Oleh: Dewi Puspita Sari, MT. (Pengamat Kebijakan Publik)
Wacana-edukasi.com, OPINI–Peringatan Maulid bergema dimana-mana, pembacaan shalawat, tabligh akbar, bahkan pawai, dan beragam seremoni berlangsung. Pertanyaannya, sudahkah momen indah ini memberi dampak perubahan terhadap umat Islam? Sudahkah peringatan ini menyadarkan umat Islam tentang kewajiban meneladani Rasulullah ﷺ?. Sangat disayangkan peringatan Maulid umumnya hanya membahas keteladanan akhlak, belum menyentuh arah perubahan kehidupan secara menyeluruh (kaffah).
Sebetulnya, kesadaran terhadap realitas kerusakan saat ini telah dirasakan oleh banyak kalangan, terlebih umat Islam.
Namun, tuntutan perubahan masih bersifat pragmatis dan parsial. Arah dan metodenya masih sangat jauh dari metode perjuangan Rasulullah ﷺ, sehingga mudah dimanipulasi dan berbalik arah. Hal ini terjadi karena selama ini umat Islam banyak meninggalkan ajaran agamanya. Ajaran Islam yang sempurna dan menyeluruh telah direduksi hingga yang tersisa hanyalah penerapan Islam dalam pribadi dan keluarga. Padahal Islam rahmat bagi seluruh alam
Jajaran kementrian agama mengajak umat bersalawat sebagai wujud cinta kepada Baginda Nabi saw. Namun hal itupun harus berlanjut kepada mewujudkan keteladan akhlak Nabi dalam kehidupan. Acara yang disebut salawat kebangsaan ini diharap dapat menumbuhkan kecintaan terhadap tanah air dan kepedulian terhadap sesama, terutama kepada korban bencana gempa dan bencana asap kalimantan (Sindonews, 23-08-2026 – 14:37 WIB)
Wajibnya Pemahaman yang Utuh dan Menyeluruh
Peringatan Maulid yang telah berlangsung lama telah tereduksi menjadi seremonial semata tanpa wujud nyata. Selayaknya, cinta kepada Rasulullah ﷺ melahirkan keterikatan pada risalah dan perjuangan yang beliau bawa. Umat kehilangan kesadaran, bahwa ketundukan kepada selain Allah masih berlangsung secara sistemik, melalui Demokrasi, kapitalisme, dan liberalisme yang menjadikan dunia serta hawa nafsu sebagai orientasi hidup. Para pemimpin dalam sistem sekuler saat ini menghilangkan aturan Al-Qur’an dan menggantinya dengan hukum buatan mereka bahkan buatan penjajah. Mereka menjadi tandingan-tandingan Allah karena menetapkan aturan yang bertentangan dengan syariat Allah.
Cinta kepada Nabi yang dilantunkan dalam bentuk salawat belum membekas dalam kehidupan saat ini. Karena umat hari ini masih dipimpin oleh sistem kehidupan yang merusak nilai-nilai Islam seperti penjualan miras dan legalnya prostitusi. Ini keniscayaan sistem kapitalis yang selalu berkompromi dengan keharaman. Keteladan akhlak yang Baginda Nabi saw. contohkan begitu sulit diterapkan dalam sistem saat ini. Karena, ketika ditanya bagaimana akhlak Rasulullah ﷺ ? jawaban Sayyidah Aisyah RA adalah “Akhlak Nabi Allah adalah Al-Qur’an”. Rasulullah ﷺ pernah mengadu kepada Allah SWT dan diabadikan dalam Al-Quran Surat Al-Furqon: 30 “Dan Rasul (Muhammad) berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur`an ini diabaikan”. Meski Al-Qur’an turun 14 abad yang lalu, namun peristiwa yang sama selalu terulang yaitu pengabaian umat terhadap Al-Qur’an.
Salawat kebangsaan yang diangkat untuk menumbuhkan cinta tanah air, sejatinya bertentangan dengan prinsip Islam yang tidak mengenal sekat negara bangsa. Islam satu dan tidak terbatas wilayah. Kepedulian kita terhadap saudara-saudara kita di Kalimantan dan NTT seharusnya tidak berbeda dengan kepedulian kita terhadap saudara kita dipalestina dan negara-negara lain. Karena Islam satu tubuh dimanapun kapanpun.
Meneladani Nabi ﷺ Syarat Beramal
Sudah menjadi kewajiban kita umat Islam, terutama para ulama dan orang-orang berilmu untuk mengembalikan makna ittiba’ (meneladani) Rasulullah ﷺ sebagai keterikatan pada syariat dan metode perjuangan Nabi. Bukan sekadar ritual apalagi pilihan semata. Kewajiban untuk selalu terikat pada hukum syara’ dalam segala aktivitas telah dicontohkan oleh Nabi ﷺ. Karena syarat diterima amal tidak hanya terletak pada benarnya niat tapi juga benarnya amal tersebut.
Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang (TQS. Ali Imran: 31).
Penerapan sistem Kapitalisme-sekuler di negeri-negeri Muslim saat ini mewajibkan umat Islam bersatu, memperjuangkan penerapan syariat kaffah melalui kepemimpinan Islam (Khilafah) sebagaimana dakwah yang dicontohkan Rasulullah di Makkah. Menyadarkan umat terhadap rusaknya sistem jahiliyah dan merubahnya dengan Islam. Salawat akan bermakna dalam manakala ada keselarasan antara kecintaan kepada Nabi ﷺ melalui lantunan salawat dan keinginan terhadap penerapan Islam secara kaffah. Allah SWT memperingatkan hamba-Nya dalam Firman-Nya:
“Sesungguhnya orang-orang yang ingkar kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membeda-bedakan antara (keimanan kepada) Allah dan Rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan, “Kami beriman kepada sebagian dan kami mengingkari sebagian (yang lain),” serta bermaksud mengambil jalan tengah (iman atau kafir), merekalah orang-orang kafir yang sebenarnya. Dan Kami sediakan untuk orang-orang kafir itu azab yang menghinakan” (TQS. An-Nisa:50-51).
Berdasarkan riwayat sahih, metode perjuangan Rasulullah ﷺ ditempuh melalui tiga tahapan (marhalah), pertama, pembinaan terhadap umat (tatsqif) untuk menjadi agen perubahan yang akan membina umat kembali. Kedua, tafa’ul ma’al ummah (berinteraksi dengan umat) untuk memahamkan Islam, melalui dakwah dan seruan. Ketiga, istilamul hukmi (penerimaan dan penerapan kekuasaan Islam) sebagai penjaga syariat Islam. Dengan metode inilah kehidupan Islam akan tegak kembali seperti yang pernah tegak di Madinah kala itu, Rasulullah tidak hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak melainkan sebagai sebagai rahmat bagi seluruh alam dengan penerapan Islam secara kaffah. “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (TQS. Al-Imron:107).
Views: 0


Comment here