Surat Pembaca

Stop Sudutkan Islam

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Azimatur Rosyida (Aktivis Muslimah)

wacana-edukasi.com, SURAT PEMBACA– Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Rycko Amelza Dahniel mengusulkan semua tempat ibadah berada di bawah kontrol pemerintah. Menurutnya, kontrol terhadap penggunaan dan penyalahgunaan tempat ibadah perlu dilakukan untuk menekan radikalisme (republika.co.id, 05/09/23).

Pernyataan tersebut jelas bertolak belakang dengan dasar hukum yang tertuang di Pasal 28E ayat (1) UUD 1945 bahwa setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya. MUI dan Muhammadiyah menolak pernyataan BNPT dengan dalih bahwa negara harus menjamin kebebasan umat beragama untuk menjalankan ibadah
sesuai keyakinan masing-masing.

Ketika kontrol terhadap rumah ibadah dilakukan pemerintah, artinya ada kendali dan kecenderungan yang sesuai dengan legitimasi pemerintah. Akan tertutup pintu kritik terhadap pemerintah. Terjadi kezaliman dan pemaksaan oleh pemerintah terhadap umat beragama.

Sementara itu, jumlah rumah ibadah di Indonesia ada ratusan ribu, diantaranya 285.631 masjid, 72.233 gereja Kristen, 13.749 gereja Katolik, 9.465 pura, 4.199 wihara, 562 klenteng. Sangat ‘konyol’ jika fokus kerja pemerintah di arahkan kepada kontrol rumah ibadah. Sedangkan di sisi lain, banyak permasalahan yang berkaitan dengan degradasi moral anak bangsa yang justru tidak mendapatkan perhatian dan jauh dari solusi.

Islam Disudutkan

Berbagai narasi bertajuk perang melawan radikalisme yang digulirkan oleh pemerintah nyatanya hanya menyudutkan agama Islam semata. Belum ada kasus yang mengisahkan pemuka agama Kristen, Hindu, Buddha melakukan aksi pengeboman lalu dicap teroris. Paling-paling hanya dicap sebagai kelompok kriminal bersenjata (KKB), seperti yang terjadi di Papua.

Pada akhirnya ada dugaan kuat yang mengarah kepada adanya skenario yang sengaja dibuat untuk mengesankan muslim taat adalah radikal dan teroris. Sebagaimana pernyataan seorang Menteri yang mengatakan bahwa orang yang terkait radikalisme biasanya mempunyai wajah good looking, identik dengan masjid dan hafiz Quran. Ada-ada saja! Seolah penguasa di negeri ini semakin kehilangan akal untuk membuat narasi sesat melawan radikalisme.

Indonesia dengan jumlah penduduk muslim menempati 86,7% populasi dituduh berpotensi memiliki paham radikal dan teroris. Akankah tirani minoritas berlaku untuk mencederai mayoritas? Nyatanya, stigma negetif tentang Islam atau islamofobia masih tetap ‘dipaksakan’ menjadi opini yang menakuti-nakuti umat manusia juga umat muslim.

Nyata pembantaian yang menimpa ribuan umat muslim Rohingya di Myanmar akibat kekejaman kaum nasionalis Buddha. Belum terdengar cap teroris dan radikal disematkan kepada umat Buddha. Nyata pembantaian tiada akhir yang menimpa umat muslim di Palestina akibat kebiadaban Israel. Tapi dunia bungkam, tidak pernah memberi label bahwa Israel adalah teroris dunia. Ada upaya untuk menyudutkan Islam dengan harapan membendung kebangkitan Islam.

Islam Agama Rahmat Bagi Seluruh Alam

Sungguh, tuduhan radikalisme dan terorisme yang diarahkan kepada Islam sejatinya bertolak belakang dengan ajaran Islam. Ketika Rasulullah SAW memimpin pasukan perang, beliau melarang merusak pohon dan binatang peliharaan. Juga sebelum perang dimulai Rasulullah SAW menjamin bahwa pasukan kafir dan pasukan muslim keduanya dalam kondisi siap untuk berperang. Islam mengajarkan adab berperang.

Akan berbeda jika ternyata pelaku pengeboman adalah muslim, sedangkan yang dianggap musuh belum siap perang. Komando dari negara untuk berperang atau mengebom juga tidak ada. Ini tidak beradab namanya. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang membunuh seorang kafir mu’ahad, maka dia tidak akan mencium bau surga. Padahal bau surga itu telah didapati dalam perjalanan 40 tahun.” (HR. Bukhari no.3166).

Siapakah kafir mu’ahad? Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Maksudnya adalah siapa yang memiliki perjanjian dengan orang Islam, baik itu dikategorikan akad jizyah, gencatan senjata, atau jaminan keamanan dari seorang muslim.” (Fathu Al-Bari, 12: 259).

Islam adalah agama yang memberikan pengaturan secara sempurna dan paripurna. Seorang muslim sebelum bertindak, ada banyak ilmu yang harus ia pelajari terlebih dahulu agar perilakunya sejalan dengan perintah Allah. Islam adalah agama yang Allah jamin tersebarnya rahmat di muka bumi jika Islam diterapkan dalam bentuk kekuasaan politik bernegara.

وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَٰلَمِينَ
Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS. Al-Anbiya:107)

Maka satu-satu sistem yang akan menjamin kemuliaan umat muslim di seluruh di dunia hanyalah sistem Islam yakni Khilafah.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 7

Comment here