Oleh: Linggar Esty Hardini, S.Geo. (Aktivis Muslimah)
Wacana-edukasi.com, OPINI--Kondisi geopolitik global nyatanya sangat berpengaruh terhadap biaya hidup yang semakin meningkat. Bergejolaknya kondisi geopolitik membuat biaya logistik dan BBM naik serta rupiah yang semakin melemah sehingga secara otomatis menaikan biaya hidup. Kenaikan biaya hidup ini sudah dirasakan pada sektor minyak BBM. PT Pertamina (Persero) resmi menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidinya di SPBU per 4 Mei 2026 yaitu BBM jenis RON 98 atau Turbo dan juga produk BBM diesel non subsidi (cnbcindonesia.com 4/5/2026).
Meskipun harga BBM subsidi tetap tidak ada kenaikan harga, tetapi untuk ketersediaannya sudah dibatasi dan hanya tersedia di SPBU tertentu. Tentu saja distribusi barang bahan pokok yang memerlukan BBM akan ikut naik megikuti kebutuhan dari transportasinya. Nilai rupiah juga semakin melemah hingga saat ini. Pada penutupan perdagangan selasa 05 Mei 2026 nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turun 30 poin atau 0,17% menjadi Rp 17.424 per dolar AS dari penutupan sebelumnya Rp 17.394 (liputan6.com 5/5/2026). Disisi lain, masyarakat masih harus berjibaku dengan penghasilan yang kecil serta sempitnya lapangan pekerjaan dengan upah yang sesuai. Hal ini membuat daya beli masyarakat sangat menurun.
Kebutuhan Primer Sulit Digapai
Saat ini beban baiya kehidupan semakin mecekik masyarakat. Masyarakat dipaksa untuk bertahan ditengah melonjaknya harga kebutuhan pokok. Daya beli hunian yang layak juga diprediksi tertekan akibat kenaikan harga rumah yang melampaui kenaikan pendapatan pada tahun 2026 ini. Jangankan untuk membeli hunian layak, untuk kebutuhan makan saja masih perlu kerja ekstra. Belum lagi biaya pendidikan yang semakin mahal membuat banyak masyarakat yang akhinya putus sekolah.
Bahkan pendidikan bukan lagi dijadikan kebutuhan prioritas di sistem kapitalisme ini. Hal ini juga di perparah dengan banyaknya realitas kehidupan sandwich generation yang menangung kebutuhan generasi sebelumnya meski belum menikah dan bahkan setelah menikah.
Penerapan UMR (upah minimum rata-rata) pada dasarnya hanya untuk memenuhi kebutuhan 1 orang pekerja bukan untuk menghidupi keluarga. Sedangkan seorang laki-laki bekerja tidak hanya untuk 1 orang tetapi juga pemenuhan kebutuhan keluarganya. Dari sini saja tentu tidak mudah untuk bertahan. Sedangkan pada faktanya masih banyak pekerja yang mendapatkan upah dibawah UMR. Maka terjadi kesenjangan yang cukup tinggi antara penghasilan dan kebutuhan hdup.
Tidak Berpihak ke Rakyat
Kapitalisme merupakan sistem dengan daya rusak yang tinggi, maka tidak heran jika pemenuhan hak dasar masyarakat tidak terpenuhi. Negara tidak hadir untuk masyarakat, negara hanya ada untuk para pemodal. Kekuasaan yang seharusnya mengurus masyarakat justru digunakan untuk membantu para pemodal. Sumber daya alam yang seharusnya dikelola oleh negara justru hanya dimiliki oleh sebagan kecil golongan yang memiliki modal besar sehingga tidak ada keadilan dalam distribusi kekayaan.
Maka dalam sistem kapitalisme terjadi kesenjangan sosial yang tinggi dimana yang kaya semakin kaya sedangkan yang miskin semakin miskin. Para kapitalis menikmati sebagian besar kekayaan negara sedangkan masyarakat harus memperebutkan sisanya untuk hanya bisa bertahan hidup. Masyarakat dibiarkan menanggung beban sendirian.
Negara juga abai terhadap ketersedian lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Ditambah banyaknya pekerja asing yang menempati posisi penting hingga buruh membuat peluang pekerjaan semakin sempit. Hal tersebut dikarenakan anggapan bahwasanya pekerja asing lebih berkompeten dari pada pekerja dari dalam negeri. Namun alasan tersebut juga tidak dibarengi dengan solusi prioritas pendidikan untuk mencetak sumber daya manusia yang layak. Akhinya banyak masyarakat yang sulit untuk mencari pekerjaan. Sempitnya lapangan pekerjaan ini, banyak dimanfaatkan pemilik usaha untuk memberikan upah tidak mengikuti standar UMR.
Sempitnya lapangan kerja mendorong masyarakat membangun usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Namun lagi-lagi daya beli yang turun menjadi tantangan tersendiri untuk para pelaku usaha dengan modal kecil. Selain itu juga banyak yang mencari pendapatan dari kerja freelance dan memanfaatkan media sosial untuk menambah penghasilan. Sayangnya negara pun tidak hadir dalam menjamin kesejahteraan pelaku usaha UMKM, freelance dan pelaku industri di sosial media. Mereka dibiarkan berjalan sendiri dan tidak ada jaminan kesejahteraan.
Islam Menyejahterakan Rakyat
Kepengurusan masyarakat dalam Islam sangat berbeda dengan sistem kapitalisme. Islam sangat mengedepankan pembangunan kualitas manusia bukan hanya dari segi akademik melainkan juga harus ada bimbingan wahyu di dalamnya. Dengan demikian sumber daya manusia yang tercetak berkualitas dengan keimanan yang kokoh. Keimanan kepada Allah SWT inilah yang akan mecegah manusia dari melakukan kezaliman. Bagitupun penguasa dalam islam, posisi pemimpin akan dijabat oleh orang-orang yang kompeten dibidangnya dalam kepengurusan masyarakat sehingga kebijakan yang diambil sesuai dengan syariat islam.
Kepemimpinan Islam menegaskan bahwa penyediaan lapangan pekerjaan itu adalah tugas dari negara. Lapangan pekerjaan ini akan diberikan kepada laki-laki dewasa yang telah memiliki tanggung jawab sebagai pencari nafkah untuk keluarganya. Pendidikan yang layak diberikan oleh negara untuk mencetak sumber daya manusia yang cerdas dan beriman. Dengan demikian setiap laki-laki dewasa akan berkerja sesuai dengan bidang dan keahliannya. Islam juga mengatur terkait dengan hubungan kerja antara pemberi kerja dan pekerjanya. Di antaranya yaitu hak dan kewajiban pekerja dan pemberi kerja sehingga tidak ada yang merasa terzalimi baik dalam hal upah, jam kerja, beban pekerjaan, sistem kerja dll. Dengan demikian hubungan kerja dilakukan atas dasar keridaan.
Adanya pemimpin berkualitas dan beriman dalam islam yang menunaikan kewajibanya mengurus mayarakat dan penerapan sistem ekonomi syariat akan menjamin kesejahteraan masyarakat islam. Tidak ada kepentingan kecuali menjalankan syariat Islam. Kekayaan akan terdistribusi secara adil untuk pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat. Sehingga masyarakat yang sudah tidak hawatir akan kebutuhan hidupnya, dapat fokus dan tenang untuk beribadah kepada Allah SWT. Maka sangatlah penting bagi umat islam untuk kembali pada sistem kepemimpinan islam kaffah.
Views: 1

Comment here