Opini

Sebab Kapitalisme, Banyak Guru Digaji Tak Layak

Bagikan di media sosialmu

Oleh: Sindi Laras Wari, S.K.M. (Aktivis Muslimah)

Wacana-edukasi.com, OPINI–Guruku pelitaku merupakan ungkapan yang banyak digunakan pelajar sebagai penghormatan kepada guru yang telah mendidik di bangku sekolah. Tidak sedikit anak didik mampu menggapai cita-citanya sebab asuhan mereka. Namun seorang guru yang telah berdedikasi mendidik dengan sepenuh hati banyak juga yang nasibnya tidak lebih baik dari anak didiknya. Sebab gaji yang mereka dapatkan tidak sebanding dengan apa yang telah mereka berikan. Peliknya hidup menjadi seorang guru di negeri ini.

P3K paruh waktu adalah ASN (Aparatur Sipil Negara) yang diangkat melalui perjanjian kerja dengan jam kerja terbatas. Salah satu formasi yang bisa diisi adalah guru atau tenaga pendidik, dengan masa kontrak satu tahun dan dapat diperpanjang. Yang sangat disayangkan adalah, gaji P3K paruh waktu sama seperti gaji terakhir waktu saat masih honorer. Bahkan dengan perhitungan yang telah ditetapkan, terdapat kemungkinan seorang guru P3K mendapatkan gaji di bawah satu juta rupiah.

Beginilah potret buram hidup dalam sistem kapitalis hari ini. Guru sebagai tenaga pendidik yang menjadi salah satu dasar terwujudnya Indonesia Emas banyak yang tidak mendapatkan kesejahteraan secara ekonomi. Masih banyak guru yang tidak mendapatkan gaji secara layak dibandingkan dengan perjuangan mereka mendidik anak bangsa.

Sejatinya kesejahteraan guru sangat berhubungan erat dengan kualitas pendidikan yang akan diberikan. Namun faktanya saat ini, guru banyak dituntut untuk mengajar dengan bersungguh-sungguh ditambah lagi mengikuti program yang telah ditetapkan. Alhasil kepenatan pada guru semakin meningkat, sebab tugasnya melebihi upah yang diterima.

Tidak heran kualitas pendidikan negeri kita saat ini jauh dari pencetak generasi yang mulia. Sebab negara dalam sistem kapitalis tidak memiliki anggaran yang cukup untuk menggaji guru dengan gaji yang layak. Sehingga banyak guru yang tidak loyal dengan pekerjaannya dikarenakan beban ekonomi yang mereka tanggung. Tidak cukup mengharapkan gaji guru untuk memenuhi kebutuhan hidup, mereka harus berpikir bagaimana caranya mendapatkan gaji lebih demi memenuhi kebutuhan hidup saat ini.

Tidak layaknya gaji pada guru ini disebabkan anggaran yang tidak mencukupi. Sistem kapitalis saat ini sangat bergantung kepada pajak yang merupakan pemasukan paling utama dan paling besar. Dengan adanya beban pajak yang diberikan oleh negara kepada rakyat membuat banyak rakyat yang ikut terbebani. Ditambah dengan keadaan ekonomi saat ini yang sedang sulit, untuk memenuhi kebutuhan hidup saja sudah berat. Apalagi ditambah dengan beban pajak yang harus dibayar oleh rakyat kepada negara.

Padahal negara Indonesia terkenal dengan kekayaan dan keindahan alamnya yang sangat luar biasa melimpah ruah. Seharusnya kita bisa mendapatkan pemasukan yang sangat banyak dari sumber daya alam yang ada, tapi kini kita tak bisa menikmatinya. Sebab kekayaan alam yang ada dikuasai oleh asing, aseng ataupun pihak swasta lainnya.

Hasil kekayaan alam yang ada di Indonesia hanya masuk ke dalam kantong mereka, Indonesia hanya mendapatkan pajak yang merupakan bagian kecil dari pendapatan mereka setelah mengeruk kekayaan alam Indonesia. Jadi, sebagian besar pendapatan Indonesia dari pajak, mayoritasnya dihasilkan oleh pajak yang dibebankan kepada rakyat. Bayangkan saja, rakyat tidak merasakan kenikmatan dan kesejahteraan atas kekayaan negaranya, namun rakyat selalu dibebankan pajak yang harus dibayar.

Sistem Islam

Berbanding terbalik dengan sistem pemerintahan dalam Islam, yang sistem keuangan dikelola oleh Baitul Mal. Baitul Mal memiliki sumber pemasukan, yang salah satunya berasal dari sumber daya alam. Sumber daya alam akan dikelola oleh negara dan dikembalikan lagi kepada rakyat.

Dari seluruh sumber pemasukan yang ada di Baitul Mal, maka sangat menjamin kesejahteraan hidup dalam sistem Islam. Bahkan para guru yang saat ini seperti tidak bernilai bagi negara, dalam Islam guru akan dihargai. Sebab dengan adanya guru, maka Islam mencetak generasi yang mampu mewujudkan peradaban yang Mulia.

Di saat benua lain sedang dalam fase kegelapan yang menyelimuti daerahnya, dalam artian tidak adanya perkembangan ilmu pengetahuan. Namun di negara Khilafah Islamiyyah telah menjadi daerah yang terang benderang dengan seluruh pengembangan Ilmu pengetahuannya. Bahkan Islam mampu menjadi mercusuar ilmu pengetahuan di dunia.

Semua ini mampu terwujud karena Islam mendukung seluruh bidang kehidupan. Guru disejahterakan, sehingga loyal dalam bertugas dan tidak perlu berpikir ulang persediaan makanan untuk keluarga di rumah. Kemudian anak didiknya juga mendapatkan gizi yang mampu mendukung tumbuh kembang mereka, karena negara juga menjamah kebutuhan pokok setiap individu. Serta fasilitas pendidikan yang sangat menunjang majunya ilmu pengetahuan, seperti fasilitas buku di perpustakaan yang sangat banyak jumlahnya dan diperbolehkan meminjam buku tanpa jaminan.

Sungguh luar biasa hidup di bawah kepemimpinan Negara Khilafah, yang mampu memberikan jaminan kesejahteraan dan hidup yang layak bagi seluruh rakyat yang hidup di bawah naungannya. Sabda Rasulullah SAW: Kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun an ra’iyyatihi, yang artinya: “Setiap orang adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.”

Imam Suyuti menyampaikan bahwa lafaz raa’in adalah setiap orang yang mengurusi kepemimpinannya. Dengan demikian pemimpin dalam negara Islam akan menjadi pemimpin yang diridhai Allah, yang takut melaksanakan penyelewengan sebab akan dimintai tanggung jawabnya di hadapan Allah.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 11

Comment here