Opini

Hardiknas, Masihkah Pendidikan Melahirkan Generasi Tangguh?

Bagikan di media sosialmu

Oleh: Ida Rosida

Wacana-edukasi.com, OPINI–Setiap tanggal 2 Mei, Hari Pendidikan Nasional kembali diperingati dengan penuh seremoni. Spanduk terbentang, pidato disampaikan, dan harapan tentang masa depan generasi bangsa kembali digaungkan. Namun di balik itu semua, terselip kegelisahan yang tak mudah diabaikan. Dunia pendidikan yang diharapkan menjadi tempat lahirnya generasi unggul, perlahan menunjukkan wajah yang berbeda. Ruang belajar yang seharusnya aman mulai ternodai, kejujuran tidak lagi menjadi pijakan, dan nilai-nilai moral kian terasa rapuh, seakan ada yang perlahan hilang, tanpa benar-benar kita sadari.

Di ruang-ruang kelas dan kampus, cerita yang muncul tak selalu tentang prestasi. Sepanjang 2024 hingga awal 2025, kasus kekerasan dan pelecehan seksual di lingkungan pendidikan masih terus terjadi, yang lebih memilukan, sebagian pelaku justru berasal dari orang yang seharusnya menjadi teladan, seperti oknum guru, dosen, bahkan figur yang dianggap alim. Kepercayaan berubah menjadi luka, menyisakan trauma yang tak mudah sembuh. Ada anak-anak yang kehilangan rasa aman, kehilangan keberanian untuk bersuara, bahkan kehilangan kepercayaan pada dunia yang seharusnya menjaga mereka (Data KPAI, 22 Januari 2025).

Kejujuran yang dahulu menjadi ruh pendidikan kini semakin memudar. Kasus joki UTBK kembali terungkap dalam pelaksanaan seleksi 2024–2025. Praktik plagiarisme pun masih terjadi di lingkungan akademik. Perlahan, makna usaha terasa bergeser, dimana hasil menjadi segalanya, sementara proses dianggap sekadar formalitas. Dalam diam, kita sedang menyaksikan kejujuran yang kian terpinggirkan (Kemendikbudristek, 18 November 2024).

Ancaman lain datang dari penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar dan mahasiswa. Sepanjang 2024, data menunjukkan kelompok usia muda masih menjadi sasaran empuk peredaran narkotika. Bahkan, sebagian pelajar terlibat sebagai pengguna sekaligus pengedar. Mimpi-mimpi yang seharusnya tumbuh, justru perlahan runtuh sebelum sempat diwujudkan (BNN, 26 Juni 2024).

Di sisi lain, hubungan murid dan guru juga mengalami pergeseran. Sepanjang 2024 hingga awal 2025, konflik antara siswa dan guru semakin sering terjadi. Tidak sedikit guru yang dilaporkan karena tindakan disiplin. Guru yang seharusnya dihormati kini kerap berada dalam posisi serba salah, sementara sebagian pelajar semakin berani melampaui batas. Ada jarak yang semakin lebar, ada rasa hormat yang perlahan menghilang (Ombudsman RI, 14 Februari 2025).

Semua ini bukan sekadar rangkaian peristiwa, tetapi cerminan adanya krisis yang lebih dalam. Pendidikan hari ini tampak berjalan tanpa fondasi kepribadian yang kokoh. Banyak pelajar tumbuh dengan cara pandang yang memisahkan ilmu dari nilai, sehingga kecerdasan tidak selalu beriringan dengan kebijaksanaan. Pola pikir sekuler yang memisahkan kehidupan dari nilai spiritual, sikap liberal yang memaknai kebebasan tanpa batas, serta pragmatisme yang menilai segala sesuatu dari hasil instan, perlahan membentuk karakter generasi yang rapuh dari dalam.

Sistem pendidikan yang bernapaskan kapitalistik turut memperkuat arah ini. Kesuksesan diukur dari capaian materi dan prestasi yang terlihat, sementara proses panjang yang membentuk karakter sering terabaikan. Dari sinilah lahir kecenderungan untuk mencari jalan pintas yaitu menghalalkan berbagai cara demi hasil yang cepat. Ketika sistem memberi ruang pada hasil tanpa memperhatikan proses, maka kecurangan bukan lagi penyimpangan, melainkan dianggap sebagai strategi.

Di sisi lain, hukum yang cenderung ringan terhadap pelajar dengan alasan usia dan pembinaan, sering kali tidak memberikan efek jera yang cukup. Batas antara kenakalan dan kejahatan menjadi kabur. Akibatnya, sebagian pelanggaran yang seharusnya menjadi peringatan justru berulang tanpa penyelesaian yang tuntas. Minimnya penanaman nilai-nilai agama secara mendalam juga menjadi celah besar. Pendidikan agama sering kali hanya menyentuh aspek kognitif, bukan pembentukan kesadaran dan kepribadian. Akibatnya, ilmu tidak menjelma menjadi pengendali diri. Kebebasan yang tidak dibarengi dengan tanggung jawab membuka ruang bagi penyimpangan yang semakin luas.

Lalu, ke mana arah perbaikan harus dimulai?

Perbaikan tidak cukup dilakukan pada permukaan, tetapi harus menyentuh akar. Sistem pendidikan perlu dikembalikan pada tujuan utamanya yaitu membentuk manusia, bukan sekadar menghasilkan lulusan. Negara memiliki peran penting untuk menjamin terselenggaranya pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan moral.

Dalam perspektif Islam, pendidikan dibangun di atas asas akidah. Artinya, seluruh proses pendidikan diarahkan untuk membentuk manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bertakwa. Ketika akidah menjadi landasan, maka ilmu tidak akan disalahgunakan karena setiap individu memiliki kesadaran bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan.

Pendidikan Islam menekankan pembentukan syakhsiyah Islamiyah, yaitu keselarasan antara pola pikir dan pola sikap. Apa yang dipahami akan tercermin dalam perilaku. Pelajar tidak hanya diajarkan apa yang benar, tetapi juga dibentuk untuk mencintai kebenaran dan menjauhi keburukan. Dari sinilah lahir generasi yang kuat, bukan hanya dalam pengetahuan, tetapi juga dalam prinsip.

Selain itu, penerapan sistem sanksi yang tegas menjadi bagian penting dalam menjaga tatanan masyarakat. Ketegasan hukum bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk memberikan kejelasan batas antara yang benar dan salah. Dengan adanya aturan yang tegas, setiap individu akan lebih berhati-hati dalam bertindak.

Namun, pendidikan tidak berdiri sendiri. Ia membutuhkan sinergi antara keluarga, lingkungan, dan negara. Keluarga menjadi tempat pertama penanaman nilai, lingkungan memperkuat, dan negara menjaga agar sistem berjalan sesuai arah yang benar. Ketika ketiganya berjalan seiring, maka akan tercipta suasana yang mendukung lahirnya generasi yang tangguh.

Pada akhirnya, kegelisahan ini tidak bisa lagi diabaikan. Ia telah menjadi kenyataan yang kita saksikan bersama. Kita seakan sedang berdiri di persimpangan, melihat arah pendidikan yang perlahan menjauh dari harapan. Mampukah pendidikan melahirkan generasi tangguh di tengah kondisi seperti ini?

Jawabannya ada pada keberanian untuk berubah. Bukan perubahan yang bersifat tambal sulam, tetapi perubahan yang menyentuh akar. Mengembalikan pendidikan pada nilai, menegakkan sistem yang adil, dan membentuk manusia yang utuh, akalnya cerdas, hatinya hidup, dan akhlaknya terjaga. Sebab, generasi tangguh tidak lahir dari kemudahan, melainkan dari proses yang jujur, lingkungan yang terarah, dan nilai yang kokoh. Apabila itu mampu diwujudkan, maka harapan tidak akan pernah benar-benar hilang dan pendidikan akan kembali menjadi jalan lahirnya generasi yang menjaga masa depan bangsa dengan penuh tanggung jawab.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 5

Comment here