Oleh: Irohima
Wacana-edukasi.com, OPINI--Selain Ibu, sosok Ayah merupakan figur yang sangat penting dalam keluarga. Selain memiliki peran sebagai pencari nafkah, sosok Ayah juga ikut terlibat dalam pengasuhan anak dan bekerja sama dengan Ibu dalam mendidik anak. Tanpa sosok salah satu dari mereka, seorang anak rentan terhadap berbagai tantangan emosional, psikologis, dan sosial. Kehilangan salah satu dari mereka sama halnya kita kehilangan separuh dunia. Seperti yang ramai terjadi saat ini, di mana seseorang terutama anak-anak banyak yang terpaksa tumbuh tanpa kehadiran ataupun peran dari sosok Ayah atau yang lebih dikenal dengan istilah Fatherless.
Ramai di media sosial, sebuah akun yang memberi dukungan untuk seorang fatherless, akun @ruthhelga dan Komunitas Satu Meja Makan menjadi ruang aman berbagi cerita serta saling menguatkan. Konten yang diunggah @ruthhelga pada 17 Juli 2025, dibanjiri komentar warganet yang mengalami fatherless, ada yang tak merasakan peran Ayah meski tinggal seatap, ada juga yang berhasil hidup layak meski ditelantarkan, namun merasa hampa dan merasa tidak punya tempat untuk pulang dan bersandar. Hal ini mengusik nurani Papa Ruth yang merasa prihatin dengan fenomena fatherless, hingga ia mengijinkan Ruth untuk meminjamkan dirinya kepada warganet untuk berbagi cinta lewat konten-konten bersama Ruth dan mempersilahkan warganet untuk berkeluh kesah (www.kompas.id, 10/10/2025).
Sebagian kasus fatherless di Indonesia bukan hanya disebabkan ketiadaan ayah secara biologis, namun juga karena ketiadaan Ayah secara psikis. Dari berbagai survei menunjukkan bahwa waktu interaksi Ayah dan anak sangat terbatas karena Ayah bekerja lebih dari 60 jam/pekan. Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2024, juga menemukan terdapat 15,9 juta anak atau setara dengan 20,01% dari total 79,4 juta anak yang berusia 18 tahun yang berpotensi mengalami fatherless karena tidak tinggal bersama Ayah sebanyak 4,4 juta anak, dan karena Ayah yang sibuk bekerja sebanyak 11,5 juta.
Hal ini menunjukkan bahwa krisis peran Ayah bukan semata karena persoalan keluarga, tapi juga cerminan budaya patriarki dan sistem saat ini. Budaya patriarki kerap menempatkan seluruh tanggung jawab domestik di pundak seorang Ibu, sementara sang Ayah merasa cukup dengan hanya memenuhi kebutuhan ekonomi dan abai akan perannya untuk membangun hubungan emosional dengan anak, sekaligus menjadi teladan moral. Sistem sekuler kapitalisme makin memperparah kondisi ini, tuntutan pekerjaan dan kesibukan mencari nafkah di tengah kondisi perekonomian yang sangat sulit, membuat interaksi antara ayah dan anak semakin sedikit, bahkan tak jarang hilang dan semakin langka ditelan gempuran teknologi digital yang disikapi secara brutal. Kehilangan figur seorang Ayah, membuat anak rentan memiliki tingkat stres lebih tinggi, risiko kenakalan remaja, dan kesulitan dalam membangun kepercayaan diri serta identitas yang sehat.
Sejatinya generasi fatherless lahir dari sistem kapitalisme sekuler, fatherless dilatar belakangi oleh kesibukan ayah yang mencari nafkah dan ketiadaan peran ayah sebagai pendidik serta hilangnya fungsi ayah sebagai qawwam bagi keluarga. Kehadiran dunia digital dengan segala bentuknya, membuat anak-anak lebih akrab dengan gadget dari pada ayahnya. Mereka mendapat pengasuhan digital dari Youtube, Tiktok, Instagram, dan medsos lainnya yang tidak selalu memiliki nilai pendidikan.
Betapa kerusakan saat ini semakin menjadi-jadi dan sistem Kapitalisme sekuler terbukti salah dan gagal dalam mencetak generasi. Sudah seharusnya kita beralih pada sistem yang benar-benar memiliki solusi yang hakiki, yaitu sistem Islam yang terbukti mumpuni dalam melahirkan generasi.
Dalam Islam, keluarga adalah titik awal pembentukan generasi. Maka dari itu, bangunan keluarga yang kuat akan diupayakan secara maksimal agar mampu menghasilkan generasi tangguh. Dan dari sini akan tercipta ketahanan keluarga yang akan memberikan dampak yang besar dan positif pada kehidupan generasi, sosial kemasyarakatan, bahkan berbangsa dan bernegara. Bisa dibayangkan bagaimana suramnya kehidupan jika ketahanan keluarga rapuh.
Ketahanan keluarga bisa terwujud tatkala seorang ayah mampu memenuhi kebutuhan anggotanya, baik kebutuhan naluri, fisik dan akal. Memang benar adanya bahwa letak kunci ketahanan ada di tangan ibu, namun jangan lupa di tangan ayah, juga terletak pintu gerbang meraih ketahanan keluarga. Dalam hal ini, sistem Islam akan senantiasa membangun ketahanan keluarga dengan strategi utama menempatkan peran ayah serta menjaga peran ayah sebagai pemimpin keluarga.
Islam akan membangkitkan fungsi kaum laki-laki sebagai para ayah dan calon ayah. Islam akan memfasilitasi dan menyiapkan setiap individu laki-laki agar siap menjalankan peran dan tanggung jawab sebagai ayah yang sukses sebagai pemimpin keluarga yang melindungi, menafkahi dan mendidik keluarga.
Negara dalam Islam akan berperan aktif dalam mendorong aktivitas ekonomi masyarakat dengan menerapkan sistem ekonomi Islam yang mewajibkan negara untuk melayani dan memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya. Negara akan mengembangkan ekonomi dengan cara meningkatkan kapasitas produksi, angka partisipasi kerja, serta meningkatkan jumlah lapangan kerja. Dengan demikian rakyat tidak akan kesulitan dalam mencari lahan penghidupan dan dari sini ekonomi keluarga yang kokoh akan terbentuk, hingga setiap kepala keluarga akan mampu memenuhi kebutuhan primer, sekunder bahkan tersier anggota keluarga.
Negara akan mengkondisikan sang ayah sebagai pencari nafkah sekaligus sebagai pelindung dan pendidik keluarga secara seimbang, negara juga akan menguatkan peran ibu sebagai sahabat dan mitra ayah dalam mengatur keluarga dan mendidik generasi, hingga fatherless ataupun motherless tak akan terjadi.
Views: 13


Comment here