Oleh: Pranita (Aktivis Muslimah)
Wacana-edukasi.com, OPINI--Indonesia darurat keamanan, seharusnya keamanan menjadi kebutuhan mendasar, kini justru sering terabaikan. Inilah yang paling sering dirasakan oleh anak-anak dan perempuan di negeri ini. Mereka yang seharusnya paling dilindungi, justru paling sering menjadi korban, baik korban kekerasan fisik yang menyakitkan, maupun korban kekerasan seksual yang menghancurkan masa depan.
Fakta tersebut tergambar di Kabupaten Asahan. Wakil Bupati Asahan, Rianto, S.H., M.A.P., membuka Talk Show Edukatif Jilid II di Aula Kantor Camat Sei Dadap, Selasa (13/10/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Dinas P2KBP3A, Anggota DPRD Asahan, Camat Sei Dadap beserta Forkopimcam, Ketua Umum beserta pengurus BAPAM dan tamu undangan lainnya (AmiraRiau.com, 16/10/2026).
Ketua Umum BAPAM Kabupaten Asahan, Bagus Fadillah Putra, S.H., menyampaikan bahwa pemuda dan mahasiswa memiliki peran strategis sebagai agent of change. BAPAM hadir dengan komitmen untuk mencegah dan memerangi kekerasan terhadap perempuan dan anak. BAPAM juga siap berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Asahan dalam mewujudkan lingkungan yang aman dan bebas dari kekerasan.
Camat Sei Dadap, Syamsul, berharap kegiatan tersebut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, Ia juga mendorong keterlibatan berbagai pihak dalam memberikan perlindungan perempuan dan anak. Wakil Bupati Asahan dalam talk show tersebut menyampaikan apresiasi dan rasa bangga terhadap inisiatif mahasiswa yang peduli melindungi perempuan dan anak.
Seruan dari Sei Dadap ini terlihat benar dan mulia, seakan memberikan jawaban atas masalah. Namun pertanyaan besarnya, mengapa setelah puluhan tahun program perlindungan ini, angka kekerasan justru tidak pernah benar-benar turun? Apakah kita hanya akan terus berkolaborasi untuk memadamkan api, tanpa pernah berpikir untuk mematikan sumber apinya?
Kekerasan ini tidak lahir dari ruang hampa, selalu ada pemicu yang akhirnya melahirkan masalah. Kekerasan terhadap perempuan dan anak bukan karena kurang talk show, tapi solusi yang ditawarkan tidak menyentuh akar permasalahan. Lantas, bagaimana permasalahan itu bisa terurai dan selesai, kalau hanya sekadar talk show yang sering kali berhenti di ruang diskusi tanpa aksi.
Sistem Kapitalis Sekuler yang Memelihara Maksiat
Inti dari semua masalah ini adalah sistem kapitalis sekuler yang membiarkan pintu-pintu maksiat terbuka lebar. Dalam sistem ini, maksiat dipelihara karena menguntungkan secara materi dan dijadikan industri. Misalnya pornografi, yang dianggap sebagai bisnis, miras dan narkoba dianggap sebagai sumber pajak, dan free sex dianggap sebagai HAM dan lifestyle.
Negara dalam sistem kapitalis tidak berani menutup total karena ada keuntungan materi di sana. Akibatnya, otak sebagian pemuda di Sei Dadap bahkan di negeri ini pun rusak oleh tontonan yang aksesnya semudah jalan tol. Tontonan rusak itu pada akhirnya mempengaruhi penikmatnya, dan mudah sekali memicu kejahatan terhadap perempuan dan anak.
Fakta yang sulit terbantahkan, hukum dalam kapitalis tumpul ke atas dan runcing ke bawah. Jika pelaku adalah orang berkuasa dan punya uang, kasus bisa hilang. Lebih miris, sistem kapitalis memiskinkan laki-laki dan mengeksploitasi perempuan. Sistem ekonomi kapitalis membuat para suami setres karena harga pangan naik dan pekerjaan yang gajinya tidak mencukupi kebutuhan hidup.
Akhirnya pelampiasan setres itu jatuh ke orang-orang yang paling dekat yaitu keluarga. Di sisi lain, perempuan dipaksa keluar rumah menjadi tulang punggung keluarga, perempuan dieksploitasi di pabrik dan tak jarang tubuhnya dijadikan alat iklan. Jadi wajar, talk show sebanyak apa pun tidak akan menyelesaikan masalah, yang ada hanya akan menambah masalah saja.
Selama pabrik penghasil pornografi, miras, narkoba masih beroperasi, bahkan kemiskinan dan hukum masih tebang pilih, maka kita hanya mengobati gejala, bukan penyakitnya. Semua masalah itu tidak akan sembuh, melainkan semakin kronis, bagaikan gunung es yang semakin lama semakin meleleh. Harusnya ini menjadi bahan instropeksi dan evaluasi bagi pemerintah.
Solusi Islam: Menutup Sumber, Bukan Sekadar Memadamkan Api
Jika kapitalisme hanya memadamkan api, maka Islam mematikan sumber apinya. Islam tidak akan membiarkan pabrik-pabrik penghasil pelaku itu beroperasi, Islam memiliki mekanisme yang menyeluruh untuk melindungi dan memberikan rasa aman kepada umat. Sehingga tidak akan ada lagi gunung es yang meleleh, atau hukum tambal sulam yang hanya jadi penenang.
Pertama, Islam menutup pintu maksiat secara total. Dalam Daulah Islam, pornografi, miras, narkoba, dan pergaulan bebas tidak dianggap bisnis atau HAM, semua itu adalah bentuk kemaksiatan yang wajib diberantas tuntas oleh negara. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra: 32)
Ayat ini menegaskan bahwa Islam tidak hanya melarang perbuatannya, tetapi menutup rapat semua jalan yang mendekati zina. Negara akan menutup rapat aksesnya, bukan memungut pajak sebagai pemasukan negara. Media akan difilter dengan tsaqafah Islam, sehingga otak manusia terjaga dari tontonan yang merusak. Inilah bentuk penjagaan negara yang hakiki terhadap generasi.
Kedua, dalam sistem Islam negara menerapkan sistem sanksi yang tegas dan menjaga. Hukum Islam tidak tumpul ke atas dan runcing ke bawah. Syariat diterapkan secara adil kepada siapa pun, tanpa tebang pilih baik pejabat maupun rakyat biasa. Sanksi tegas seperti hudud dan ta’zir akan menjadi zawajir (pencegah) agar orang takut berbuat kejahatan. Sanksi tersebut juga menjadi jawabir (penebus dosa) bagi pelaku kejahatan, tidak ada kasus hilang karena uang atau kekuasaan.
Ketiga, Islam membangun sistem ekonomi yang memuliakan perempuan, Islam tidak akan memiskinkan laki-laki dan mengeksploitasi perempuan. Islam mewajibkan negara menyediakan lapangan kerja yang luas bagi laki-laki sebagai penanggung jawab nafkah. Dengan begitu, laki-laki tidak mengalami stres karena kemiskinan, bahkan tidak bingung memikirkan gaji yang tidak cukup.
Harga pangan juga dijaga stabil melalui pengelolaan SDA oleh negara, bukan diserahkan kepada korporasi kapitalis, sehingga kesejahteraan keluarga pun terjamin. Dalam Islam, perempuan dimuliakan, peran utamanya sebagai ummun wa rabbatul bait (ibu dan pengatur rumah tangga) dijaga oleh negara. Perempuan tidak perlu dipaksa menjadi tulang punggung keluarga dan dieksploitasi.
Jika harus bekerja, Islam menjamin lingkungan kerja yang aman dan jauh dari eksploitasi. Dengan tiga pilar ini, menutup pintu maksiat, hukum yang adil dan tegas, serta ekonomi yang menyejahterakan, maka anak dan perempuan akan benar-benar terlindungi. Bukan hanya lewat seremonial talk show, tetapi dengan kehadiran negara yang menerapkan sistem Islam secara kaffah.
Views: 0


Comment here