Opini

Penghapusan Sejumlah Prodi, Kebijakan Anomali Penghasil Mental Buruh?

Bagikan di media sosialmu

Oleh: Nur Hajrah MS

Wacana-edukasi.com, OPINI–Dunia pendidikan kembali dihebohkan dengan pernyataan yang disampaikan oleh Sekjen Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiksaintek), Badri Munir Sukoco dalam kegiatan Simposium Nasional Kependudukan 2026. Beliau menyampaikan terkait rencana penutupan program studi di perguruan tinggi yang tidak relevan dengan kebutuhan industri di masa depan. Selain itu berdasarkan data Kemdiksaintek, perguruan tinggi di negeri ini meluluskan sekitar 1,9 juta generasi muda setiap tahunnya. Namun angka ini tidak mampu memenuhi kebutuhan lapangan kerja karena jurusan para lulusan muda yang tidak sesuai dengan kebutuhan lapangan (Kompas.com, 27/4/2026).

Tidak hanya itu, pemerintah juga mengajak pihak kampus untuk memperkenalkan khususnya terkait delapan industri strategis yang telah ditetapkan oleh pemerintah dengan tujuan menyelaraskan lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan lapangan.

Kurikulum Mental Buruh?

Pada dasarnya, kurikulum perguruan tinggi saat ini mengikuti kebutuhan industri. Itulah mengapa kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) nampak fokus untuk mencetak tenaga kerja yang siap pakai dibandingkan mencetak generasi pemikir atau para ahli yang siap membangun negerinya. Hal ini sejalan dengan pernyataan Sekjen Kemdiksaintek dan ketetapan pemerintah terkait delapan industri strategis.

Hal ini tentu mengundang pertanyaan, mengapa pemerintah tidak fokus memperbaiki kualitas perguruan tinggi dan setiap program studinya? Bukankah negeri ini tidak sepenuhnya tentang dunia industri saja? Mengapa justru mengambil langkah yang seolah-olah negeri ini hanya membutuhkan ilmu terkait industri?

Maka tidaklah heran jika perguruan tinggi saat ini justru dijadikan sebagai wadah untuk mencetak generasi bermental buruh bukan sebagai wadah mencetak generasi penerus bangsa yang gemilang, dengan kualitas SDM yang kompeten dan berdaya saing, serta siap dan layak dalam pelayanan untuk masyarakat dan peradaban. Belum lagi biaya pendidikan di perguruan tinggi saat ini terbilang cukup mahal yang membuat tidak semua kalangan bisa merasakan bangku pendidikan tersebut.

Hal ini bisa terjadi ketika suatu negara telah condong pada sistem kapitalisme sekuler, sistem yang memisahkan agama dari kehidupan. Itulah mengapa suatu negara yang berlandaskan pada sistem tersebut tidak lagi memandang ilmu pengetahuan sebagai suatu kebutuhan untuk membangun peradapan yang gemilang. Melahirkan generasi dengan kualitas SDM terbaik, generasi yang bertakwa dan berahlak sesuai aturan agama maupun norma-norma yang berlaku di tengah-tengah masyarakat. Justru sistem tersebut membuat para kapitalis kian beringas untuk mencapai tujuannya, dunia pendidikan pun tak luput dari targetnya untuk dijadikan ladang materi.

Indonesia adalah salah satu negara yang kaya akan sumber daya alamya. Sayangnya, kekayaan ini justru sebagian besar dikelola oleh pihak asing. Lalu tinggallah anak negerinya dipersiapkan untuk menjadi budak para kapitalis. Negeri ini pun tidak kekurangan orang pintar yang siap mengelola SDA tersebut, hanya saja mereka tidak didukung dan diapresiasi di negeri ini. Contohnya saja salah satu putra bangsa Aryanto Misel, beliau berhasil mengembangkan apar (alat pemadam api ringan) dari bahan kulit singkong. Sayangnya hasil inovasinya tersebut justru ditolak di Indonesia dan pada akhirnya hak paten apar tersebut kini menjadi milik Jepang. Selain itu beliau juga pernah mengembangkan alat yang disebut Nikuba, alat untuk merubah air menjadi bahan bakar. Sayangnya alat tersebut tidak mendapat apresiasi di negeri ini, justru alat tersebut menarik perhatian salah satu distributor mobil di Italia.

Ya, beginilah penampakan jika suatu kebijakan terlahir dari adanya kepentingan tertentu. Bangsa ini bahkan kehilangan jati dirinya khususnya dalam dunia pendidikan hanya karena untuk memenuhi kebutuhan pasar industri. Lantas inikah wajah menuju Indonesia Emas 2045? Bervisi menjadi negara maju namun generasinya dirancang bermental buruh?

Islam Sumber Solusi 

Cara pandang kapitalisme sekuler tentu sangat jauh berbeda dengan Islam dalam membentuk generasinya. Islam hadir di dunia ini bukan hanya sebagai agama yang mengatur urusan spritual umatnya. Justru Islam juga hadir sebagai penyempurna aturan, dari bangun tidurnya manusia sampai aturan dalam membangun negara semua telah diatur begitu sempurna dalam Islam, firman Allah Swt. yang artinya, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. Tetapi barang siapa terpaksa karena lapar bukan karena ingin berbuat dosa, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (TQS. Al-Ma’idah Ayat 3).

Begitu halnya dalam pendidikan, negara dalam Islam yang bertanggung jawab penuh untuk mengurusnya. Negara yang berhak membuat visi dan misi serta kurikulumnya dengan tetap berlandaskan pada akidah Islam. Negara pula yang paling berhak untuk menentukan SDM dan pendidikan apa saja yang dibutuhkan oleh negaranya, demi kemaslahatan seluruh masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan. Bukan ditentukan oleh kebutuhan industri apalagi industri yang dikelola oleh pihak asing.

Tidak hanya itu, negara dalam Islam sangat memperhatikan generasi penerusnya. Negara bertanggung jawab penuh memastikan bahwa generasinnya bisa merasakan bangku pendidikan bahkan hingga ke perguruan tinggi dengan biaya yang murah dan atau gratis serta dengan kualitas terbaik. Semua ini dilakukan oleh negara tidak hanya untuk melahirkan generasi yang gemilang dengan kemampuan SDM yang kompeten pada bidangnya masing-masing, namun yang terpenting dari semua itu bagaimana negara berhasil membentuk generasinya dengan kepribadian Islam yang bertakwa kepada Allah Swt. serta generasi yang terlahir dengan pemikiran yang cemerlang. Semua ini hanya bisa terwujud dalam naungan negara Islam (Daulah Khilafah), negara yang berlandaskan pada penerapan syariat Islam secara kaffah.

Wallahu a’lam bishawab.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 1

Comment here