Oleh : Puspita Indah Ariani, S.Pd.
Wacana-edukasi.com, OPINI–Idul Fitri sejatinya adalah momentum kemenangan, pada hari itu umat Islam di seluruh dunia merayakan keberhasilan menunaikan ibadah ramadhan dengan penuh suka cita. Akan tetapi, saudara-saudara kita di Gaza tidak merasakan suasana tersebut. Di tengah reruntuhan bangunan, debu kehancuran, serta derita yang tak kunjung usai, warga Gaza tetap berusaha merayakan Idul Fitri dengan segala keterbatasan. Takbir berkumandang bukan di tengah masjid megah, melainkan di antara puing-puing dan tenda darurat yang menjadi tempat tinggal sementara mereka.
Seluruh jalur Gaza pada Jum’at, 20 Maret 2026 dipadati oleh puluhan ribu warga Palestina yang melaksanakan sholat Idul Fitri, mereka berkumpul di dekat reruntuhan masjid yang hancur dan di area terbuka di dekat kamp-kamp pengungsian. Di antara puing-puing masjid-masjid yang hancur, mereka melantunkan takbir dalam kondisi yang memprihatinkan dan duka nestapa (minanews.net, 20/3/2026).
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa warga Gaza merayakan Idul Fitri dalam kondisi yang sangat memprihatinkan dan banyak dari mereka yang kehilangan keluarga, rumah, bahkan harapan akan kehidupan yang layak. Duka nestapa seolah tanpa ada ujungnya, perhatian dunia terhadap penderitaan mereka dinilai belum optimal. Anak-anak yang seharusnya mengenakan pakaian baru dan tertawa riang, mereka justru harus bergelut dengan trauma, ketakutan dan kelaparan.
Kondisi ini semakin menyakitkan ketika perhatian dunia, khususnya negara-negara besar mulai bergeser dan derita warga Gaza makin terlupakan. Fokus Amerika Serikat dan Israel terhadap dinamika geopolitik yang lebih luas di Timur Tengah turut mempengaruhi prioritas penanganan krisis, sehingga situasi di Gaza sering kali tidak mendapatkan perhatian yang seimbang. Gaza seakan hanya menjadi catatan kaki dalam percaturan politik global, bukan sebagai krisis kemanusiaan yang mendesak untuk segera diselesaikan.
Ironisnya lagi, sebagian negara-negara Arab, khususnya di Kawasan Teluk justru menjalin hubungan strategis dengan negara-negara Barat, bahkan dalam beberapa hal sejalan dengan kepentingan Israel. Alih-alih menjadi pelindung bagi umat Islam yang tertindas, mereka malah terjebak dalam pusaran kepentingan politik dan ekonomi global. Solidaritas terhadap Palestina tampak melemah, tergantikan oleh pragmatisme politik yang mengabaikan penderitaan saudara seiman.
Dalam Islam, umat ini diibaratkan sebagai satu tubuh, Rasulullah bersabda : “Perumpamaan kaum mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa penderitaan Gaza seharusnya dirasakan oleh seluruh kaum muslimin, bukan hanya sebagai berita semata, namun sebagai luka yang menggerakkan tindakan nyata.
Al-Qur’an juga memberikan pedoman yang jelas terkait bagaimana seharusnya sikap kaum mukmin. Dalam Surah Al-Fath ayat 29, Allah berfirman : “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan sikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.”
Ayat tersebut menunjukkan bahwa Ukhuwah Islamiyah bukan sekedar konsep, melainkan kewajiban yang harus diwujudkan dalam sikap dan tindakan nyata, termasuk dalam membela saudara yang tertindas. Ukhuwah Islamiyah seharusnya menjadi pengikat kuat yang menyatukan umat Islam di seluruh dunia, ikatan ini melampaui batas geografis, suku, dan bahasa. Ketika Gaza terluka, maka seluruh umat Islam seharusnya bergerak untuk menghilangkan penderitaan tersebut, kenyataan saat ini menunjukkan bahwa ukhuwah tersebut belum terwujud secara optimal dalam tataran politik dan kekuasaan.
Allah SWT memerintahkan kaum mukmin untuk berjihad. Dalam Surah At-Taubah ayat 123 disebutkan : “ Wahai orang-orang yang beriman! Perangilah orang-orang kafir yang di sekitarmu, dan hendaklah mereka merasakan kekerasan darimu, dan ketehuilah bahwa Allah bersama orang-orang yang bertakwa.” Ayat ini tidak hanya menyampaikan tentang peperangan fisik, tetapi juga menunjukkan kewajiban untuk melindungi umat Islam dari penindasan dan kezaliman.
Dalam perspektif pemikiran Islam yang lebih luas, seperti yang dikemukakan Syekh Taqiyuddin An-Nabhani bahwa jihad merupakan bagian integral dari sistem kehidupan Islam yang bertujuan untuk menjaga kehormatan umat dan menyebarkan keadilan. Dalam kitab-kitabnya, beliau menekankan bahwa jihad tidak dapat dilaksanakan secara sempurna tanpa adanya institusi negara yang kuat yang menerapkan syariat Islam secara kaffah.
Penerapan syariat Islam secara kaffah dalam intitusi negara diyakini mampu menyatukan potensi umat Islam yang besar menjadi kekuatan yang mampu melindungi setiap jengkal tanah kaum muslimin, termasuk Palestina. Kepemimpinan yang berlandaskan akidah Islam, kebijakan yang diambil tidak akan tunduk pada tekanan kekuatan global, melainkan semata-mata untuk kemaslahatan umat.
Idul Fitri di Gaza hari ini bukan sekedar perayaan, melainkan sebagai simbol keteguhan iman di tengah penderitaan. Pengingat bagi seluruh umat Islam bahwa masih ada luka yang belum sembuh, masih ada saudara yang membutuhkan pertolongan. Takbir yang berkumandang di antara reruntuhan seharusnya menggugah hati nurani kita semua.
Saatnya umat Islam merefleksikan kembali makna ukhuwah dan tanggung jawab kolektif terhadap sesama. Tidak cukup hanya dengan do’a dan simpati, melainkan harus diwujudkan dalam langkah nyata yang mampu mengakhiri penderitaan ini. Sebab, selama Gaza masih terluka, kemenangan Idul Fitri terasa belum sempurna bagi umat Islam di seluruh dunia.
Views: 1


Comment here