Opini

Sekularisasi Pemuda dan Ibu, Tantangan Serius Kebangkitan Islam

Bagikan di media sosialmu

Oleh: Puspita Indah Ariani, S.Pd.

Wacana-edukasi.com, SURAT PEMBACA— Sekularisasi yang kian masif pada saat ini, menjangkau hampir semua lapisan masyarakat. Khususnya kaum ibu dan generasi muda, baik di dunia nyata maupun di dunia digital. Arus pemikiran sekuler perlahan tapi pasti telah menggerus jati diri umat Islam.

Generasi muda yang sejatinya dipersiapkan sebagai pelopor perubahan justru mengalami krisis identitas. Banyak pemuda muslim kehilangan visi hidup sebagai hamba Allah dan pengemban risalah Islam. Arus sekularisasi menjauhkan mereka dari peran strategisnya sebagai agen perubahan peradaban.

Kondisi kaum ibu juga memprihatinkan. Dalam sistem kapitalisme, perempuan dan termasuk para ibu diposisikan sebagai objek ekonomi dan komoditas pasar. Peran mulia mereka sebagai ummun wa rabbatul bayt dan pendidik generasi diubah menjadi sekedar tenaga kerja atau konsumen. Padahal Rasulullah SAW menegaskan pentingnya perempuan dalam keluarga dan masyarakat, dalam sebuah hadis beliau bersabda : “Wanita adalah pemimpin di rumah suaminya, dan ia akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menjelaskan bahwa peran ibu bukan sekadar domestik, namun amanah besar dalam membentuk generasi, Sayangnya, tekanan ekonomi dan kapitalisme membuat banyak ibu terpaksa mengabaikan peran mulianya dan tanpa disadari menjadi korban sistem yang zalim.

Fenomena ini tidak bisa dilepas dari fakta bahwa digitalisasi berada di bawah hegemoni kapitalisme. Digitalisasi tidak hanya bertujuan ekonomi, namun sekaligus menjadi sarana efektif penyebaran ideologi rusak. Dimana nilai-nilai liberalisasi, hedonisme dan individualisme disisipkan secara masif melalui konten digital. Allah SWT telah mengingatkan umat agar tidak mengikuti jalan hidup selain Islam, sebagaimana firman Allah SWT : “Dan barang siapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi” (QS. Ali Imran : 85).

Tanpa pembekalan Islam ideologis, kaum ibu dan generasi muda menjadi mudah diombang-ambingkan oleh arus pemikiran yang menjauhkan mereka dari Islam Kaffah. Mereka mudah terpengaruh dan menerima nilai-nilai yang disisipkan tersebut sebagai sesuatu yang wajar.

Negara yang menganut paradikma sekuler memandang kaum ibu dan generasi muda hanya sebagai objek pembangunan dan komersialisasi. Hal ini menunjukan bahwa negara gagal dalam menjalankan fungsi riayah umat secara ideologis dan agama dibatasi pada ranah pribadi. Sistem pendidikan, media dan kebijakan publik disusun berdasarkan logika kapitalisme.

Padahal Islam adalah sistem hidup yang mengatur seluruh aspek kehidupan, sebagaimana firman Allah SWT : “ Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk serta rahmat” (Q.S. An-Nahl : 89).

 

Akar persoalan sesungguhnya terletak pada adopsi sekularisme dan kapitalisme sebagai paradigma bernegara. Kerusakan akan terus berlanjut selama sistem yang buruk dikpertahankan. Degradasi peran ibu dan kerusakan generasi muda akan terus menerus berulang.

 

Di tengah kondisi yang semakin memburuk, kehadiran jamaah dakwah Islam ideologis menjadi sangat mendesak untuk membina (tatsqif) umat. Khususnya generasi muda dan kaum ibu supaya memiliki kepribadian Islam yang utuh. Pembinaan ini bukan sekedar penguatan spiritual individual, tetapi penanaman pemikiran Islam sebagai ideologi yang mengatur seluruh aspek kehidupan.

 

Melalui pembinaan yang benar, pemuda dan kaum ibu dipersiapkan menjadi subjek perubahan sesuai syariat Islam, bukan sekadar korban sistem buruk. Landasan kewajiban keberadaan jamaah dakwah ini ditegaskan Allah SWT dalam firman-Nya : “Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS. Ali Imron : 104). Ayat ini menjelaskan bahwa dakwah adalah aktivitas kolektif, terorganisir, dan berorientasi perubahan sistemik, bukan sekadar nasihat individual.

 

Dalam sejarah Islam, Rasulullah SAW menjadi teladan yang nyata. Pada fase Mekah, Rasulullah memulai dakwah dengan pembinaan intensif terhadap individu-individu terpilih, menanamkan aqidah dan pemikiran Islam ideologis. Tahapan pembinaan (tatsqif) ini menjadi fondasi lahirnya generasi sahabat yang kokoh. Setelah itu, dakwah dilanjutkan melalui interaksi dengan umat dan berujung padabistilamul hukmi, yakni penyerahan kekuasaan untuk menerapkan Islam sebagai sistem kehidupan.

Meneladani metode Rasulullah SAW, jamaah dakwah Islam ideologis harus fokus membina generasi muda dan kaum ibu agar memahami Islam secara kaffah dan siap untuk memperjuangkannya. Ibu dibina agar kembali menjalankan peran strategisnya sebagai pendidik generasi, sedangkan generasi muda dipersiapkan menjadi pelopor kebangkitan Islam. Sehingga lahir generasi yang tidak hanya saleh secara individual, melainkan juga berperan aktif dalam membangun peradapan Islam yang mulia.

Tanpa adanya perubahan paradigma dan perjuangan ideologis yang terorganisir, sekularisme akan terus mengakar dan merusak umat. Oleh karena itu, pembinaan Islam ideologis menjadi kebutuhan yang sangat mendesak untuk menyelamatkan pemuda dan kaum ibu serta masa depan peradapan Islam.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 7

Comment here