Surat Pembaca

Refleksi Gagalnya Pendidikan Sekuler

Bagikan di media sosialmu

Wacana-edukasi.com, SURAT PEMBACA–Dunia pendidikan di Indonesia kembali berguncang. Problem beragam, ada yang hina guru, hingga memukuli guru yang dilakukan oleh siswa. Bahkan ada pula yang dilakukan orang tua murid, mengancam guru hingga dilaporkan ke ranah hukum sebab perkara sanksi disiplin pada anaknya, ada guru yang mengalami tekanan psikologis hingga tidak mau menegur murid, memilih diam agar terhindar dari konflik.

Beragam peristiwa di atas tidak lagi dapat dianggap sebagai problem sporadis. Ia terbentuk karena skema yang berulang, tersebar, dan menampakkan tanda dan gejala yang sama, yakni kaburnya penghormatan kepada guru sebagai pelakon pendidik. Padahal, dalam susunan sosial yang lebih lama, guru wajib di hormati. Sebab ia bukan hanya penyampai materi pelajaran, melainkan pengarah kepribadian, penggerak tujuan hidup, bahkan sering dianggap sebagai orang tua pengganti untuk anak ketika di sekolah.

Pemindahan dari penghormatan menuju penghinaan ini menunjukkan bahwa adanya problem yang genting dalam asas pendidikan kita. Ini bukan lagi soal siapa yang salah dalam satu kejadian, akan tetapi cara apa yang gagal sehingga hubungan fondasi antara guru dan murid bisa sebegitu rusak?

Kalau kita lihat lebih dalam, peristiwa ini tidak bisa dilepaskan dari cara berfikir alam pendidikan yang hari ini lebih meonjol, yaitu pendidikan dalam sistem sekuler kapitalistik. Dalam sistem ini, pendidikan lebih ditujukan supaya dapat memenuhi segala bentuk kebutuhan, agar dapat menciptakan tenaga kerja yang kompeten juga produktif secara ekonomi.

Sistem sekuler mengokohkan kecondongan ini dengan cara memisahkan agama dari ruang umum, termasuk pendidikan. Nilai moral tidak lagi lahir dari keyakinan yang mutlak, melainkan dari kesepakatan sosial yang tidak konsisten. Pada akhirnya, benar dan salah menjadi nisbi. Menghormati guru tidak lagi dianggap sebagai bagian dari adab, melainkan sekadar aturan sosial yang bisa tawar menawar.

Dalam pandangan Islam, pendidikan tidak pernah dipahami sebatas proses transfer ilmu. Ia adalah proses menjadikan kepribadian manusia seutuhnya, mengintegrasikan iman, ilmu, dan amal dalam satu kesatuan. Tujuannya, untuk melahirkan manusia yang bertakwa menjadikan Allah sebagai pusat tujuan hidupnya. Dari tujuan inilah terciptanya kesadaran moral yang kuat, termasuk dalam hal memuliakan guru.

Dalam budaya Islam, guru mempunyai kedudukan yang amat tinggi. Ia bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga pembina, dan penelur kepribadian Islam. Menghormati dan memuliakan guru bukan hanya sebatas etika sosial, melainkan bagian dari adab yang mempunyai ukuran keagamaan.

Sejarah Pendidikan Islam mengenang banyak teladan dalam hal ini. Dikisahkan bahwa seorang murid rela menanti lama di depan rumah gurunya sebatas untuk meminta izin belajar, tidak berani mengetuk pintu karena khawatir mengganggu. Imam Malik, seorang ulama besar, pernah berkata bahwa ia mempelajari adab selama bertahun-tahun sebelum mendalami ilmu.

Solusi Islam terhadap peristiwa penghinaan dan kekerasaan terhadap guru tidak dapat hanya sekedar pendekatan setengah-setengah, seperti pengetatan aturan atau peningkatan sanksi. Perlu adanya perubahan yang mendasar dalam paradigma pendidikan.

Pertama, pendidikan wajib dikembalikan kepada tujuan utamanya, yakni pembentukan kepribadian Islam yang berlandaskan akidah. Kedua, peran guru wajib dipulihkan sebagai pendidik juga pencetak kepribadian Islam. Ketiga, keluarga wajib kembali mengambil peran besar dalam pendidikan karakter. Keempat, budaya masyarakat wajib bertujuan untuk memuliakan ilmu dan orang-orang yang memikulnya. Jadi, penghinaan dan kekerasan terhadap guru adalah gejala, bukan sumber masalah. Ia adalah puncak dari gunung es yang terbentuk oleh sistem yang tidak bertujuan. Wallahu’alam!

Eva Ariska Mansur
Aceh Barat Daya, Aceh

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 2

Comment here