan pekerjaan. Pemerintah dalam sistem kapitalisme hanya berposisi sebagai makelar yang menghubungkan antara penyedia SDM, yaitu dunia pendidikan dengan industri (penyedia lapangan kerja).

Hal ini berbeda dengan pemerintahan dalam sistem Islam. Dalam islam pemerintah berposisi sebagai raa’in (pengurus). Pemerintah dalam Islam akan menjamin tersedianya lapangan pekerjaan bagi rakyatnya. Pemimpin dalam islam akan melakukan industrialisasi di dalam negeri dengan mendirikan industri alat-alat. Dengan adanya industri alat-alat ini, akan tumbuh industri yang lain.

Pada masa lalu pemerintahan islam memiliki industri dengan spektrum yang sangat luas. Seperti yang tertuang dalam buku Islamic Technology karya Donald R. Hill, bahwa pada masa pemerintahan islam, Industri sangat berkembang pesat, mulai dari industri mesin, bahan bangunan, persenjataan, perkapalan, kimia, tekstil, kertas, kulit, pangan, hingga pertambangan dan metalurgi.

Dengan begitu luasnya spektrum industri ini, maka lapangan kerja akan banyak tersedia. Berapa pun jumlah lulusan, akan terserap dalam industri. Alhasil tidak akan ada pengangguran seperti saat ini. Kecuali orang-orang yang fisiknya lemah sehingga ia akan dinafkahi oleh keluarga atau negara.

Industrialisasi ini diawali dengan pengembalian harta milik umum menjadi milik rakyat dengan negara sebagai pengelolanya. Seperti pertambangan, yang mana selama ini dikuasai oleh swasta kapitalis. Dengan demikian seluruh rakyat akan merasakan hasilnya dan bisa turut berperan dalam proses industrinya.

Meski merekrut para lulusan sekolah dan kampus ke dalam industri. Dalam islam, pemerintah tidak mendidik generasi muda untuk menjadi pekerja industri, meski secara kompetensi mereka mampu memenuhi kebutuhan industri. Dalam islam asas pendidikan adalah akidah islam dan tujuan pendidikan adalah mencetak individu berkepribadian islam sekaligus menguasai iptek. Kurikulum dibuat untuk menjadikan lulusan menjadi fakih dalam agama dan sekaligus pakar dalam iptek.

Dampaknya industri tidak hanya memproduksi barang, tetapi menghasilkan penemuan berupa alat-alat, yang akan memaksimalkan hasil industri. Hal ini sebagai mana saat masa kejayaan islam, sebelum maraknya industri, negara islam telah melakukan revolusi pertanian dengan penemuan berbagai alat dan teknik sehingga pertanian melesat.

Semua ini akan menghasilkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat, termasuk pemuda yang bingung harus bekerja apa. Ini karena mereka memiliki kompetensi dan negara menyediakan lapangan kerja. Sebuah capaian yang luar biasa dan sangat kita dambakan. Wallahualam bissawab.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 7

Comment here